Like Fanpage Bang Syaiha

Behind the Scene Masih Ada (1)

By Bang Syaiha | Wednesday, 3 August 2016 | Kategori: |

Saya masih bingung hendak memakai cover yang mana
Novel kedua saya, insya Allah akan terbit bulan depan jika semuanya lancar. Sama seperti novel pertama, Sepotong Diam. Novel kedua juga saya tulis dalam waktu yang relatif singkat. Seingat saya hanya butuh waktu satu bulan, dan naskah mentah novel kedua ini selesai. 

Januari tahun 2016 ia bahkan sudah kelar. Hanya saja, karena saya menganggap semua tulisan dan karya saya sebagai anak sendiri, maka saya merawat dan menjaganya. Mereka semua saya pelihara dengan penjagaan terbaik, dengan kasih sayang yang tulus.

Termasuk dengan novel kedua yang kemudian diberi judul Masih Ada oleh istri saya. 

Sejak naskah mentahnya selesai di bulan Januari lalu, hingga sekarang, entah sudah berapa kali saya baca ulang. Saya perbaiki agar kelak, ketika diterima oleh orang-orang, ia menjadi enak dinikmati. 

Selayaknya buah hati, maka naskah mentah itu adalah anak kecil yang belum bisa apa-apa. Tidak berdaya. Tidak bertenaga. Nyawanya bahkan masih lemah. Perlu diberi bimbingan dan pengajaran agar ia bisa menjadi lebih baik lagi. Perlu diberi perlakuan khusus agar karakter dan jiwanya jauh lebih kuat dan hebat. 

Naskah mentah juga demikian. 

Ketika dalam satu bulan ia jadi, maka saya tidak gegabah langsung menerbitkannya begitu saja. Nggak! Sabar dulu. Ia masih jelek sekali, tidak enak dibaca, dan pasti ada yang tidak tepat posisi. 

Makanya naskah itu saya baca entah sampai berapa kali. Jika ada satu kata yang sama, terletak pada jarak yang berdekatan, maka segera saya ganti. Bagaimanapun, kata yang serupa di posisi yang tidak jauh itu tidak enak dihati. 

Nggak percaya? 

Contohnya begini: "Aku pulang ke rumah agak malam dan mendapati pintu rumahku terkunci dari dalam. Kulirik dengan mataku ke dalam dan mendapati orang tuaku dan adikku tertidur di ruang tamuku. Pantas saja, beberapa kali kuketuk pintu rumahku dengan tanganku, mereka tidak menjawab salamku." 

Nggak enak kan dibacanya? Kurang bagus... 

...terlalu banyak kata '-ku' pada jarak yang tidak terlalu jauh. Juga ada dua kata 'dalam' yang dekat sekali. 

Bagaimana agar kalimat di atas menjadi lebih enak dibaca? Silakan dipikirkan saja sendiri yaa. Lagian, pada postingan kali ini saya bukan akan menjabarkan tentang kepenulisan. Maaf. 

Baik, kembali ke naskah novel kedua saya..

Sama seperti pada novel pertama, Sepotong Diam. Hal tersulit dari menghasilkan sebuah novel, bagi saya adalah menentukan judul yang akan saya letakkan di bagian paling depan buku ini. Ia akan menjadi hal pertama yang dilihat orang. 

Maka ketika salah memilihnya, bisa bahaya untuk masa depannya. Dan karena setiap karya yang saya buat saya anggap sebagai anak sendiri, maka memilihkan judul yang baik dan tepat itu adalah seperti memberikannya nama. 

Saya kebingungan pada tahapan ini. Sehingga ketika istri saya hendak membuatkan baju (baca: cover) untuk dia, lalu bertanya, "Abi, judulnya apa?" 

Saya hanya bisa menjawab, "Terserah Ummi saja.." 

"Emang ceritanya tentang apa?" 

"Tentang harapan, cinta, dan pengabdian." 

Lalu mengalirlah kisah tentang novel ini. Saya jelaskan sesingkat-singkatnya ke istri. Garis besarnya saja. Agar apa? Tentu saja supaya istri saya bisa menentukan nama yang tepat. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada dia. 

Keesokan harinya, istri saya bilang, "Kalau judulnya Masih Ada gimana, Bi?" 

"Masih Ada?" 

"Iya..." 

Saya mengerutkan kening sejenak, menaikkan kedua ujung bibir, dan berseru, "Judul yang bagus!!" 

3 komentar

avatar

Saya pesan ya bang...penasaran

avatar

Iyah.. pengen baca novel guru nulis, bang syaiha. Hehehe


EmoticonEmoticon