Like Fanpage Bang Syaiha

Inilah Kendala Terbesar yang Sering Dihadapi Seorang Penulis

By Bang Syaiha | Sunday, 7 August 2016 | Kategori: |

Inilah Kendala Terbesar yang Sering Dihadapi Seorang Penulis, Menulis setiap hari, Bang Syaiha
Inilah Kendala Terbesar yang Sering Dihadapi Seorang Penulis
Kemarin malam, ada yang bertanya ke saya melalui BBM. Begini, "Bang Syaiha, salam kenal sebelumnya. Saya Indah (bukan nama sebenarnya), tadi pagi saya tidak sengaja mendapatkan link tulisan Abang dan membacanya. Bagus. Karena kepo, maka saya kemudian googling tentang Abang. Eh rupanya abang ini penulis ya?" 

"Belum menjadi penulis sungguhan, kok. Masih belajar," saya menjawab demikian. Singkat. 

"Tapi Bang Syaiha kan sudah menerbitkan buku. Dan lagi, katanya, dalam waktu dekat akan mengeluarkan novel kedua. Benar, Bang?" 

"Iya, benar. Insya Allah. Doakan saja." 

"Keren.." 

Saya tidak menjawab. Dia mengirimi saya pesan lagi, bertanya, "Oh iya, Bang.. Jika boleh tahu, abang sejak kapan mulai menulis? Dan sejak saat itu hingga sekarang, kendala apa saja yang sering abang hadapi dalam menghasilkan sebuah tulisan?" 

Belum sempat saya jawab, dia sudah nyambung lagi, "Maaf ya Bang Syaiha, kalau pertanyaan saya terkesan mewawancarai..." 

Kemarin malam, saya sengaja tidak menjawabnya. Belum. Pertama karena memang sudah larut dan saya sudah mengantuk. Kedua karena rasanya tidak efektif kalau saya jawab via pesan di BBM. Butuh kerja keras buat mengetiknya. 

Maka lebih baik saya tuangkan saja dalam bentuk tulisan di postingan ini. 

Saya jawab yaa...

Sejak kapan saya mulai menulis? Jawabannya, sejak tanggal 26 November 2011. Waktu itu, saya mengikuti sebuah pelatihan tentang kepenulisan. Pengisinya adalah Omjay. Ia seorang guru yang juga blogger dan hobi menuangkan segala ide yang ada di kepalanya dalam bentuk catatan harian. 

Tidak dinyana, kebiasaannya menulis catatan harian di blog mengantarkannya dalam menggapai beragam bentuk keajaiban, semisal, menang dalam lomba menulis, menjadi juara dalam kontes blog, dan sebagainya. 

Dalam pelatihan itu, Omjay mengatakan dengan sangat yakin kepada kamu, "Menulislah setiap hari dan tunggulah keajaiban-keajaiban pasti akan terjadi.." 

Di pelatihan itu juga, Omjay menganjurkan kepada semua peserta untuk mempunyai sebuah blog. Jadikan ia wadah untuk menuangkan segala gundah, pengalaman pribadi, dan wawasan. 

Saya menjadi salah satu peserta yang mengikuti semua saran beliau. Saya membuat blog dan mulai menulis setiap hari di blog. Itu adalah pertama kalinya saya mengenal blogging dan langsung jatuh hati. Alhamdulillah, kebiasaan itu berlangsung hingga sekarang dan satu dua keajaiban memang pernah singgah ke kehidupan saya. Apa saja keajaiban itu? Lihat DISINI

Sejak mulai menulis, apa saja kendala yang saya hadapi? Tentu saja banyak sekali. Paling besar, tentu saja kendala kemalasan, menunda-nunda menuliskan ide yang kebetulan mampir di kepala, dan sebagainya. 

Pekerjaan menulis itu nggak ada bosnya. Nggak ada yang ngingetin kecuali diri kita sendiri. Maka ketika kita tidak bisa disiplin, mimpi menjadi penulis itu bisa raib begitu saja. Hilang. Seperti embun yang melayang disapa hangat sinar siang. 

Untuk mengurangi penyakit itu, kemalasan dan menunda-nunda, saya mengikuti beragam kegiatan yang berhubungan dengan kepenulisan. Saya tergabung pada sebuah komunitas, Forum Lingkar Pena (FLP) namanya. Disana saya bertemu banyak orang yang punya hobi sama, menulis. 

Kami saling mengingatkan, saling menyemangati, dan bertukar pikiran. Pokoknya, disana saya mendapatkan banyak keuntungan. Tidak pernah merugi orang-orang yang berkumpul pada sebuah majelis ilmu di sebuah komunitas. Akan banyak teman dan keberkahan. 

Selain di FLP, saya juga membuat gerakan sendiri, One Day One Post namanya. Ini adalah gerakan mengajak orang-orang yang katanya hobi menulis untuk menghasilkan sebuah postingan setiap hari di blog. Tujuannya apa? Tentu saja untuk menanamkan kedisiplinan dan keteraturan. 

Orang-orang yang katanya ingin menjadi penulis harus bisa ini: menulis setiap hari. Dengannya, sadar atau tidak, keterampilan menulis akan meningkat. Sadar atau tidak, kualitas tulisan yang kita hasilkan akan menjadi lebih baik. 

Oh iya, selain tergabung pada beragam kegiatan yang berhubungan dengan kepenulisan, saya juga selalu membiasakan diri untuk membaca setiap hari. 

Bagi saya, membaca adalah mengisi amunisi lagi. Menulis terus tanpa diimbangi dengan membaca, maka kosong hasilnya. Tulisan menjadi tidak bernyawa dan tidak enak dibaca. 

Membaca itu penting bagi penulis. Bahkan Afifah Afra, pada salah tweetnya pernah bilang begini, "Sejatinya, pekerjaan terbesar seorang penulis itu adalah membaca. Bukan menulis." 

Demikian. 


EmoticonEmoticon