Like Fanpage Bang Syaiha

Bagaimana Caranya Menerbitkan Buku di Penerbit Indie?

By Bang Syaiha | Friday, 22 July 2016 | Kategori:

Bagaimana Caranya Menerbitkan Buku di Penerbit Indie, Menerbitkan buku, menulis buku, penerbit indie, Bang Syaiha
Bagaimana Caranya Menerbitkan Buku di Penerbit Indie?
Beberapa kali, ada yang bertanya ke saya, bilang: “Bang Syaiha, bagaimana caranya sih menerbitkan buku sendiri? Lalu, kelebihan dan kekurangannya apa jika dibandingkan dengan menerbitkan di penerbit mayor?”

Nah, pertanyaan di atas lah yang menjadi dasar tulisan singkat saya kali ini. Semoga apa yang saya jabarkan bisa menjadi pelajaran buat sesiapa saja yang ingin menjadi penulis.

Semoga berguna buat teman-teman yang sedang menyelesaikan naskah dan bingung akan menerbitkan dimana.
Pertama, saya akan bahas tentang jenis-jenis penerbit yang berkembang sekarang.

Begini.. mungkin, 10 tahun belakangan banyak sekali orang yang ingin menjadi penulis.

Penyebabnya apa?

Boleh jadi karena menyaksikan kehidupan penulis-penulis terkenal yang kerjaannya kok kayaknya enak bener: jalan-jalan, ngisi pelatihan, buku laris di pasaran, dan kemudian difilmkan.

Belum lagi, ketika penasaran dan membaca karya penulis-penulis itu, banyak orang yang bergumam: “Ah, kalau membuat tulisan seperti ini saya juga bisa, kok!”

Orang-orang semakin banyak yang tertarik menjadi penulis..

Tidak hanya itu ternyata. Dunia maya berkembang pesat sekarang, orang bebas menulis dimana saja. Di blog, media sosial, atau sebagainya. Orang-orang mulai berani mengeluarkan pendapatnya.

Ada yang memang benar-benar bagus tulisannya. Tapi ada juga yang hanya cari sensasi dan ketenaran saja.

Yang terakhir, mengapa banyak orang ingin menjadi penulis di masa sekarang? Bisa saja karena menurut mereka menulis bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang lain. Yah, itung-itung peruntungan.

Diterbitkan dan laku, Alhamdulillah. Nggak juga tidak mengapa.

Maka mulailah orang berbondong-bondong mencoba peruntungan di dunia kepenulisan. Apalagi ketika banyak penulis ternama yang membuka kelas kepenulisan online dan offline, maka semakin terbukalah wawasan setiap orang.

Semakin banyak yang bertekad: “Saya ingin menjadi penulis!”

Dari dulu, kita sudah mengenal tentang teori ekonomi yang mengatakan bahwa, dimana ada permintaan, disitu ada penawaran.

Ketika banyak orang yang ingin menjadi penulis dan hendak segera menerbitkan bukunya, maka kemudian lahirlah penerbitan indie (ada juga yang menyebutnya sebagai self publishing. Tapi saya tidak mau repot-repot membedakan sebutan itu. Di tulisan ini saya sebut saja penerbit indie.)

Sejak saat itulah, penerbitan terbagi menjadi dua: penerbit mayor dan penerbit indie.

Bedanya apa?

Penerbit indie:

Mekanisme menerbitkan bukunya gampang. Asal kita ada modal dan uang, maka tidak peduli naskah kita bagus atau tidak, pasti diterbitkan menjadi sebuah buku yang lengkap. Benar-benar menjadi buku selayaknya buku yang banyak di toko-toko.

Ada covernya, ISBN, nama penerbitnya, nama penulis, dan lain-lain.

Kelebihannya adalah, penerbit indie memudahkan orang yang ingin menjadi penulis. Cukup sediakan uang saja, penerbit indie akan mengurus naskah kita dari A sampai Z. Semua akan diurus mereka hingga buku sampai di tangan.

Sedangkan kekurangannya, jika kita tidak menyeleksi dengan benar penerbit indie yang akan kita jadikan mitra, maka hasilnya boleh jadi tidak sesuai harapan. Cetakannya kurang bagus, tintanya buram, dan sebagainya.

Saya pernah membeli buku terbitan indie yang demikian. Jilidannya tidak rapih, motong kertasnya nggak benar, dan lem nya tidak kuat. Belum lagi cover yang mudah mengelupas dan tidak awet. Benar-benar mengecewakan.

Tapi, saya pun sering membeli buku terbitan penerbit indie yang berkualitas prima. Enak dibaca, kertasnya oke, covernya menakjubkan.

Intinya, pintar-pintarlah memilih penerbit indie yang akan dijadikan mitra. Juga pintar-pintarlah memilih buku yang akan dibeli.

