Like Fanpage Bang Syaiha

Kasus Pemukulan Guru Terjadi Lagi, Begini Kronologis dan Cara Menyikapinya!

By Bang Syaiha | Thursday, 11 August 2016 | Kategori:

Kasus Pemukulan Guru Terjadi Lagi, Begini Kronologis dan Cara Menyikapinya
Guru yang dipukul
Dunia pendidikan kembali berduka. Tepatnya kemarin malam, ketika hendak tidur, saya membuka media sosial dan mendapati sebuah gambar yang mengenaskan: ada seorang guru yang berdarah    terlihat dari baju yang dikenakan, ada percikan berwarna merah yang kentara

Malam kemarin, karena sudah mengantuk, maka saya hanya bergumam saja: "Duh, dunia semakin edan! Kenapa gampang sekali orang tua memukul guru yang selama ini mendidik anaknya?" 

Sempat tergoda ingin berkomentar, tapi ketika sadar bahwa saya tidak tahu masalah lengkapnya, maka saya berhenti. Diam. Menutup media sosial dan kemudian melantunkan doa tidur. Saya ingin segera terlelap. 

...hanya itulah, tidak lebih. Saya tidak jadi berkomentar banyak karena memang sudah mengantuk    juga karena tidak mengerti permasalahan mereka. 

Hingga pada pagi harinya, ketika baru selesai salat subuh, saya duduk menikmati secangkir kopi hangat yang nikmat buatan istri tercinta. 

Saya hidupkan televisi pemberian saudara yang sudah usang, memindah-mindah channelnya, mencari berita yang enak didengar. 

Saat itulah, ketika sedang asik pindah sana-sini, saya berhenti pada sebuah saluran berita pada televisi swasta nasional. Kebetulan yang sedang dibahas adalah kasus yang saya baca sebelum tidur itu: ada orang tua yang tidak terima karena anaknya ditegur oleh seorang guru. Orang tua ini marah lalu memukul guru hingga berdarah. 

Singkatnya begitulah yang beredar di masyarakat, sehingga banyak orang yang kemudian, tanpa tahu apa sebab dan musababnya, ikut-ikutan menghujat, berkoar-koar seperti orang yang paling paham, dan mencaci maki. 

Sedangkan menurut hemat saya, sebelum melakukan itu semua, alangkah lebih bijak kalau kita teliti dulu bagaimana kejadiannya? Teliti dulu apa sebab terjadinya? 


Lanjut yaa...

Jadi, di berita yang saya saksikan pagi itu, ada pengamat pendidikan yang hadir dan memberikan ulasan yang menarik     menurut saya

Apa katanya? 

Pertama, dia bilang, kita harus melihat kasus ini secara menyeluruh. Secara komprehensif. Posisikan kita sebagai orang tua siswa. Bagaimana jika kita adalah orang tua dan mengetahui bahwa anak kita dipukul gurunya di sekolah? Apa reaksi yang akan kita lakukan? 

Selanjutnya, posisikan juga diri kita sebagai seorang guru yang mengajar. Apa yang akan kita lakukan jika ada siswa yang katanya nakal dan malah mencaci maki gurunya?  

Jika perlu, posisikan juga diri kita sebagai seorang siswa. Apa yang kita lakukan, kalau saat kita di sekolah, karena kesalahan yang kita lakukan, lalu guru 'memukul' kita? Marah? Melapor orang tua, atau bagaimana?

Jika kita bisa secara objektif menjawab semuanya, maka kita akan lebih bijak berkomentar. Tidak asal-asalan. Apalagi sampai mencaci maki salah satu pihak. Kita tidak pantas melakukan itu tanpa tahu duduk permasalahannya. 

Jadi, dari beberapa media online yang saya baca, kronologi kasusnya begini: 

Si anak tidak membawa buku gambar ke sekolah dan kemudian guru menanyakan hal itu, mengapa ia tidak membawa buku gambar     di beberapa situs dikatakan bahwa yang tidak dibawa adalah buku pekerjaan rumah. Padahal, di pertemuan sebelumnya sudah diingatkan bahwa setiap siswa harus punya buku gambar itu dan harus dibawa ke sekolah. 

Nah, karena si anak lupa, maka si anak ini kemudian meminjam buku gambar kepada temannya. 

Guru masih marah dan mengomel di depan kelas, menasihati anak tersebut. 

Kemudian, karena tidak terima, si anak ikut ngomel juga. Bahkan, dari beberapa berita dikatakan bahwa si anak malah keluar kelas sambil berkata kotor dan menendang pintu. 

Sang guru semakin emosi dan kemudian memukul siswa di pipinya.  

Disinilah letak masalahnya, siswa merasa tidak terima. Pasalnya, menurut siswa itu, kesalahannya tidak fatal dan tidak seharusnya ia dipukul demikian. 

Sedangkan dari sudut pandang guru, ia merasa si anak tidak sopan. Tidak seharusnya seorang siswa melakukan hal itu     berkata kotor dan menendang pintu

Karena hal inilah, maka guru memukul pipinya. 
Kasus Pemukulan Guru Terjadi Lagi, Begini Kronologis dan Cara Menyikapinya
Ini pengakuan keduanya
Saya pribadi, tentu saja tidak tahu mana yang benar dari dua versi cerita di atas. Tapi kita tetap bisa mengambil hikmahnya: 

Satu: sebagai seorang guru, sebisa mungkin memang jangan sampai ia mudah emosi    jujur saja, ini pasti berat sekali. Guru bukan malaikat dan hanya manusia biasa. Guru punya batas kesabaran. Tapi ya mau bagaimana lagi. Dalam ilmu pendidikan, guru memang diminta demikian: jangan mudah marah apalagi memukul. Cari pendekatan lain yang lebih humanis. 

