Like Fanpage Bang Syaiha

Pelajaran Berharga dari Penambang Pasir dan Pemecah Batu

By Bang Syaiha | Monday, 20 June 2016 | Kategori:

Pelajaran Berharga dari Penambang Pasir dan Pemecah Batu, hikmah kehidupan, kisah inspiratif, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/
Pelajaran Berharga dari Penambang Pasir dan Pemecah Batu
Beberapa waktu yang lalu, saya bolak balik dari rumah ke sekolah tempat saya mengajar. Perjalanan itu ditempuh selama satu jam menggunakan motor. Dan sebagai difabel yang tidak bisa mengendarai kendaraan itu, maka saya selalu nebeng ke taman yang searah.

Simbiosis mutualisme lah...

...saya dimudahkan karena tidak perlu naik turun angkot, menjadi lebih cepat sampai, dan mudah. Sedangkan teman saya yang punya motor itu, diuntungkan karena saya lah yang akan mengisi bahan bakarnya selama saya nebeng dengan dia.

Win-win solution.

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol banyak hal. Bertukar pendapat dan saling berbagi ide. Dia bahkan berujar, “Sejak Bang Syaiha nebeng di motor ini, saya menjadi tidak mengantuk lagi di jalan. Jadi enak dan nggak khawatir celaka.”

“Emang biasanya ngantuk?”

“Iya. Apalagi kan bulan puasa tuh. Kurang tidur. Dan ketika di jalan, saya sering menguap-nguap. Kalau kayak gini kan bahaya, bisa kecelakaan saya..”

Kami berdua tertawa.

Tapi, walaupun begitu, tentu saja perjalanan itu melelahkan. Dan karena hal inilah, maka saya kemudian mangkir menulis dalam beberapa hari. Setiap malam selalu kehabisan tenaga dan nggak mood lagi menuangkan ide di blog ini.

Tapi, sekali lagi, selain melelahkan, perjalanan itu juga sebenarnya menyenangkan. Ada banyak hal baru yang saya pelajari. Ada banyak view yang menakjubkan. Misalnya:

Pertama, sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan yang hebat. Sebut saja penampakan gunung yang kalau setiap pagi selalu diselimuti kabut dan awan tebal. Itu adalah penglihatan paling magis dalam hidup saya.

Betapa hebatnya Allah, menciptakan sebuah gunung. Entahlah bagaimana DIA menciptakannya. Yang pasti tentu tidak seperti kita ketika kecil dulu, menumpuk sedikit demi sedikit tanah di suatu tempat hingga membentuk sebuah gundukan.

Kita lalu dengan bangga mengatakannya, “Ini adalah sebuah gunung!”

Gunung adalah penopang bumi. Ia adalah pancang yang membuat tanah ini tidak bergoncang. Dan malangnya, pada hari kiamat kelak, konon gunung-gunung akan tercerabut dan karenanya, maka bumi terguncang hebat.

Kedua, ini yang paling membuat saya merenung sangat dalam: ketika perjalanan, saya melihat kehidupan pagi yang menggeliat.

Perjalanan yang saya tempuh menuju sekolah memang melewati beberapa daerah penambangan pasir dan batu. Sehingga setiap pagi dan sore, saya menyaksikan orang-orang bekerja sangat keras demi kehidupan mereka.

Ada yang sejak pagi sudah bertelanjang dada dengan menggenggam erat sekop yang besar. Mereka sibuk merapihkan pasir yang semalam berserakan karena hujan atau karena apa. Pasir yang ia rapihkan tidak hanya satu dua truk saja. Tapi ada hampir sepuluh tumpukan besar.

Kebayang dong, bagaimana lelahnya mereka?

Dan tentu saja kita tahu, bahwa pekerjaan berat mereka itu paling-paling hanya dihargai sekian. Tidak begitu banyak. Padahal mereka harus mengeluarkan tenaga yang super besar.

Melihat mereka, saya bergumam dalam hati, “Alhamdulillah ya Allah, Engkau memudahkan hamba mencari nafkah dan uang demi keluarga dan anak saya..”

Selain penambang pasir, saya juga menyaksikan orang-orang yang pekerjaannya memecah batu-batu besar menjadi lebih kecil. Orang-orang ini juga sudah bertelanjang dada sejak pagi buta.

Tubuh mereka hitam, legam. Sehingga ketika matahari datang, permukaan kulit mereka akan mengkilap-kilap. Berkilauan.

Senjata mereka adalah sebuah palu logam bergagang kayu atau rotan yang kokoh. Salah satu kaki mereka akan menginjak batu yang akan dipecahkan, sedangkan kedua tangan yang menggenggam gagang palu itu di angkat tinggi-tinggi.

Sejurus kemudian, palu diayunkan ke permukaan batu. Pelan tapi pasti, batu itu akan pecah dan menjadi lebih kecil.

Saya terkesiap, takjub dan berujar sendiri, “Batu sebanyak itu (ada beberapa tumpukan yang setiap tumpukannya banyak sekali) dipecahkan dengan tenaga manusia? Emang nggak ada mesin atau alat yang membuatnya lebih mudah?”

