Like Fanpage Bang Syaiha

Suamiku Benar-Benar Berubah!

By Bang Syaiha | Tuesday, 7 June 2016 | Kategori:

Suamiku benar-benar berubah, Suami tidak perhatian, suami tidak romantis, Bang Syaiha, http://bangsyaiha.com/

“Aku rada menyesal menikah sama dia,” kata Mia kepada sahabatnya, “Dia benar-benar berubah. Tidak seromantis ketika kami pacaran dulu. Tidak sesholeh ketika kami belum menikah dulu. Ah, suamiku benar-benar berubah, Yun!”

Mia tampak murung. Wajah cantiknya berubah drastis menjadi mengerikan. Suram. Sesuram wajah orang yang baru saja kehilangan semua keluarganya sekaligus karena pembunuhan.

“Padahal ketika pacaran dulu, dia selalu ingat hari ulang tahunku, selalu memberikan ucapan dan doa. Ia juga selalu memberikan kejutan-kejutan yang manis sekali. Mengirimiku setangkai bunga, atau mengajakku jalan-jalan ke taman” Mia berkata lirih. 

“Tapi sekarang tidak lagi, Yun,” Sekarang bahkan mata indah Mia itu, mata yang konon tatapannya bisa menghancurkan gunung itu sudah sembab. Basah.

Yuni yang sedari tadi menyimak, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan dan merangkul bahu Mia erat.

Kau tahu kawan, saat seperti ini, perempuan memang tidak butuh apa-apa. Ia hanya butuh sahabat atau teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan ia tidak butuh solusi sama sekali.

Ia akan menjadi lega ketika semua keluh kesahnya sudah diceritakan. Yuni mengerti itu, makanya ia hanya diam. Sesekali tersenyum menentramkan.

“Kau tahu Yun” kata Mia lagi, “Dulu sebelum menikah, suamiku selalu mengirimiku sms, mengingatkan untuk rajin sholat, rajin puasa, atau berbuat kebaikan lainnya. Tapi sekarang.. Ya Allah, ternyata dia tidak sholat lima waktu!”

Mia menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah. Sesenggukan. Sesekali kepalanya menggeleng pelan.

“Dan setiap kali aku mengajaknya untuk sholat berjamaah, dia selalu menolak. Kemudian berdalih ‘Jika memang Tuhan menghendaki aku sholat, nanti aku juga pasti sholat. Semuanya kan sudah ada takdirnya. Semua kehendak Tuhan!’

Yuni, sekali lagi, mengusap-usap bahu sahabatnya. Ia benar-benar bisa merasakan betapa kecewanya Mia karena perubahan sikap suaminya.

“Aku bingung, Yun.”

Setelah hanya diam dan mendengarkan, akhirnya Yuni berkata pelan, lirih sekali. Nyaris tidak terdengar malah. Sebuah kata pertamanya, juga kata terakhir untuk semua keluh kesah Mia, “Sabar ya, Mia...”


Ya, sabar. Itu saja. 

1 komentar:

avatar

makanya ngak usah pacaran ya...
biar niatnya menikah lillahita'ala


EmoticonEmoticon