Penerbit mayor:

Mekanisme menerbitkan buku disini cukup lama. Hal ini disebabkan karena mereka harus membaca naskah hingga tuntas terlebih dahulu. Lalu, jika sudah, editor dan bagian marketing (mungkin juga bagian produksi) akan melakukan rapat.

Mereka akan mengevaluasi, apakah naskah ini layak terbit atau tidak.

Layak disini, tidak hanya dalam hal tulisan yang berkualitas atau tidak ya! Tapi juga layak dijual, laku di pasaran, atau tidak.

Ada loh, naskah yang bagus tapi tidak diterbitkan. Juga ada naskah yang tidak begitu bagus (alias biasa saja) tapi dicetak. Masalah ini bagian marketing yang akan memberi pertimbangan.

Selanjutnya, penerbit mayor juga memiliki visi dan misi masing-masing. Sehingga mereka hanya akan menerbitkan buku yang hanya sesuai visi dan tujuan perusahaan.

Penerbit Republika misalnya, tentu saja tidak mungkin menerbitkan buku-buku Jaringan Islam Liberal, atau buku-buku yang tidak sesuai khazanah keislaman. Juga tidak mungkin menerbitkan novel romance yang isinya jauh dari Al Quran dan Sunnah.

Maka jangan sekali-kali mengirimkan naskah romance yang ‘nggak bener’ ke mereka. Karena nggak bakal diterbitkan.

Semua tahapan di atas, mulai dari pengiriman naskah hingga naskah diterbitkan, minimal memakan waktu tiga bulanan.

Kelebihan menerbitkan buku di penerbit mayor adalah, tentu saja prestise. Bukankah bangga sekali rasanya jika naskah kita diterima dan diterbitkan oleh penerbit sekelas penerbit Republika atau Gramedia?

Tapi, kita juga harus ingat, bahwa ketika buku kita diterbitkan di penerbit mayor, itu bukan sebuah jaminan bahwa buku kita akan laku keras dan menjadi fenomenal. Tidak. Masih panjang perjuangan.

Kelemahan menerbitkan buku di penerbit mayor adalah waktunya yang lama. Minimal saja, tiga bulan.

Selain waktu yang lama, kelemahan lainnya adalah royalti yang diberikan tidak begitu besar.

Oke, setelah membaca bagian atas tulisan ini, setidaknya teman-teman mengerti sekilas tentang dua penerbitan ini. Kalau masih ada yang ingin ditanyakan, silakan sampaikan saja di kolom komentar.

Lalu, bagaimana caranya menerbitkan buku di penerbit indie?

Pertama, seleksi penerbit indie yang kalin tahu. Periksa harga yang ditawarkan di setiap penerbit itu dan silakan bandingkan. Dengan seleksi tahap awal ini, teman-teman bisa menyingkirkan beberapa penerbit indie yang tidak terjangkau harganya dengan isi kantong kita.

Kedua, periksa website dan media sosial mereka. Ramai atau tidak? Dikelola dengan baik atau tidak?

Mengapa ini penting?  

Karena nanti, buku yang kita terbitkan di mereka akan dipajang disana. Nah, kalau pengunjungnya saja sepi, bagaimana mungkin buku kita akan laku keras, bukan?

Ketiga, pelajari paket yang penerbit indie tawarkan. Menarik atau tidak? Jika menarik dan menggiurkan, maka silakan dipertimbangkan lebih lanjut.

Keempat, jika memungkinkan beli buku dari beberapa penerbit yang akan kita incar itu. Tujuannya apa? Untuk melihat langsung bagaimana kualitas terbitan mereka saja. Untuk mengetahui kertas apa yang mereka pakai, tinta yang mereka gunakan, dan sebagainya.

Jangan sampai kita memilih penerbit sembarangan. Jangan membeli kucing di dalam karung.

Kelima, jika sudah menemukan penerbit indie yang sesuai, maka silakan hubungi CS mereka. Tanya-tanya dan perhatikan bagaimana mereka melayani setiap pertanyaan yang kita ajukan. Jika mereka sopan dan menyenangkan, maka ini bisa jadi pertimbangan penting.

Toh, kita tentu tidak mau kan berhubungan dengan orang yang tidak ramah dan tidak sopan?

Nah, setidaknya itulah lima hal yang selalu saya perhatikan ketika akan memilih penerbit indie untuk buku-buku saya. Jika buku saya adalah anak-anak saya, maka saya harus memilihkan jodoh terbaik untuknya.


Demikian. 

3 komentar

avatar

Alhamdulillah buku yang kamu endorse itu sudah terbit. Dibanding yang dulu lumayan lah. Udah mulai PO nih. Makasih banyak support ya...

avatar

none nih, sapa tau ntar ada yang nanya

avatar

Wah... Keren, bang.
Bisa jadi referensi.
Jazakallah


EmoticonEmoticon