Like Fanpage Bang Syaiha

Dua Permasalahan Pendidikan Indonesia

By Bang Syaiha | Tuesday, 7 June 2016 | Kategori:

Permasalahan pendidikan Indonesia, Sekolah dan problematikanya, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/

Pendingin ruangan kuliah sederhana itu mendesing pelan. Tapi, kerana begitu heningnya suasana ruangan, maka desingan itu menjadi sangat kentara di telinga-telinga kami, mahasiswa pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.

Dua puluh satu pasang mata sempurna memperhatikan sang dosen berujar, “Permasalahan pendidikan di negeri ini sebenarnya hanya dua,” katanya, “Yah, paling tidak itu dua masalah yang seharusnya diperbaiki.”

Kami semakin hening mendengarkan, menunggu sang dosen melanjutkan celotehannya.

“Pertama..” dosen itu menegaskan, “Sekolahrisme.. Atau, kita kita biasanya menyebutnya dengan formalisme!”

Beberapa orang mencatat setiap ucapan dosen dengan baik. Termasuk saya. Bagi saya, ilmu itu seperti ikan yang berenang bebas di lautan, jika tidak ditangkap, maka ia akan tetap saja berenang sekenanya, kesana-kemari.

Kita membutuhkan jaring untuk menangkapnya. Nah, ilmu juga begitu, jika ia umpama ikan di lautan, maka mencatat adalah jaring yang akan membuat ilmu diam di kepala dan dicerna di sana.

Sebagian yang lain manggut-manggut saja. Tidak mencatat sama sekali. Tentu saja, setiap orang punya tipe belajar yang berbeda. Mereka mungkin lebih suka mendengarkan, memperhatikan setiap kalimat yang keluar hingga tidak ada yang terlewat.

Otak mereka pasti seperti tape recorder yang siap merekam semua perkataan dosen yang sedang bercerita di depan kelas.

Dosen kembali melanjutkan, “Di Indonesia memang begitu, yang dihargai adalah ijazahnya, jenjang pendidikannya, bukan kualitasnya. Jadi, jika ada orang di luar sana yang pintarnya luar biasa, ahli di bidang tertentu karena belajar otodidak, maka tidak ada gunanya kalau tidak punya ijazah. Lah, mau daftar kerja aja syaratnya jelas, fotokopi ijazah.”

“Padahal yang berijazah juga belum tentu berkualitas. Ijazah saja, kan gampang sekali sekarang mendapatkannya. Asal punya uang saja. Beres.”

Aku menelan ludah sendiri mendengar perkataan dosen yang memang demikian faktanya di lapangan. Tentu saja tidak semuanya begitu, tapi sebagian besar iya. Kuliah cuma semau-maunya yang penting dapat ijazah. Beres.

“Lalu permasalahan yang kedua..” dosen itu melanjutkan, “Linear! Bersekolah di Indonesia harus linear, jika S1 nya adalah ekonomi, maka S2 nya harus ekonomi lagi. S3 nya juga begitu. Jika kuliah di jurusan yang berbeda maka susah diangkat menjadi dosen.”

Kali ini saya benar-benar merasa ditampar, tidak tanggung-tanggung, kiri dan kanan sekaligus. Terhenyak. Saya adalah orang yang tidak linear pendidikannya. S1 saya di IPB jurusan ilmu dan teknologi pangan. Tapi S2, saya banting setir ke manajemen pendidikan.

Saya merasa lebih nyaman dan menikmati kuliah di pendidikan. Karena hal inilah, suatu ketika teman saya sampai ngeledek, “Ente murtad Bang Syaiha!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Murtad kok dijadikan gurauan. Huh!

Tapi biarlah, saya menikmati kuliah di manajemen pendidikan dan akan menjalaninya dengan baik. Mengikuti setiap perkuliahannya dengan antusias dan berusaha semaksimal mungkin.

Seketika, kalimat almarhum ayah saya terngiang-ngiang kembali, “Nak, teruslah menuntut ilmu setinggi-tingginya. Teruslah belajar bukan untuk sebuah pekerjaan, teruslah belajar karena itu perintah Tuhan.”

Saya mengangguk mantap. Dan, lalu melanjutkan menyimak dengan seksama setiap perkataan dari dosen yang saya kagumi itu. Dosen yang sudah menerbitkan buku hingga 20 lebih. Dia dosen, juga seorang penulis.

Dia, juga sama seperti saya, pendidikannya tidak linear, S1 nya Kedokteran Hewan IPB, S2 dan S3-nya Pemikiran Islam di Malaysia.

Maka, mari, teruslah belajar! Bukan karena apa-apa! Hanya agar kita tidak menjadi manusia bodoh saja.


Demikian.


EmoticonEmoticon