Like Fanpage Bang Syaiha

Menulis sebagai Terapi Beragam Penyakit Jiwa

By Bang Syaiha | Friday, 20 May 2016 | Kategori:

Menulis sebagai terapi beragam penyakit jiwa, Menulis banyak manfaatnya, Pak Habibie depresi dan menulis, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

Katanya, menulis itu adalah terapi yang baik untuk mengatasi masalah kejiwaan yang melanda seseorang. Misalnya, kalau lagi patah hati, depresi, atau galau tingkat tinggi (ini penyakit jiwa juga, kan?), maka menulislah. Tuangkan kegalauan itu dalam bentuk paragrap dan kalimat.

Alangkah lebih baik lagi jika kegalauan itu dijadikan cerita fiksi. Bumbui dengan konflik yang lebih rumit, masukkan beberapa karakter khayalan, dan dramatisirlah agar lebih menggigit.

Jika ini yang dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan loh, kalau nanti tulisan itu menjadi bagus sekali dan siapa tahu malah bisa dijual dan menghasilkan materi.

Menulis adalah terapi yang baik ketika jiwa mengalami kesepian dan merana berkepanjangan.

Pak Habibie misalnya, ketika ditinggal pergi oleh ibu Ainun yang telah lama menemani, ia memilih menulis. Padahal, dokter pribadinya sudah angkat tangan. Berkata: “Pak Habibie sangat terpukul. Jiwanya goyah. Ia akan menjadi gila dan tidak bisa disembuhkan.”

“Pilihannya hanya dua, menerima hal itu (menjadi gila) atau cobalah menuliskan semua kenangan yang telah dilewati bersama?”

Kita tahu pak Habibie cerdas. Ia mengambil pilihan yang tepat, menulis.

Dan kita semua tahu ujung kisah ini, buku itu menjadi best seller. Dibaca oleh banyak orang dan bahkan sampai difilmkan. Terlepas dari kenyataan bahwa pak Habibie adalah tokoh nasional dan menginspirasi, keputusannya menulis adalah pilihan paling bijak.

Hasil tulisannya juga bagus. Bukti bahwa orang-orang yang mengalami tekanan dan depresi bisa menghasilkan tulisan yang lebih menggigit.

Salah satu teman blogger saya yang lain, usianya bahkan sudah berkepala 7! Tahun ini bahkan beliau berusia 73 tahun. Di masa senjanya ini, bukannya meredup, ia malah selalu bisa menghasilkan sebuah tulisan yang renyah dan menggugah. Hampir selalu ada postingan baru setiap harinya di laman blognya.

Bagi saya, dengan usia yang sudah tidak muda lagi, bisa menulis setiap hari di blog dan mempostingnya, itu adalah hal yang paling menakjubkan.

Luar biasa lah pokoknya!

Dan ketika saya tanyakan: “Bagaimana bisa melakukan semua itu?”, beliau bilang, “Menulis membuat saya bahagia, Bang Syaiha. Saya sempat mengalami gejala Post Power Syndrom ketika baru pensiun. Nah, ketika mengenal dunia blogging dan mencoba menulis, gejala itu hilang.”

“Sekarang, saya bahagia sekali bisa menulis disini, di blog.”

Sekali lagi, jadi telah terbukti benar, bahwa menulis bisa mengobati banyak penyakit kejiwaan: galau, depresi, minder, dan sebagainya.

Saya pun sebenarnya demikian. Beberapa tahun lalu, sebelum mengenal blog dan mulai menulis, saya sering mengalami hal ini: merasa nggak bisa melakukan apa-apa, merasa negatif (karena kaki kanan saya polio sejak kecil), dan sebagainya.

Bagaimana tidak! Kemana-mana saya harus minta tolong dianterin karena nggak bisa mengemudikan motor (Alhamdulillah sekarang ada ojeg online dan saya jadi mudah kemana-mana), nggak bisa mengangkat yang berat-berat, dan nggak bisa jalan jauh karena mudah lelah.

Saya merasa minder dan nggak tahu harus bagaimana.

Hingga ketika mulai blogging dan berbagi melalui tulisan, saya mengalami perubahan. Drastis! Sekarang, saya merasa bahwa hidup saya berguna, bisa diandalkan, dan tidak hanya merepotkan orang lain.

Saya bisa hidup di atas kaki sendiri dan tidak hanya berpangku tangan.

Ketika awal-awal ngeblog, saya hanya menuliskan apa saja yang saya alami setiap hari: susah naik angkot karena penuh sesak, kelelahan karena harus ke suatu tempat, dan lain-lain.

Maka dulu, tidak mengherankan jika ada teman saya yang nyeletuk, “Awas, jangan banyak cerita ke Bang Syaiha. Nanti, tahu-tahu kisah kita akan nongol di blognya!”  

Entalah ke arah mana maksud kalimat itu. Saya tidak paham. Sebuah ejeken, penyemangat, senang, tidak suka, atau apa? Saya tidak peduli.

Karena memang waktu itu saya demikian. Ketemu dengan teman lama, maka malamnya akan ada tulisan tentangnya. Bercengkerama dengan sopir kendaraan umum, maka beberapa jam kemudian ada di dalam rumah maya saya.

Blog benar-benar menjadi seperti buku catatan harian saja. Saya tidak pernah menulis kecuali apa yang saya alami, saya dengar, dan saya rasakan.

Jika hal yang akan saya tulis adalah sesuatu yang tidak layak dan memalukan, maka saya buat dalam bentuk cerpen, puisi, atau cerita mini lainnya. Saya buat ia seperti fiksi. Agar orang lain tidak sempat memikirkan bahwa itu sejatinya adalah benar-benar nyata.

Kebiasaan menulis di blog ini, lambat tapi pasti memberikan banyak keuntungan buat saya, misalnya: saya diundang ke beberapa seminar sebagai narasumber, bisa menghasilkan sebuah buku, diliput televisi nasional, memenangi satu dua lomba blogging dan lomba menulis, serta masih banyak lagi.

Dari beberapa pencapaian ini, pandangan negatif ke diri sendiri lama-lama berubah. Ternyata saya bisa melakukan ini dan itu juga, toh? Alhamdulillah. Doakan saja, semoga saya bisa terus menulis dan berbagi apa saja disini.

Buat teman-teman, apapun profesi kalian, cobalah menulis. Buat blog, isi dengan kisah sendiri, dan bagikan kepada orang-orang.

Kita tidak pernah tahu loh kebaikan akan datang dari pintu mana menghampiri kita. Maka membiasakan diri menulis di blog, barangkali bisa menjadi sebuah pintu yang baik. Karena semakin banyak pintu yang kita sediakan, maka kebaikan akan mudah datang menjelang.


Demikian. 

1 komentar:

avatar

Menulis untuk berbagi cerita, pengalaman dan kebaikan. Menginspirasi. Semoga menjadi sumber mata air yg terus mengalirkan kebaikan.


EmoticonEmoticon