Like Fanpage Bang Syaiha

Menyentuh Hati

By Bang Syaiha | Friday, 5 August 2016 | Kategori:

Menyentuh hati, cara mendekati anak-anak, salat di masjid, Bang Syaiha,
Mari ajarkan anak-anak kita ke masjid
Jadi ceritanya, sepulang dari masjid tadi, ketika saya sedang jalan sendirian ke rumah kontrakan, ada seorang anak yang memanggil. Karena jarak kami cukup jauh, ia berteriak sambil melambaikan tangan ke saya, "Pak, tunggu!" 

Saya menoleh ke arah suara. Kening saya kemudian berkerut, bertanya dengan raut wajah itu, "Siapa tuh anak dan ada perlu apa dengan saya ya?" 

Saya berdiri diam, menunggunya mendekat. 

Ia cengengesan, mungkin maksudnya hendak tersenyum. Tapi malu, bercampur sungkan dan segan. Jadilah ia seperti sekarang: nggak jelas maksud senyumannya. 

"Ada apa, Dek?" saya bertanya. 

Ia menjulurkan tangan, lalu bilang, "Mau lebaran dulu, pak. Maafin saya jika ada salah ya, pak." 

Saya menjabat tangannya erat, membiarkan ia menciumnya khidmat dan hormat. Lalu berkata, "Maafin saya juga jika ada salah." 

Diam beberapa detik. Lalu saya bertanya, "Kamu kelas berapa sekarang?"

"Kelas 6 SD, pak?" 

"SD-nya dimana?" 

Dia lalu menyebutkan sebuah sekolah yang letaknya memang tidak jauh dari perumahan tempat kami tinggal. Saya manggut-manggut mendengar jawabannya. 

"Sekolahnya lancar?" 

"Alhamdulillah, pak." 

Obrolan ringan itu kemudian selesai satu dua kalimat berikut. Si anak yang tidak saya kenal itu kemudian berpamitan pulang dan mengucapkan salam. Sedangkan saya, melanjutkan perjalanan sambil berpikir, "Tuh anak, siapa ya? Saya kan orang baru di perumahan ini..." 

Hingga setelah beberapa jenak berpikir, barulah saya ingat. Dia pastilah anak yang ketika Ramadan kemarin sering ke masjid untuk salat. 

Jadi ceritanya...

...suatu malam, masjid tempat saya biasa salat tarawih ramai. Anak-anak gaduh dan menyebabkan satu dua bapak yang sudah sepuh marah-marah. Anak-anak dibentak. Karena perlakuan itu, anak-anak lalu mengerut, seperti kerupuk yang direndam di air panas. 

Saya kasihan sekali melihat mereka demikian. 

Lalu, karena iba itulah, saya tergerak pelan-pelan mendekati mereka. Saya mundur ke barisan paling belakang dan mulai mengajak mereka bercengkerama. Saya tanya namanya, sekolah dimana, lalu mengajak salat mereka. 

Selesai salam, saya usap pundak mereka satu demi satu, berkata, "Tuh kan, kalian sebenarnya anak baik. Saya senang sekali tadi, kalian bisa salat sampai selesai dan tidak gaduh." 

Mereka cengengesan. 

"Kalian nggak suka dimarah kan?" 

Kompak sekali, mereka menggeleng. 

"Sama, saya juga tidak suka kalau kalian dibentak-bentak. Makanya yuk salat di samping saya dan jangan ribut. Nanti, kalau bisa diam dan tidak gaduh, saya beri hadiah. Mau?" 

Mereka mengangguk. Seperti boneka di dasbor mobil orang-orang kaya. 

Nah, siapa sangka, perlakuan kecil saya itu ternyata membekas di hati mereka hingga sekarang. Mereka masih sering ke masjid dan mungkin menunggu-nunggu saya sejak beberapa hari lalu. Saya senang dan berdoa, semoga saja mereka bisa bertahan lama demikian. 

Ketika saya menceritakan kejadian ini ke istri, ia bilang, "Oalah, pantesan, kemarin malam, ketika kita lagi ada tamu, mereka memang datang ke rumah. Mengucapkan salam dan bilang, bapaknya ada, bu?

Saya menjawab, "Iya, mungkin mereka mau lebaran. Minta maaf." 

"Wah, Abi hebat. Walau wajahnya menyeramkan, tapi hatinya tidak. Buktinya, anak-anak mudah sekali nempel sama, Abi. Alhamdulillah.." 

Saya merespon kalimat barusan hanya dengan seulas senyum saja. Antara ikhlas dan tidak. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon