Like Fanpage Bang Syaiha

Pendidikan Islami ala Rasulullah

By Bang Syaiha | Tuesday, 24 May 2016 | Kategori:

Pendidikan Islami, Pendidikan Rasulullah, bagaimana membentuk umat terbaik, Bang Syaiha, http://www.bangsyaiha.com/

Ini adalah catatan lanjutan dari: Guru Tuh Seharusnya.. 
.
.
.
.
.
Pilihlah Guru Karena Panggilan Jiwa, Bukan Karena Gaji Semata

Keikhlasan adalah kunci dari setiap aktivitas. Apalagi bagi seorang guru. Dia yang mengajar dengan ikhlas dan tulus, akan jauh sekali bedanya. Siswa di kelas, secara tidak langsung juga pasti merasakan..

...mana guru yang tulus menyampaikan materi pelajaran dengan mana guru yang hanya menggugurkan kewajiban saja.

Dan kita semua sepakat, bukan? Bahwa untuk menghasilkan lulusan terbaik, maka guru yang mengajar adalah mereka yang memiliki panggilan jiwa ke arah sana. Bukan orang-orang yang terpaksa.

Karena hal itulah, maka bagi saya, memilih guru itu bukan karena ia lulusan pendidikan dan bergelar S.Pd saja. Jauh lebih penting adalah, pilihlah mereka yang memang benar-benar ingin mengabdi dan berbagi.

Pilihlah mereka yang memang terpanggil jiwanya untuk ikut membantu memperbaiki bangsa dan negara.

Orang-orang seperti ini akan mengajar anak-anak kita dengan kesungguhan. Tidak main-main dan selalu menyenangkan.

Buat Kurikulum Sebagai Kebutuhan

Jika kita bertanya ke anak-anak kita, “Apakah hal paling berat dan tidak kalian sukai di sekolah?”

Maka barangkali, jawaban mereka begini: “Kami tidak suka sekolah karena pelajarannya banyak. Susah dan membingungkan.”

Belum lagi ketika mereka menemukan sebuah fakta bahwa ternyata, pelajaran yang banyak itu, nanti, sebagian besar tidak mereka gunakan dalam kehidupan dan dunia kerja.

Seharusnya, ini menurut saya, kurikulum itu tidak dibuat di nasional. Tapi serahkan kepada dinas pendidikan masing-masing daerah. Biarkan setiap propinsi merancang sesuai kebutuhan dan kekhasan wilayah mereka.

Sejak SMA sederajat, sekolah seharusnya sudah dijuruskan sesuai minat. Tidak hanya IPA dan IPS saja. Itu terlalu umum!

Tapi seharusnya ada jurusan: peternakan, perkebunan, pertanian, kerajinan dan kesenian, administrasi dan perkantoran, perikanan dan kelautan, biologi, Matematika, Fisika, bisnis dan keuangan, serta banyak lagi.

Saya membayangkan, pasti luar biasa jika setiap daerah punya sistem pendidikan masing-masing. Punya keunggulana masing-masing. Misalnya: kalau mau belajar tentang peternakan sapi dan seluk beluknya, silakan ke Boyolali.

Jika ingin bersekolah dan mendalami ilmu perkebunan silakan ke Sumatera atau Kalimantan. Mau mengerti tentang pertanian silakan ke Jawa Barat.  

Guru-guru yang mengajar disana adalah guru-guru terbaik: ilmu dan akhlaknya. Sehingga moral dan sikap anak-anak akan bisa dikendalikan demi kesejahteraan hidup Indonesia.

Benar, bahwa semua jurusan itu ada di kuliah. Tapi bagi saya belum cukup. Akan lebih powerful jika sistem kuliah itu dimulai sejak SMA. Mereka dibagi sesuai keinginan dan minatnya.

Ajarkan Ilmu Secara Bertahap

Kembali ke ayat di awal tulisan ini: “Kalian adalah umat terbaik...”

Jika kita mau berpikir sejenak, bagaimana Rasulullah bisa menghasilkan orang-orang hebat seperti para sahabat? Jawabannya adalah:

...Rasulullah mengajarkan ilmunya sedikit demi sedikit. Pelan-pelan.