Aih, tentu saja iya. Semua batu itu akan dibuat menjadi lebih kecil secara manual. Justru kalau ada mesin, mereka akan kehilangan mata pencaharian.

Nanti, ketika sudah banyak yang berhasil mereka pecahkan, maka pecahan batu-batu itu akan dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Batu-batu kecil itu akan digunakan untuk membangun rumah, gedung-gedung, atau apa saja.

Dan sekali lagi, tentu saja kita semua paham, bahwa mereka (orang-orang yang bekerja memecah batu tadi) juga tidak bergaji besar. Paling hanya beberapa saja. Padahal, menilik bagaimana mereka mengerjakannya, pasti itu bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan.

Selain mereka, orang-orang penambang pasir dan pemecah batu, saya juga menyaksikan banyak orang-orang yang bekerja cukup keras tapi hasil yang didapatkan tidak seberapa.

Sebut saja pemulung sampah di pasar atau di jalanan.

Orang ini mungkin sering kita sepelekan. Menganggap mereka sebagai manusia dengan kasta paling bawah dan hina. Menganggap mereka tidak ada apa-apanya.

Padahal, coba bayangkan jika orang seperti mereka tidak ada. Kan bahaya!

Sampah akan menumpuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Lalat dimana-mana. Pemandangan tidak enak. Dan ujung-ujungnya penyakit akan mewabah. Bisa penyakit kulit, sakit pernapasan, diare, atau apa saja.

Saya pun menyaksikan, ada pemuda-pemuda yang gigih berjalan jauh dengan menenteng alat sol sepatu dan sendal. Ada orang tua yang mendorong gerobak, menjual mainan, dan masih banyak lagi.

Sepanjang perjalanan, Allah seperti sengaja memberikan beragam gambaran kepada saya. Bahwa di luar sana, alangkah banyak orang yang kesusahan mencari kerja dan uang.

Padahal, secara fisik, boleh jadi mereka jauh lebih sempurna dari saya yang kaki kanannya kecil dan pincang ini [Lihat Video saya DISINI].

Setiap malam, sambil melepas penat dan menikmati secangkir kopi hangat yang nikmat, saya sering menceritakan apapun yang saya saksikan kepada istri saya: “Ummi, setiap berangkat dan pulang kerja, Abi selalu menyaksikan orang-orang yang bekerja cukup keras, loh.”

Istri saya menoleh dan memperhatikan, “Misalnya?”

Saya kemudian tersenyum dan menjelaskan, “Misalnya ya, penambang pasir, pemecah batu, pemulung, tukang sol sepatu, dan lain-lain.”

Istri saya diam, menunggu saya menjelaskan panjang lebar.

“Bisa dipastikan tuh, pasti setiap malam mereka lelah sekali,” saya berkata demikian, “Lah wong Abi yang bolak-balik naik motor aja pegal-pegal begini, apalagi mereka.”

Istri saya masih tidak menjawab, lebih memilih mendengarkan saja.

“Abi jadi bersyukur banget nih, walau kondisi kaki Abi kayak gini, tapi Allah memudahkan Abi dalam mencari nafkah dan penghasilan.”

Kali ini baru istri saya bersuara, “Iya, Bi. Alhamdulillah banget keluarga kita diberi kemudahan rejeki dan uang. Yah, walau tidak banyak, seenggaknya, kita tidak meminta-minta dan tidak kelaparan.”

“Iya, Ummi. Alhamdulillah..”

Diam beberapa jenak, lalu saya kembali berkata, “Padahal, sebelum menikahi Ummi, Abi sempat ragu loh. Soalnya, penghasilan Abi waktu itu kan nggak nyampe sejuta. Bisa makan apa dengan uang segitu?”

“Tapi Allah kemudian membuktikan, bukan?” Istri saya berujar, “Bahwa DIA tidak akan membiarkan hambanya kelaparan. Lah wong hewan melata seperti cicak saja dijamin makanannya. Apalagi kita, Bi.”


“Duh sholihah banget sih..” kata saya kemudian sambil menjawil hidungnya yang menggemaskan. 

6 komentar

avatar

Betul sekali bang, saya juga mengalami hal sama selama menempuh perjalanan 39km dengan sepeda motor. Dan itu selalu membuat saya banyak bersyukur.

avatar

Selalu bersyukur kuncinya ya

avatar

Ntah kenapa tiap baca tulisan kaya gini nii, saya jadi nangis. Kembali merenung bahwa ternyata Allah sayang sama kita lewat ujiannya...

Setiap yang terjadi tak pernah lepas dari takdir-Nya.

MasyaAllah,
Luar biasa...

avatar

Menginspirasi... Seolah mengatakan, "Ayo Ci, kamu harus 'ngaca'".

avatar

Alhamdulillah .. ternyata saya juga masih diberi kemudahan mencari rejeki. Setelah membaca tulisan abang, saya baru nyadar masih bnyk yang jauh lebih rekoso.


EmoticonEmoticon