Like Fanpage Bang Syaiha

Pelajaran dari Yunus yang Ditelan Ikan Besar

By Bang Syaiha | Monday, 30 May 2016 | Kategori:

Pelajaran dari Yunus yang Ditelan Ikan Besar, Kisah Nabi Yunus, Ikan Besar, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/
Pelajaran dari Yunus yang Ditelan Ikan Besar
Sudah tercatat dalam lembaran sejarah, bahwa dulu, nabi Yunus pernah tidak dihiraukan oleh ummatnya ketika menjalankan dakwah Allah di muka bumi. Ia menyeru kepada ajaran tauhid, mengajak kepada kebaikan, serta mencegah kemungkaran, tapi tidak digubris kecuali hanya oleh segelintir manusia saja.

Maka, selayaknya manusia, nabi Yunus lalu merasa kecewa dan meninggalkan ummatnya. Ia berkelana, pergi menjauh dari kampung halaman.

Dalam perjalanannya itu, nabi Yunus terpaksa harus menumpang kapal yang hendak menyeberangi lautan luas nan ganas. Kapal yang digunakan pada masa itu, walau (mungkin) sudah paling canggih di masanya, tentu tak secanggih kapal jaman sekarang.

Ia adalah kapal dengan peralatan seadanya dan rentan terkena bahaya. Bahkan, seandainya pun kapal itu secanggih kapal Titanic, tapi kalau Allah hendak menenggelamkannya, maka tenggelamlah ia. Bagi Allah semuanya mudah saja.

Malang memang tidak bisa ditolak. Malam itu, kapal yang ditumpangi Yunus terombang-ambing di lautan lepas. Konon, menurut kapten kapalnya, mereka kelebihan muatan dan dengan terpaksa harus melemparkan beberapa orang ke laut agar kapal tidak karam.

Mengorbankan beberapa orang demi keselamatan orang yang lebih banyak memang terkadang perlu dilakukan jika sudah tak ada jalan keluar.

Tidak ada orang yang dengan rela hati mengajukan diri menjadi orang yang harus dilemparkan ke laut. Sehingga, untuk menentukan siapa yang akan dilemparkan itu, disepakatilah untuk melakukan undian. Mereka menuliskan nama masing-masing pada secarik kertas, lalu mengundinya secara acak.

Nanti, nama yang keluarlah yang harus rela dilempar ke lautan. Yunus, mengikuti semua kesepakatan yang sudah ditetapkan. Ia menuliskan namanya, lalu menyerahkan kepada sang kapten.

Undian dilakukan, nama Yunus keluar. Orang-orang lalu saling pandang, “Bagaimana ini? Akankah kita melemparkan Yunus ke lautan?” begitu pandangan mata mereka berujar.

Bagaimanapun, Yunus adalah orang besar pada masanya. Sehingga orang-orang merasa segan, lalu meminta undian diulang.

Dua kali undian terlempar, sekali lagi, tetap saja nama Yunus yang keluar. Orang-orang masih sungkan dan memutuskan untuk melakukan undian ulangan.

Tiga kali undian, masih nama Yunus yang terlempar. Maka, dengan berat hati Yunus pun dibuang ke lautan. Kemudian, kita semua tahu kelanjutan ceritanya, bahwa nabi Yunus ditelan ikan besar. Ia berada di dalam perut ikan itu, mengalami kegelapan, pengap, dan pasti bau amis yang menyengat.

Nabi Yunus berdoa, meminta ampun kepada Allah, dan kemudian Allah menerima taubat nabi Yunus dan ia pun diselamatkan.

Sahabat, tentu saja ini kisah yang familiar di telinga kita. Kisah ini sudah diperdengarkan sejak kita masih belia dulu.

Dan dari kisah hebat ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, salah satunya: jika kita sudah masuk ke dalam sebuah lembaga apapun, maka kita wajib mengikuti semua aturan dan kesepakatan yang ada. Nabi Yunus contohnya, ia adalah orang besar pada masa itu, tapi ketika kapal yang ia naiki harus melakukan undian, ia juga ikut. Bahkan ketika namanya keluar, ia rela dilemparkan.

Pun begitu dengan kita, ketika sudah dengan sadar masuk ke dalam sebuah lembaga organisasi, maka kita wajib menjunjung tinggi peraturan yang sudah disepakati. Mengikuti semua peran yang diberi.

Ketika ikut gerakan One Day One Post (ODOP) misalnya, maka kita harus rela terikat dengan aturan yang sudah disepakati. Atau, saat kita bergabung dengan organisasi apa saja, entah itu FLP, Karang Taruna, Komunitas Potograpi, BEM, DPM, lembaga dakwah kampus, atau apapun, maka patuhilah peraturannya.

Tidak ada paksaan untuk memasuki sebuah organisasi, kita yang memilihnya dan bergabung dengan akal yang sesadar-sadarnya, maka itu sama saja kita menandatangi sebuah kontrak “Saya akan mengikuti semua aturan dan kebijakan yang ada di organisasi ini!”

Janji ini kuat. Kita harus menepatinya.

Nah, maka, jika ingin memasuki sebuah organisasi, pikirkan lagi, apakah anda bisa mengikuti semua aturannya atau tidak. Jika bisa, bergabunglah. Jika merasa berat, maka keluarlah. Jangan menjadi beban pada sebuah organisasi. Boleh aktif dimana-mana, tapi jangan membebani.  


Demikian. 


EmoticonEmoticon