Like Fanpage Bang Syaiha

Banyak Hal yang Harus Disyukuri

By Bang Syaiha | Wednesday, 31 August 2016 | Kategori:


“Boleh duduk disini, Pak?” sebuah suara mengagetkan saya yang sedang asik bermain bersama Alif. Anak saya ini memang suka sekali pada hal-hal baru, apalagi yang berhubungan dengan kendaraan, seperti pesawat, kapal laut, motor, angkot, atau apa saja.

Nah, kebetulan, saat suara itu menyapa saya, kami sedang dalam perut bus berpendingin yang sepi. Jadilah, Alif benar-benar senang hatinya.

Beberapa menit yang lalu, bahkan, Alif tidak mau diam. Jalan kesana-kemari, ke depan dan belakang. Berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk kendaraan yang lewat, mengacung-ngacungkan tangan kepada lampu-lampu jalanan.

Saya dan istri, karena sudah kehabisan energi seharian, memilih memperhatikan saja dari jauh. Membiarkan Alif mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Nah, ketika bus mulai penuh dan petang semakin gelap, barulah Alif akhirnya diam dan memilih duduk di tengah-tengah kami. Tertawa bersama dan lepas.

“Boleh saya duduk disini, Pak?” suara itu terulang lagi.

Saya mengarahkan pandangan kepadanya, mendapati bahwa dia adalah seorang lelaki yang boleh jadi berusia 40-an akhir. Rambut di kepalanya mulai sedikit, mungkin sudah berguguran. Diperhatikan lamat-lamat, disana juga banyak yang mulai memutih.

Saya tersenyum, lalu menjawab, “Silakan, Pak,” sambil mengangkat Alif agar duduk di pangkuan. Memberi ruang kepada bapak tadi untuk duduk tepat di sebelah saya.

“Baru pulang bekerja, Pak?” saya mulai mengakrabi. Teringat nasihat almarhum ayah saya dulu, jadilah orang yang ramah kepada siapa saja.

Bapak itu mengangguk.

“Wah, setiap hari pulang pergi begini, Pak?”

Ia menyunggingkan bibirnya, berkata, “Iya, Pak. Demi anak dan istri.”

Saya mengangguk-angguk pelan, berkata kemudian, “Sudah lama seperti ini, Pak? –maksud saya pulang pergi Bogor-Jakarta.”

Bapak yang tidak saya tahu namanya tadi, terlihat berpikir. Bola matanya berputar ke atas, menjawab, “Kalau tidak salah, sepertinya sudah ada 20 tahunan lah.”

“Wah, sudah lama sekali ya?”

Lalu, obrolan kami berlanjut kemana-mana. Lancar seperti jalannya bus yang kami naiki di aspal yang bebas hambatan.

“Itu, jika boleh tahu, pulang-pergi begini setiap hari, habis berapa ongkosnya, pak?”

“Kalau sekarang, sekali jalan 16ribu, Pak. Jadi kalau pulang-pergi, minimal 32ribu.”

Saya manggut-manggut. Dalam hati berujar, berarti, dalam satu bulan, setidaknya bapak ini harus mengeluarkan uang 640ribu hanya untuk ongkos. Belum yang lainnya, semisal makan, beli air minum, atau apa saja.

Dan jika bapak ini sudah menjalaninya lebih dari 20 tahun, itu artinya, gaji setiap bulan yang ia terima tentu saja lebih besar. Tidak mungkin ia rela melakukan itu semua kalau setiap bulannya rugi dan malah nombok tho?

Walau demikian, tetap saja uang sejumlah itu cukup besar. Agak gimana gitu kalau hanya dikeluarkan untuk ongkos dan lain-lain.

Namun, karena barangkali tidak ada pekerjaan yang lebih baik baginya, maka ia memilih tetap sabar mengerjakan kegiatan rutin itu hingga 20 tahun.

“Biasanya sampai rumah jam berapa, Pak?” saya bertanya lagi. Penasaran.