Buktinya ayat Al Quran diturunkan tidak sekaligus. Tapi diberikan sesuai kebutuhan. Ketika di masyarakat ada problematika yang mengganggu dan butuh solusi, barulah diberikan ayat Al Quran. Menjawab apa yang sedang menjadi permasalahan.

Ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa mendidik anak-anak haruslah sesuai kebutuhan zaman. Sesuai apa yang sedang diperlukan.

Kita harus bisa menghasilkan generasi yang mampu bertahan di tengah hiruk pikuknya permasalahan, maka buatlah mereka tangguh. Berikan apa-apa yang memang mereka butuhkan saja dan jangan berlebihan.

Sekarang jaman digital, maka seharusnya pelajaran IT ada dan malah diperbanyak. Eh, pemerintah malah menghilangkan. Memasukkan pelajaran IT di setiap mapel yang lain.

Duh!

Beri Teladan yang Tepat

Untuk poin ini, sepertinya kita semua sudah paham. Bahwa teladan adalah kunci utama keberhasilan sebuah pendidikan.

Akhlak dan kebaikan Rasulullah tidak perlu dipertanyakan. Lihat saja, beliau sampai rela menyuapi seorang pengemis tua Yahudi di pinggiran pasar. Padahal, tuh pengemis saban hari menghina dan mencaci maki beliau.

Bayangkan begini..

Ada seorang pengemis yang kelaparan dan buta. Melihatnya kita iba. Lalu, kita berbaik hati dan memberinya makan. Eh, pas lagi makan malah ia menghina-hina kita dengan hinaan yang mengerikan.

Kita dibilang orang gila, tukang fitnah, suka mengganggu, dan sebagainya. Semua hinaan itu disampaikan dengan sungguh-sungguh. Si pengemis juga adalah orang normal (tidak gila). Sadar-sesadarnya akan apa yang dikatakan.

Jika di posisi demikian, apakah kita bisa bertahan tetap berbuat baik dan memberinya makan setiap hari?

Saya pribadi, sepertinya tidak tahan. Boleh jadi malah saya labrak tuh orang. Dasar nggak tahu diuntung.

Rasulullah adalah guru bagi umatnya kala itu. Ia mengajarkan banyak ilmu dan kebaikan. Dan luar biasanya, semua disampaikan hanya setelah Rasulullah mencontohkan.

Ini bukti keteladan. Penting sekali ada pada seorang guru.

Buat Kelas yang Nyaman

Bagaimana Rasulullah melakukan pendidikan kepada para sahabat ketika itu?

Begini..

Mereka berkumpul di sebuah rumah. Duduk di lantai dan melingkar. Membuka pembelajaran dengan mengingat betapa banyak kenikmatan yang sudah Allah berikan. Dalam kelas itu, Rasulullah sangat santun. Tidak bosan tersenyum dan sering memuji siswanya yang hadir (baca: sahabat Rasulullah).

Ali adalah gerbangnya Ilmu. Tidak ada yang lebih baik selain dia. Abu Bakar adalah orang yang nanti bisa masuk ke dalam surga dari pintu mana saja.  Umar adalah orang paling kuat dan pemberani. Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang paling mengerti Al Quran.

Semuanya dipuji berdasarkan bakat dan keahlian masing-masing.

Amboi, maka nyaman sekali kelas itu.

Pembelajaran di kelas dibuka dengan membahas ayat-ayat Allah: bisa tentang alam, kehidupan sosial, keluarga dan rumah tangga atau apa saja.

Semua yang dibahas adalah apa-apa yang memang sedang tren dan menjadi pembicaraan masyarakat. Sehingga semua yang hadir akan fokus mengikutinya. Mereka sadar bahwa ilmu yang sedang dibagikan adalah bekal yang baik untuk menjawab tantangan di masyarakat.

Nah, jika semua hal di atas ada di sistem pendidikan kita, maka saya yakin sekali, Indonesia pasti akan kembali disegani.

Pilihkan guru yang tidak hanya pintar, tapi juga baik akhlaknya, pilihlah orang yang memang benar-benar mau mengajar dengan ikhlas, ajarkan pelajaran secara bertahap dan pelan-pelan, ciptakan kelas yang menyenangkan, serta berikan keteladanan.


Demikian. 


EmoticonEmoticon