Di jaman seperti sekarang, hukuman dalam bentuk pemukulan memang kalau bisa ditiadakan. Mengapa demikian? 

Begini.. Sekarang coba posisikan kita sebagai orang tua, apakah kita akan rela jika anak kita diperlakukan demikian     dipukul gurunya di sekolah

Secara pribadi, saya tidak akan rela. Walau itu pelan, tidak membuat luka atau cidera yang parah di fisik anak saya, tapi siapa yang tahu dengan psikologis anak saya? Siapa yang tahu kalau kemudian, perkembangan mental anak saya sampai rusak?  

Jika sampai anak saya dipukul di sekolah, saya pun akan mendatangi sekolah dan bertanya baik-baik    tidak akan melakukan pemukulan sih. Saya akan mencari tahu kenapa anak saya sampai dipukul? Saya harus mengetahui apa sebabnya? Jika sudah, saya akan menasihati anak saya, mengatakan kepadanya untuk menjadi lebih baik. 

Saya pun juga pasti akan meminta baik-baik kepada sang guru, agar lain kali, anak saya jangan dipukul. Jika memang dia salah, nasihati selembut mungkin. Sentuh hatinya dan kemudian beri pengertian. 

Oke, kita lanjutkan yaa.. 

Ada hal yang menarik dari diskusi yang saya saksikan pagi itu, ketika si pengamat pendidikan yang ada disana bilang: 
Selama ini penerimaan guru memang masih bermasalah. Tes yang dilakukan hanya yang berhubungan dengan intelektual saja. Pada penerimaan guru, tidak ada psikotest, wawancara, dan penggalian mengenai kompetensi paedagogik.
Kita harus tahu, bahwa kompetensi guru itu seharusnya ada empat: paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesionalitas. Dan jika keempat kompetensi ini ada pada diri seorang guru, maka kasus demikian     guru memukul siswa, seharusnya tidak terjadi.  
Saya pribadi tidak mengetahui kebenaran akan hal itu. Apakah benar, selama ini penerimaan guru itu mudah dan tidak menggali keempat kompetensi itu? Jika apa yang disampaikan di atas adalah sebuah fakta, maka dunia pendidikan memang harus dibenahi mulai dari awal sekali. 

Kompetensi paedagogik adalah kompetensi penting. Di dalamnya dipelajari tentang bagaimana seorang guru harusnya bisa mengetahui karakter siswa, mengetahui pendekatan apa yang sebaiknya dilakukan pada beragam masalah yang kemungkinan muncul, mengetahui psikologi perkembangan remaja, dan masih banyak lagi. 

Pengamat pendidikan yang hadir itu berkesimpulan, "Jika semua guru mempunyai kompetensi paedagogik dengan baik, maka kasus seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi."

Pengamat pendidikan yang dihadirkan pagi itu juga bilang, "Seharusnya, orang yang menjadi guru adalah mereka yang terpanggil jiwanya. Orang yang memang senang mengajar dan bukan hanya pelarian." 

...memang begitu seharusnya. 

Sekarang, bagaimana sudut pandang dari sisi orang tua? 

Dari beberapa situs yang saya baca, dikatakan bahwa: ketika mendengar kabar anaknya dipukul oleh guru, si orang tua langsung ke sekolah. Katanya, ia hanya ingin menanyakan baik-baik ke kepala sekolah, mengapa anaknya sampai dipukul oleh seorang guru. 

Setibanya di sekolah, orang tua ini ternyata justru melihat guru yang memukul anaknya di depan    kebetulan, katanya, si orang tua ini pun mengenal guru yang bersangkutan dengan baik. Guru itu sedang berdiri dan mengobrol dengan seseorang. 

Orang tua siswa tersebut mendekati si guru dan hendak bertanya ketika ia merasa justru guru yang ditanya agak menantang. Menjawab pertanyaan yang diajukan dengan nada emosi. Refleks saja si orang tua memukul sang guru, tepat di hidungnya hingga berdarah. 

Lebih lengkapnya lihat pengakuan orang tua itu di gambar berikut: 
Kasus Pemukulan Guru Terjadi Lagi, Begini Kronologis dan Cara Menyikapinya
Pengakuan orang tua siswa.
.
.
.
.
.
Setelah mengetahui lebih jelas akan kasus ini, maka seharusnya kita bisa bersikap lebih bijak dan benar. 

Pendidikan adalah sebuah sistem yang harus mendapatkan dukungan dari semua stake holder: orang tua, sekolah dan semua yang ada di dalamnya, lingkungan, dan pemerintah. 

Kesemuanya harus saling bergandeng tangan, saling bahu membahu mendidik anak-anak ke jalan yang benar. Satu dan yang lainnya harus melakukan komunikasi yang baik, sehingga masalah seperti ini tidak mudah terjadi. 

Sebagai seorang guru, kita tidak boleh mudah emosi dan gampang melakukan pemukulan. Pelajari dengan baik psikologi perkembangan dan teknik-teknik lain dalam mendekati siswa kita. 

Sebagai orang tua, kita pun jangan mudah marah dan berang jika anak mendapatkan teguran. Teliti dengan baik, apa sebabnya? 

Sebagai lingkungan, mari ciptakan suasana yang nyaman dan mendukung pembelajaran. 

Sedangkan sebagai pemerintah, buatlah peraturan yang melingkupi kesemuanya. Lindungi siswa, juga lindungi guru. 

Demikian. 

2 komentar

avatar

Berarti kunci dari semua masalah itu sebetulnya ada pada kesadaran akan tugas dan tanggung jawab masing2 serta pentingnya pengendalian emosi ya bang..

avatar

Menurut saya begitu mbak..

Terimakasih sudah berkunjung..


EmoticonEmoticon