Ia membuka ponselnya yang tidak pintar, masih ponsel jadul. Sebentar diotak-atiknya ponsel itu dan berkata, “Sekarang jam tujuh malam. Maka kalau lancar, jam setengah sembilan kita sudah sampai Bogor.”

Ketika saya tanya, “Lalu setiap pagi berangkat lagi jam berapa, Pak?” dia menjawab, “Jam tujuh.”

Kepala saya kemudian mengangguk-angguk lagi dan bergumam sendirian, Masya Allah, nggak kebayang nih lelahnya bapak ini melakukan aktivitas demikian.

*****

Nah, berdasarkan kejadian tadi malam itu, maka tadi pagi saya sempat berpikir sejenak tentang betapa beruntungnya saya.

Saya bekerja dari pagi dan petang, tapi tidak jauh dari rumah kontrakan. Sehingga saya tidak perlu mengalami perjalanan yang panjang dan melelahkan hanya untuk berangkat dan pulang.

Saya pergi ke sekolah tempat saya mengajar sekitar pukul 06.15 WIB, lalu, baru akan pulang ketika selepas salat Ashar tanpa perlu mengalami jalanan yang penat karena kemacetan. Cukup 10 menit, saya sudah akan sampai di rumah kontrakan dan langsung bisa mengajak Alif bermain.

Jam setengah sembilan malam, ketika bapak tadi mungkin baru sampai rumah, saya boleh jadi malah sedang bersantai di depan televisi, membaca buku, atau online –mengelola blog dan menulis.

Dilihat dari banyak hal, saya tentu saja lebih beruntung dibandingkan bapak tadi malam. Juga orang-orang yang lain, yang harus bekerja di tempat jauh. Menghabiskan banyak uang, tenaga, dan tentu saja waktu.
.
.
.
Apa pesan moral yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini:

Satu, jika kita mau berpikir jernih, maka banyak hal yang bisa kita syukuri dari kehidupan dan rutinitas yang kita punya. Kita sehat, bekerja, dan berpenghasilan. Kita bisa jalan, bisa makan enak, dan istirahat cukup. Keluarga kita harmonis, istri baik, dan enak dipandang. Anak-anak juga tumbuh dan berkembang tanpa kekurangan.

...serta masih banyak yang lainnya. Silakan saja ambil kertas dan tulislah beragam hal baik yang ada pada diri kalian! Saya yakin, jumlahnya pasti banyak sekali.

Dua, jika suatu kali kalian merasa hidup kalian menderita sekali, maka jalan-jalanlah. Naik bus atau kereta ke suatu tempat dan perhatikan orang-orang. Di luar sana, jika mau jujur, ada banyak orang yang jauh kurang beruntung dibandingkan kita.

...maka berhentilah berputus asa dan merasa menjadi manusia paling menderita.

Tiga, untuk para istri, ingatlah satu hal! Bahwa suami kalian itu bekerja dari pagi dan petang demi kalian. Mereka berkorban, mencari nafkah agar kalian tidak kekurangan. Maka di rumah, sebaiknya, layani mereka dengan kebaikan. Pasang wajah menyenangkan dan bersyukurlah.

Jangan terlalu banyak menuntut...

Empat, untuk anak-anak, kalian juga harus sadar satu hal! Bahwa orang tua kalian itu bekerja mati-matian demi masa depan. Maka hormati orang tua, dan berterimakasihlah atas apa yang sudah mereka perjuangkan.

Kalaupun masih kurang, maka segeralah berpikir untuk bisa mandiri dan membantu pendapatan.

Jika tidak mampu juga, maka jadilah anak yang baik, yang patuh kepada titah dua orang tua kalian. Sungguh, kepatuhan dan bakti kalian, kadang-kadang malah lebih berharga dari apapun yang mereka punya.


Demikian. 

1 komentar:

avatar

berhentilah berputus asa dan merasa menjadi manusia yang paling menderita

benar sekali. setuju dengan quote ini.


EmoticonEmoticon