Like Fanpage Bang Syaiha

Perempuan dan Ibu-Ibu Sering Kali Melakukan Hal Ini!

By Bang Syaiha | Wednesday, 3 August 2016 | Kategori:

Perempuan dan Ibu-Ibu Sering Kali Melakukan Hal Ini, Tukang sayur keliling, Bang Syaiha
Tawarlah Harga Sewajarnya. Kalau perlu malah jangan ditawar. 
Ini kerap terjadi di banyak perempuan, baik yang sudah menikah atau yang belum, baik yang masih gadis ataupun yang sudah menjadi ibu-ibu. [Saya punya ebook hingga ribuan, klik: Koleksi Ebook]

Ketika pergi ke pasar (atau belanja ke warung kecil milik orang kecil juga), mereka sering menawar tanpa ragu. 

Misal...

"Kangkungnya satu ikat berapaan, Bu?" 

"Dua ribuan, Neng.." 

"Tiga ikat lima ribu ya, Bu." 

"Wah, nggak bisa, Neng.. Udah pas itu, satu ikat Rp.2000,-" 

"Ya sudah deh kalau tidak bisa." 

Sebagian perempuan (tidak semua sih) lalu beranjak, hendak pergi ke penjual sayur yang lain. Mungkin dalam hatinya berkata, "Kalau nggak mau kurang ya udah, aku ke penjual sebelah saja. Kayak cuma dia saja penjual sayur disini. Huh!

Melihat calon pembelinya hendak pergi, ibu penjual kangkung bilang, "Ya sudah deh, Neng.. Nggak apa-apa. Tiga ikat lima ribu." 

Perempuan tadi tersenyum, bahagia sekali. Senang bukan alang kepalang karena merasa sudah menang. 

Di lain kesempatan, kebanyakan (sekali lagi, tidak semua sih ya) perempuan juga melakukan hal ini: 

Ia baru saja makan di sebuah restoran mahal. Bangga sekali rasanya. Seakan hebat dan kaya. Menjadi lebih terpandang karena sudah menikmati makanan mahal: hidangan yang jumlahnya hanya seumprit, tapi harganya selangit. 

Si pelayan datang, membawa tagihan. Totalnya adalah Rp.480.000,-. 

Sebagian perempuan, karena tidak ada uang pas, maka biasanya akan menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan kepada pelayan dan dengan senyuman bak pahlawan, berkata, "Silakan ambil saja kembaliannya." 

Setelah itu, ada rasa yang entah apa di dalam dada. Susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. 
.
.
.
.
.
Teman-teman, tentu saja, dua hal di atas boleh dilakukan. Menawar harga barang yang hendak dibeli adalah wajar. Sah alias normal. Tidak melanggar hukum. Juga memberikan tips kepada pelayan tadi. Itu mulia sekali, sedekah yang semoga dibalas oleh Allah sebagai amal kebaikan dan berharap kelak menjadi surga. 

Hanya saja, ada baiknya, kebiasaan pada kasus pertama dikurangi. Si ibu pedagang sayur di pasar atau pedagang keliling itu orang kecil, mereka hidup dari apa yang mereka jual dan paling-paling, untungnya juga tidak seberapa...

...seribu dua ribu saja. Nggak banyak. 

Belum lagi, barangkali, di rumah, ada anaknya yang sakit. Ada anaknya yang sedang butuh uang buat sekolah dan pendidikan. Maka sekali lagi, nanti, setelah membaca tulisan tidak karuan ini, jangan ditawar jika ada ibu-ibu (atau bapak-bapak) penjual sayur yang lewat. 

Penghasilan mereka hanya darisana. Untungnya juga mungkin tidak seberapa. Membayar mereka tanpa menawar, semoga menjadi amal mulia. Toh kita juga tidak akan menjadi miskin seketika karenanya. 

Kalaupun memang harganya lebih mahal seribu dua ribu dari yang lain, anggap saja sebagai sedekah dan niatkan untuk membantunya. 

Bagaimana? Siap? 

3 komentar

avatar

Alhamdulillah..saya tidak pernah nawar kalau urusan beli sayur mayur..

avatar

Saya suka nawarnya dikedai elektronik..klo beli barang elektronik.


EmoticonEmoticon