Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Anak-Anak Ribut di Masjid

By Bang Syaiha | Friday, 24 June 2016 | Kategori: |

Ketika Anak-Anak Ribut di Masjid, jangan marahi anak yang ribut di masjid, mengajak anak-anak ke masjid, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/
Ketika Anak-Anak Ribut di Masjid
Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah ucapan menarik dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Kata beliau:

“Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya bagitu saja, berarti dia telah melakukan kejahatan yang sangat besar.”

Lebih jauh, Ibnul Qayyim melanjutkan, “Kerusakan pada diri anak, kebanyakan datang karena orang tua meninggalkan mereka begitu saja dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya.”

Ketika menuliskan postingan ini, saya baru saja selesai mengerjakan shalat tarawih di Mushalla dekat rumah dan mendapati anak-anak disana ribut bukan main. Karena hal ini, maka ada ibu-ibu yang sampai menghardik, berkata:

“Kalian pulang saja kalau tidak bisa diam!!” begitu ucapannya. Dibarengi dengan mata yang membulat besar (mungkin) dan tangan yang menunjuk-nunjuk.

Anak-anak yang ribut itu, kemudian diam sejenak untuk kemudian ribut lagi beberapa menit kemudian.

Yang menarik, ketika ribut lagi itu, ada seorang pemuda yang mempunya pendekatan lain. Ia tidak membentak, tidak marah-marah. Tapi ajibnya adalah, empat lima anak yang paling dekat dengan dia menjadi diam dan malah khusyuk mengikuti gerakan imam.

Keributan berkurang, drastis malah.

Saya perhatikan dia pelan-pelan, mengamati apa yang dikerjakan, dan kemudian tersenyum puas sambil bergumam: “Hebat! Keren pedekatenya!”

Apa yang dilakukan pemuda itu?

Pertama, ia mendekati sekumpulan anak-anak yang ribut dan kemudian mengarahkan pandangan kepada mereka. Ia tersenyum tulus dan kemudian bilang, “Hayoo, kalian mau ribut atau mau shalat?”

Tidak ada nada kejengkelan sama sekali. Atau...

...barangkali, kejengkelan pemuda itu ditahan kuat-kuat di dasar hatinya yang paling dalam dan diupayakan agar tidak kelihatan.

Tidak sampai disitu saja. Karena sejurus kemudian, saya melihat pemuda ini kemudian mengusap kepala seorang anak yang paling berpengaruh (semacam kepala gengnya lah..) dan berbisik, “Ayolah, shalat yaa.. kalian nggak mau kan dimarah-marah sama ibu-ibu tadi?”

Anak yang diusap kepalanya itu mengangguk pelan dan langsung berdiri untuk ikut shalat. Empat lima anak yang lain, melihat pimpinan mereka shalat, mau tidak mau mereka ngikut.

Kedua, selesaikah perlakuan pemuda tadi kepada gerombolan anak-anak yang ribut itu?

Aih, ternyata belum.

Karena sesaat setelah shalat, ia kembali mengusap punggung si pemimpin dan mengacungkan dua jempol dengan tulus. Katanya, “Tuh kan, kalian hebat. Bisa tidak ribut dan kemudian ikut shalat.. Keren..”

Ajaib!!

Karena setelahnya, empat lima anak itu kemudian dengan sendirinya mengikuti gerakan imam dan tidak ribut kembali. Bahkan tanpa diminta oleh si pemuda. Tanpa dimarah-marah sama sekali.

Yang masih pemuda itu lakukan adalah, setiap habis shalat, sesaat setelah salam, ia terus saja memuji dengan ikhlas. Bilang mereka hebat lah, mengacungkan dua jempol, mengusap kepala penuh hangat, atau apa saja.

Si pemuda juga, sepengamatan saya, mengajak anak-anak bercengkerama pelan. Menanyakan sekolahnya dimana, kelas berapa, suka main apa, dan sebagainya.

Perlakuan manis yang pemuda itu lakukan, sedikit banyak mampu mengurangi keributan di mushalla. Hanya saja, di sisi lain tempat shalat saya tadi, ada lagi gerombolan anak yang berbeda.

Malangnya, disana tidak ada pemuda seperti yang saya amati sehingga di sisi sebelah sana, keributan masih ada.

Imam berkali-kali bilang sebelum takbiratul ihram, “Anak-anak jangan ribut yaa.. Ikuti shalatnya dengan benar..”

Tapi ya namanya anak-anak, tentu saja tidak mempan dibegitukan. Bukannya diam, mereka malah semakin tidak tertolong. Ribut sekali. Saya bahkan sampai berkali-kali mengusap dada sendiri. Berdoa semoga bisa menjadi ayah yang baik untuk anak saya kelak.

Dua rekaat shalat selesai, anak-anak di sisi sana masih ribut. Tapi kemudian, tanpa saya duga, berjalanlah seorang bapak (kali ini bukan pemuda lagi. Usianya bahkan boleh jadi sudah berkepala lima) menuju kesana.

Ternyata, salah satu anak yang ribut itu adalah anaknya. Ia tarik anaknya untuk berdiri di samping beliau dan kemudian mereka shalat.

Kali ini, keributan bukan hanya berkurang, tapi malah tidak ada sama sekali hingga shalat tarawih dan witir kelar.

Apa pesan yang ingin saya sampaikan dari dua kisah di atas:

Satu: mengajak anak-anak untuk bisa diam di masjid sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang lembut, halus, dan menyenangkan. Jangan dengan membentak, menghardik, apalagi memarahi mereka.

Kita memang tidak suka, jengkel bukan main toh kalau ada anak-anak yang gaduh di masjid. Shalat menjadi tidak khusyuk, bacaan jadi sering keseleo, dan sebagainya.

Tapi mau bagaimana lagi, mereka toh memang anak-anak. Dunia mereka memang begitu.

Mudahnya, coba saja ingat kembali ketika kita kecil dulu. Sebelas dua belas lah yaa.. pasti begitu juga. Malah boleh jadi malah jauh lebih mengerikan daripada itu, tho?

Tapi sekali lagi, memarahi mereka dan meminta mereka diam dengan cara ini, tentu saja tidak memberikan hasil maksimal.

Contohlah pemuda tadi: langkah yang ia lakukan adalah mendekati anak-anak, memasuki dunia mereka, menganggap anak-anak itu teman dan kemudian diajak shalat dengan cara yang menyenangkan.

Dan kalau anak-anak itu berhasil shalat, maka jangan sungkan memberikan pujian. Gampang.. caranya tinggal acungkan jempol, bilang kalimat-kalimat positif semisal, “Kamu hebat euy bisa nggak ribut..” atau “Nah, kan pinter kalau bisa ikut shalat..”

Teman saya yang lain, dulu, ketika kuliah malah dengan sengaja membawa sekotak chocholatos di tas nya. Ketika saya tanyakan untuk apa itu, dia menjawab, “Untuk anak-anak yang saya temui di jalan..”

Benar saja.. ketika saya berjalan dengannya, beberapa kali ia memberi jajanan itu kepada mereka. Yang dilakukan simpel, ia hampiri anak-anak yang ada di masjid dan ikut shalat lima waktu. Ditanya-tanya sejenak (hanya sekedar pedekate saja), lalu diberi hadiah sambil dibilangin, “Shalatnya yang rajin terus yaa..”

Begitulah..

Dua: melalui tulisan ini saya juga ingin mengatakan bahwa sebenarnya mudah saja membuat anak-anak diam di masjid ketika tarawih. Caranya seperti pada kasus kedua: orang tuanya harus bertanggung jawab.

Jadi, kalau anak ke masjid, orang tua juga harus.

Orang tua inilah yang bertugas menjaga anak masing-masing. Sebelum berangkat, nasihati anak-anak kita agar jangan ribut dan gaduh di masjid.

Dan ketika sampai di masjid, ajak mereka berdiri di samping kita dan tidak boleh kemana-mana.

Hanya saja, malangnya, kan sekarang tidak seperti demikian. Orang tua – orang tua banyak yang enggan memberikan ruang untuk anak-anak di barisan kedua dan ketika. Anak-anak malah diletakkan dipaling belakang tanpa penjagaan.

“Anak-anak di belakang yaa.. Yang belum baligh jangan di depan..”

Hadeuh..

Okelah, jika memang anak-anak tidak boleh di depan, maka setidaknya, anak-anak di belakang harus tetap dijaga dengan baik. Jangan dibiarkan begitu saja.

Seperti kalimat Ibnul Qayyim di atas, anak-anak adalah tanggung jawab orang tua, maka jagalah dia. Beri pendidikan yang benar. Awasi ketika di masjid agar tidak mengganggu orang yang sedang menghadap Tuhan.


Demikian. 


EmoticonEmoticon