Like Fanpage Bang Syaiha

Usia itu Rahasia Allah Saja

By Bang Syaiha | Sunday, 31 July 2016 | Kategori:


Hari ini saya berkunjung ke daerah Cinangneng, Bogor. Ke perumahan tempat saya mengontrak dulu. Saya sempat tinggal hingga 1,5 tahun disana, sudah kenal banyak orang dan akrab. Sehingga rasanya, kurang afdhol jika tidak mengunjungi mereka. 

Apalagi, disana ada perpustakaan masjid yang dibangun oleh teman dan siswa saya, ada buku-buku yang kabarnya berserakan tidak terurus. Berantakan karena selama Ramadhan dan lebaran, perpustakaan masjid dialih fungsikan menjadi ruang penyimpanan konsumsi dan sebagainya. 

Selain itu juga, saya pun ada janji dengan salah satu warga disana untuk mengobrol banyak hal. Maka semakin kuat saja keinginan saya mengunjungi tempat tinggal saya yang lama. Ada tiga agenda yang harus dikerjakan: silaturahim, merapikan perpustakaan, dan berdiskusi. 

Semua berjalan normal. Saya berangkat sekitar pukul 9 pagi dan sampai disana satu jam berikutnya. 

Saya langsung ke masjid bersama anak-anak dan teman saya. Mereka langsung sibuk di perpustakaan. Buku-buku diturunkan dari meja, dipilah-pilah sesuai genre dan usia, lalu diletakkan pada meja-meja kecil yang dijadikan rak dadakan. 

Nah, karena saya tidak bisa terkena debu, maka saya hanya duduk di luar, melihat mereka sibuk bekerja. 

Di teras masjid, saya mengobrol dengan teman tentang rencana yang akan kami jalankan. Bukan main-main! Jika ini berjalan, maka pasti efeknya akan menjadi luar biasa berdaya guna. Mohon doanya saja. Juga mohon maaf, karena saya, lagi-lagi tidak ingin menjelaskan apa yang kami diskusikan disini (asik, sok rahasia-rahasiaan nih gue..)

Sekali lagi, semua berjalan normal. Sampai seorang bapak menghampiri saya. Ia mengucapkan salam, menjabat tangan saya, dan berujar: 

"Bagaimana lebaran dan liburannya, pak?" 

"Wah, baik. Alhamdulillah. Bapak bagaimana?" saya balik bertanya. 

"Baik juga.." diam sejenak, lalu melanjutkan, "Oh iya, disini ada yang meninggal kemarin. Pas lebaran.." 

"Eh.. Siapa, pak?" 

"Pak Syaiha pasti kenal. Dia sering ke masjid juga, kok. Masih muda." 

Saya mencoba mengingat-ngingat tapi tidak berhasil. "Masih muda ya, pak? Siapa ya?" 

Si bapak lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka poto yang ada disana, "Yang ini, pak." ia menyodorkan ke saya, "Kenal, kan?" 

"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Iya, pak. Mas ini mah saya kenal. Pernah mengobrol juga kok di masjid. Orang Riau, kan?" 

Si bapak mengangguk, mengiyakan. "Meninggalnya karena kecelakaan. Di jalan raya depan sono.." 

Setelah itu, obrolan berkisar tentang si anak muda yang sudah tidak ada itu. Ia adalah orang yang rajin beribadah. Hujan ia jabanin. Pagi-pagi, ketika masih gelap, ia lewati. Padahal, rumah kontrakannya cukup jauh juga dari masjid perumahan. 

Tapi ya itu tadi, barangkali imannya kuat. Sehingga walau pagi buta dan gerimis, ia tetap datang untuk shalat bersama-sama. 

Semoga ia diberikan tempat yang layak di surga. Aamiin. 

Ah, usia memang tidak pernah ada yang tahu. Cuma bisa berdoa, semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah kelak. 


EmoticonEmoticon