Like Fanpage Bang Syaiha

Makan Tiga Kali Sehari itu Propaganda Barat

By Bang Syaiha | Wednesday, 17 August 2016 | Kategori:

Kurangi makan mulai dari sekarang
"Kenapa sih sehari harus makan tiga kali?" istri saya bilang, mulutnya sedang mengunyah makanan. Kami sedang menikmati hidangan malam ketika ia bertanya demikian. 

"Nggak harus." saya menjawab singkat, "makan itu tidak mesti tiga kali sehari."

"Tapi, sebagian besar orang Indonesia demikian, makan tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam." 

"Benar, memang demikian. Tapi itu bukan alasan logis bahwa makan itu harus tiga kali sehari, toh?" 

Istri saya mengangguk. Tangannya sibuk hendak menyuap lagi. "Mungkin karena sudah terbiasa kali ya?" 

Saya mengangguk, mengiyakan. Berkata kemudian, "Makan itu, seharusnya adalah ketika lapar. Lalu berhenti sebelum kenyang. Jadi, tidak harus tiga kali sehari. Kalau laparnya hanya pagi dan petang, ya berarti makannya dua kali saja sehari. Cukup." 

Istri saya diam ketika saya melanjutkan, "Makan tiga kali sehari itu konspirasi besar. Propaganda dari dunia barat." 

Kening istri saya mengernyit, mungkin hendak bertanya, "Konspirasi besar? Propaganda Barat? Maksudnya bagaimana?"

Mengerti akan hal itu, saya lalu menjelaskan sekenanya, "Makan tiga kali sehari adalah penyebab utama kegemukan. Orang-orang, entah lapar atau tidak, entah butuh atau tidak, kemudian makan setiap pagi, siang, dan malam." 

"Belum lagi kalau orang itu doyan ngemil. Maka semakin mudah saja tubuhnya melar." 

Istri saya entah mendengarkan atau tidak, tetap saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya. 

"Nanti, kalau tubuhnya sudah melar, maka ia menjadi malas. Susah bergerak dan menjadi tidak produktif. Belum lagi penyakit yang mudah menghampiri. Entah itu diabetes, asam urat, jantung koroner, darah tinggi, dan sebagainya." 

"Keadaan demikian, jika dibiarkan terus menerus, akan membuat pelan tapi pasti, obesitas menjangkiti. Orang-orang semakin besar, tapi tenaganya kecil. Lemah dan mudah dihabisi." 

"Masa sampai segitunya sih, Abi?" 

Saya mengangkat bahu pelan, tidak menjawab apapun lagi. 

"Tapi..." istri saya melanjutkan, "kalau nggak makan tiga kali sehari, emang lapar sih. Jadi nggak salah dong makan tiga kali." 

"Jika memang lapar, ya tidak salah." 

Istri saya diam lagi, kembali seperti tadi: makan dengan lahap. Padahal lauk yang ada hanya telur dadar, sambal goreng, dan daun singkong direbus. Tidak lebih. 

"Lambung kita itu elastis. Mungkin seperti karet." saya hendak menjelaskan lagi, teringat materi kuliah yang pernah disampaikan dosen ketika di kampus, "artinya, ia bisa mengembang dan mengempis sesuai makanan yang dimasukkan." 

"Jika sejak lama makanan yang masuk adalah banyak, maka lambung kita akan terbiasa demikian. Lambung akan menjadi besar dan jika makanan yang dimasukkan sedikit, ia selalu menagih untuk ditambah lagi hingga penuh." 

"Tapi jika makanan yang dimasukkan memang dari dulu sedikit, secukupnya saja. Maka ukuran lambung akan menyesuaikan. Ia tidak butuh makan terlalu banyak. Sebentar saja, maka ia akan merasa kenyang dan berhenti makan. Orang-orang seperti ini akan memiliki tubuh yang bagus, ideal, dan tentu saja jarang sakit     umumnya demikian."

"Kalau udah terbiasa makan banyak, bisa dikurangi, Bi?" istri saya bertanya. 

"Bisa. tentu saja." saya menjawab demikian, "pertama, mulailah kurangi makan. Memang benar, di awal-awal pasti perut akan nagih minta diisi lagi. Kita harus kuat melawannya. Jika lapar, bawa jalan-jalan saja, atau minum air putih. Jika bisa bertahan pada kondisi demikian, maka dalam jangka waktu tertentu, lambung akan mengecil dan menyesuaikan dengan jumlah makanan yang dimasukkan." 

"Atau.." istri saya hendak memberi pendapat, "jika lapar makan buah saja kali ya?" 

Saya mengangguk. Benar. Itu ide yang bagus. 

Kami berdua lalu diam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menghabiskan sisa nasi di piring. 

"Jadi, tentang yang tadi..." istri saya kemudian bersuara, "apakah memang benar makan tiga kali sehari itu propaganda Barat, Bi?" 

Saya mengangkat bahu untuk kedua kalinya. Maksudnya, saya ingin bilang, "Nggak tahu. Tadi Abi cuma asal-asalan doang kok."


EmoticonEmoticon