Like Fanpage Bang Syaiha

Susahnya Menyeleksi Siswa pada Ajang Lomba Ceramah di Sekolah

By Bang Syaiha | Tuesday, 9 August 2016 | Kategori:


Ketika menulis postingan ini, sebenarnya saya sudah mengantuk sekali. Lelah bukan main. Pasalnya, seharian ini saya di sekolah. Mengajar dari pagi hingga petang, dan ketika hendak pulang, seorang guru malah memanggil saya, berkata: "Bang Syaiha, setelah salat asar bisa menyeleksi siswa untuk lomba ceramah nggak?" 

"Harus saya, Bu?" 

Yang ditanya hanya diam, mengangkat bahunya sedikit, dan tersenyum tulus. Mungkin dia ingin bilang, ya mau siapa lagi? 

Baiklah. Tidak ada pilihan lain selain menyanggupinya. Menolaknya juga tidak mungkin. Karena ketika saya lihat ke kiri dan ke kanan, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sekolah. Sebagian guru sudah pulang ke rumah masing-masing. 

Ya sudah, bismillah.. Saya mengiyakan. 

Seleksi lomba itu dimulai jam 16.14 WIB, telat 14 menit. Padahal, sebelum pulang sekolah, saya sudah mengingatkan ke anak-anak, "Kumpul di ruangan saya jam 4 sore teng! Jangan telat."

Eh, rupanya mereka terlambat juga. 

Sebagian mungkin akan bergumam, "Ah, cuma 14 menit ini, Bang.." 

Wah, maaf saja.. Saya adalah orang yang selalu ontime dan tidak suka jika ada orang yang menyepelekan hal ini. Kalau memang janji jam empat sore, maka jam empat itulah seharusnya semua sudah berkumpul dan acara bisa dimulai segera. 

Seleksi lomba saya buka. Tapi tepat sebelum memulainya, saya sempat mengirimi pesan singkat ke istri, mengabarkan, "Ummi, maaf ya. Hari ini Abi pulang agak telat. Abi diminta menyeleksi siswa yang akan ikut lomba ceramah minggu depan." 

Tidak butuh waktu lama, pesan itu berbalas, "Iya, nggak apa-apa. Yang penting jangan lupa makan kalau laper. Jangan sampai seperti kemarin, pulang-pulang kok perut sampai keroncongan." 

Duh, senangnya.. Istri saya memang baik dan pengertian. Beruntung sekali bisa memilikinya. Sudahlah cantik, imut-imut, baik lagi.. (semoga bagian ini dibaca istri saya, biar hatinya berbunga-bunga.. hehehe..

Balik lagi ke seleksi lomba tadi. 

Jadi, ada sekitar sembilan siswa yang saya harus dengarkan ceramahnya. Setiap siswa saya beri waktu lima menit untuk ke depan, berpidato sungguhan dan totalitas. Mengapa demikian? Tentu saja, karena saya harus memilih dua saja diantara mereka. Tidak mungkin kesembilan-sembilannya ikut semua. 

Pidato yang mereka bawakan tadi bertema bebas. Terserah merekanya, siap dengan tema apa. Tadi, ada yang membawakan tentang kejujuran, mulianya menuntut ilmu, manusia sebagai makhluk Tuhan, dan sebagainya. Semuanya berhasil menuntaskan tantangan yang saya berikan. 

Mereka luar biasa. Sungguh!

Saya sampaikan kepada mereka, bahwa semuanya sudah tampil sangat bagus. Bahkan, jujur saja, ketika saya seusia mereka malah tidak bisa melakukan hal yang sama. Mereka baru kelas 2 dan 3 SMP, tapi bisa tampil di depan orang banyak dengan tema yang cukup berat. 

Sedangkan saya dulu, saat berada di usia seperti mereka sekarang, tidak berani maju ke depan kelas. Kaki bergetar, jantung berdegup lebih kencang, dan groginya luar biasa. Sebagai orang kampung, saya memang tidak berani ngomong di keramaian, dulu. 

Selanjutnya, selesai memuji mereka semua, saya tetap harus mengambil keputusan dan memilih dua saja. Dua siswa ini adalah yang menurut saya paling bagus suaranya, bulat dan jelas. Paling teratur intonasinya, dan lain-lain. 

Sedangkan yang tidak terpilih, saya tegaskan ke mereka bahwa bukan karena tidak baik, tapi karena belum beruntung saja. Mereka semua bagus-bagus, cuma memang ada yang beberapa orang yang lebih bagus. 

Saya hati-hati sekali menyampaikan semuanya, berharap mereka mengerti dan tidak salah paham. 

Bagaimanapun, saya tidak ingin membuat salah satu dari mereka sakit hati dan putus asa. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon