Like Fanpage Bang Syaiha

Bagaimana Sekolah Seharusnya

By Bang Syaiha | Tuesday, 21 June 2016 | Kategori:

Bagaimana Sekolah Seharusnya, Kecerdasan Majemuk, Kecerdasan anak, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/
Bagaimana Sekolah Seharusnya
Bumi dan langit gempar saat si raja hutan yang terkenal diktator mengumumkan sesuatu: “Wahai rakyatku!” teriaknya sambil berkacak pinggang. Ia mengedarkan pandangan ke semua hewan yang hadir, “Dunia hewan terus berubah dan persaingan semakin hari semakin ketat.”

Hewan-hewan yang berkumpul di tanah lapang diam. Mendengarkan penuh khidmat.

“Oleh karena itulah, kita, mau tidak mau harus berbenah..” si raja hutan melanjutkan, “Kita mesti meningkatkan kualitas menjadi lebih baik.” 

Sekarang, tiga empat suara mulai mendengung, membenarkan apa yang baru saja dikatakan raja mereka. Sedangkan bagi mereka yang tidak berani menggerakkan lisan, hanya menganggukkan kepala saja. Menyetujui apa yang baru saja dikatakan raja mereka.

“Benar, kita memang harus melatih kemampuan kita menjadi lebih baik!” ujar si Rusa. “Beberapa hari lalu, salah satu dari koloni kami mati di terkam singa dari hutan sebelah. Ia memang terkenal lamban berlari, sehingga singa mudah saja menerkamnya.”

“Kita harus meningkatkan kemampuan kita. Saya dan teman-teman memang harus berlatih lari setiap hari!” kata si Rusa lagi. Kali ini bahkan ia menggerakkan-gerakkan keempat kakinya, persis seperti orang yang sedang melakukan pemanasan.

Lain lagi dengan si ikan di pinggir danau yang menghadiri pertemuan itu. Ia bilang, “Seminggu yang lalu, kelompok kami juga mati diserang ikan yang lebih besar dari kerajaan sebelah.”

“Saudara kami yang mati itu berenangnya memang tidak bisa diandalkan. Pelan sekali. Selama ini ia memang malas-malasan berlatih berenang dan lebih suka diam.”

“Rakyatku..” suara sang raja hutan kembali menggema, “kerajaan-kerajaan dari hutan lain semakin beringas dan mengerikan. Maka jika kita tidak segera melakukan perbaikan, aku takutkan kita akan binasa dan mudah dikalahkan.”

“Benar.. Benar..” ramai hewan-hewan menjawab.

“Sepakat.. Sepakat.. Kita memang harus berbenah menjadi lebih baik,” kali ini, semua yang hadir berani berteriak.  

“Lalu baginda raja,” semut kecil yang berdiri paling depan memberanikan diri berkata, “bagaimana caranya kita meningkatkan kemampuan kita menjadi lebih baik?”

Si raja hutan melihat ke arah sumber suara dan kemudian terkekeh, “Pertanyaan yang bagus wahai semut kecil, bagaimana caranya kita meningkatkan kemampuan kita? Tenang.. aku sudah memikirkannya: kita akan membuat sekolah keterampilan.”

Sebuah penjelasan yang kemudian disambut dengan tepuk tangan.

“Sekolah ini akan mengajarkan semua jenis keterampilan kepada semua hewan yang ada di kerajaanku. Setiap hewan harus bisa berenang, berlari kencang, memanjat pohon yang rindang, sekaligus bisa terbang.”

Kali ini semua diam. Apa yang baru dijabarkan oleh raja mereka, ternyata berbeda sekali dari yang mereka bayangkan.

Sebelumnya, mereka berpikir bahwa setiap hewan akan dilatih sesuai bakatnya masing-masing. Rusa dilatih agar bisa berlari lebih cepat dan awas, ikan digembleng agar bisa berenang lebih lincah, elang dibina untuk terbang dan menyambar.

Tapi mereka salah. Ternyata raja hutan meminta setiap hewan untuk bisa menguasai semua keterampilan hewan: berenang, terbang, memanjat pohon, dan berlari kencang.

“Tapi sang raja, bagaimana mungkin kami bisa melakukan itu semua?”

Si raja hutan kembali terkekeh, ia mengelus-ngelus pakaian kebesarannya dan berkata, “Tenang.. tenang..” suasana kembali sedikit lebih diam, “Aku sudah memilih guru-guru paling hebat di setiap keterampilan. Dan di bawah asuhan mereka, kalian pasti bisa menguasai semua keahlian yang akan diajarkan!”

Tidak ada yang berani menyela ketika kemudian si raja hutan berkata lantang, “Bukankah menakjubkan kalau rusa bisa berlari kencang, mampu berenang, dan dapat terbang? Ia tidak akan lagi menjadi mangsa singa atau harimau dari kerajaan tetangga!”

“Bahkan, jika semua itu terwujud, maka kitalah yang akan semakin berkuasa!”

Sore itu, sebuah keputusan besar kemudian diambil. Di kerajaan mereka akan dibangun sekolah keterampilan. Semua hewan yang ada pada daerah kekuasaan si raja hutan tadi, diwajibkan mengikuti pembelajaran disana.

Sebulan dua bulan, sekolah memang berjalan baik dan menyenangkan. Mereka berkumpul, berdiskusi dan saling berbagi. Setiap hewan, kini memiliki pengetahuan tentang beragam keterampilan yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

Hanya saja, masalah mulai terlihat ketika ujian praktik diadakan.

Rusa yang sebelumnya mahir sekali berlari kencang, harus mengikuti ujian berenang dan terbang. Ia dijeburkan di sungai dan diminta menyeberangi sungai itu dengan berenang. Susah payah ia melakukannya. Menelan banyak air, mengalami keram di otot kaki dan paha, serta hampir saja tenggelam.

Walau guru keterampilan berenang berkata, “Kamu harus memperbaiki keterampilan ini!” tapi Rusa bersyukur sekali karena tidak mati.

Masalah belum selesai. Karena ujian berikutnya adalah Rusa harus bisa terbang. Ia diangkut dengan alat bantu menuju pohon yang tinggi sekali. Punggungnya diberi sayap buatan dan kemudian ia diminta terbang.

Ketika pelatih keterampilan terbang berteriak, “Lompat!!” maka Rusa segera melakukannya, melompat dari atas pohon dan harus terbang dengan sayap buatan.  

Ia jatuh bebas. Susah payah ia mencoba menggerakkan sayap agar bisa terbang, tapi tidak pernah berhasil. Rusa kemudian terjerembab di sebuah busa yang memang sudah disediakan di bawah.

“Baiklah Rusa,” kata salah satu guru yang bertugas, “untuk berenang, kamu lulus dengan perbaikan. Tapi untuk keterampilan terbang, sayang sekali, kamu tidak lulus. Kamu harus mengulang dan mengikuti kelas keterampilan terbang tambahan.”

Hari-hari berikutnya, Rusa menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya, untuk berlatih terbang. Sebulan dua bulan, Rusa tidak mengalami peningkatan signifikan. Ia tidak menyerah dan terus berlatih. Kali ini bahkan ia mengikuti les di luar jam sekolah demi sebuah kelulusan.

Ia yang dahulunya mahir sekali berlari kencang, sudah hampir setengah tahun belakangan tidak lagi berlatih disana. Akibatnya, keterampilan terbang tak kunjung didapatkan, malah salah satu bakat alamiahnya (mampu berlari kencang) memudar dan tidak bisa lagi diandalkan.

Tidak hanya rusa. Elang juga mengalami hal yang sama. Ia tentu saja lolos pada keterampilan terbang. Mendapatkan nilai paling baik. Tapi ia tidak berhasil pada keterampilan berlari kencang dan berenang.

Elang menghabiskan waktunya untuk mengikuti les tambahan untuk bisa berenang dan berlari kencang.

Malangnya, itu tidak pernah berhasil. Bahkan beberapa bulan belakangan, elang malah seakan lupa bagaimana caranya terbang yang baik dan menangkap mangsanya di daratan.

*****
Teman-teman sekalian, tentu saja kisah di atas adalah sebuah dongeng yang tidak mungkin ada. Mustahil sekali dong, kalau ada sekolah demikian.

Dijamin tidak akan pernah ada.

Dongeng itu disampaikan pertama kali oleh salah satu ilmuwan di bidang pendidikan, Gardner, pada tahun 1980-an atau malah 1880-an. Saya lupa.

Dan pada tulisan sederhana ini, saya hanya menulis ulang saja dengan bahasa dan gaya saya sendiri tanpa mengurangi isi dan kandungan nilai yang memang sudah ada sejak lama.

Baiklah..

Maksud dari disampaikannya dongeng itu kepada khalayak ramai adalah agar sekolah-sekolah pada masa itu tidak lagi memandang siswa yang mendapatkan nilai rendah sebagai siswa yang bodoh.

Karena, siswa yang mendapatkan nilai tidak bagus itu, boleh jadi terjadi karena beberapa hal: (1) ia sebenarnya memiliki kecerdasan lain yang belum terungkap, (2) sebenarnya ia cerdas, tapi guru yang mengajar tidak kompeten sehingga bakat terpendamnya tidak keluar, atau, (3) siswa itu tidak suka sama sekali dengan materi yang diajarkan.

Dongeng di atas mengarahkan banyak orang untuk sadar bahwa setiap anak sejatinya adalah pintar. Hanya pintarnya mereka berada pada bidang masing-masing, tidak harus sama.

Satu anak boleh saja jago matematika, tapi belum tentu pandai berbahasa. Sebaliknya, anak yang lain mungkin saja ahli bermain kata, tapi malah tidak bisa apa-apa ketika dihadapkan pada soal yang di dalamnya banyak angka-angka.

Setiap anak adalah cerdas. Hanya kecerdasannya saja yang berbeda. Dan ketika kita memaksakan mereka harus bisa ini dan itu (yang belum tentu sesuai dengan kecerdasan mereka), maka yang ada akan sama seperti rusa dan elang tadi.

Mereka sibuk mengikuti banyak tambahan pelajaran dan les, tapi melupakan bakat alami yang ada di dalam dirinya.

Ia jago menggambar, tapi kalau disibukkan dengan les tambahan fisika setiap hari, maka bakat menggambarnya bisa saja hilang dan tenggelam, bukan?

Sekolah seharusnya menjadi wadah buat anak-anak kita untuk mengembangkan bakatnya. Bukan justru membuat mereka tertekan dan kehilangan arah. Sekolah harus mampu mengakomodir beragam kecerdasan yang dimiliki siswa.

Sekolah yang hanya mampu mewadahi satu kecerdasan saja di dalamnya, maka akan mengebiri kecerdasan yang lain. Sekolah seperti ini, boleh jadi hanya akan menjadi seperti penjara buat siapa saja.


Demikian. 

5 komentar

avatar

Wahh benar sekali bang. Kebanyakn sellu di paksa bljr ini itu tnpa mngindahkan bakat yg semula ada

avatar

Analogi yang menarik sekaligus sentilan untuk wajah pendidikan kita saat ini. Tapi bukankah pendidikan kita memang di set untuk gagal bukan untuk sukses?

avatar

Setuju ..
Itu sebabnya ank saya yg lumayan bisa menggambar justru nyahok dlm pelajaran eksak

avatar

saya baca dongeng itu di bukunya ayah edy, melejitkan potensi anak...
biarkan anak berbuah sesuai pohonnya, jangan.sampai ia pohon jambu tp dipaksa berbuah manggis


EmoticonEmoticon