Like Fanpage Bang Syaiha

Ulasan Lengkap Tentang Ide Full Day School

By Bang Syaiha | Wednesday, 10 August 2016 | Kategori:

full day school, muhadjir effendy, menteri pendidikan, Bang Syaiha
Anies Baswedan dan Mudjir Effendy pada sebuah acara
Beberapa hari yang lalu, ketika sedang duduk menunggu bel masuk sekolah berbunyi, saya berselancar di dunia maya dan mendapati gagasan dari menteri pendidikan baru kita, Muhadjir Effendy. Katanya, ia ingin merancang sebuah sekolah yang full day. 

Mendapati berita itu, saya kemudian kepo. Dalam hati, saya berujar: "Keren nih jika anak-anak bisa di sekolah seharian! Asal, mereka tidak belajar. Tapi bermain!" 

Kekepoan saya berlanjut dan menggerakkan jemari saya untuk berselancar, membaca banyak berita dan ingin tahu. Hasilnya? Mari disimak!

Definisi Full Day School

Simpelnya, menurut hemat saya: full day school adalah seharian di sekolah. Dari pagi hingga sore. Seperti di tempat saya mengajar sekarang, anak-anak bahkan sudah sejak pukul 06.30 pagi di sekolah, dan baru kembali ke asrama setelah salat asar. 

Apa Sebabnya Hingga Menteri Memunculkan Ide Full Day School? 

Tentu saja, saya amat sangat yakin bahwa ide tentang ini pasti ada latar belakangnya. Nggak mungkin ada asap jika tidak ada apinya, toh. Nggak mungkin ada ide ini dan itu jika sebelumnya semua baik-baik saja. Ide hadir karena merasa ada yang harus dibenahi, diperbaiki menjadi lebih baik lagi. 

Dan ketika saya membaca beberapa situs berita, tahulah saya bahwa ide menerapkan full day school untuk sekolah dasar ini disebabkan karena pengetahuan tentang begitu mengerikannya pengaruh lingkungan di luar sekolah kepada perkembangan dan psikologis anak-anak. 

Di sekolah, mereka diajari banyak hal, tapi ketika pulang dan mendapati tidak ada pengawasan, anak-anak salah pergaulan. Mereka menjadi nakal dan timbullah beragam tawuran. 

Saya juga menemukan fakta bahwa pak menteri menginginkan anak-anak tetap di sekolah jika memang orang tuanya bekerja. Tunggu sampai sore. Nanti, ketika orang tua mereka sudah kembali dari kantor, maka silakan mampir ke sekolah dan jemput sendiri anak mereka. 

Dengan begitu, pergaulan anak-anak menjadi lebih terjaga dan ada yang mengawasi.  

Teknis Full Day School yang Dirancang itu Bagaimana? 

Nah, ini penting sekali. Karena jika kita tidak mengetahui akan hal ini, maka kita kemudian seenaknya berteriak, mencak-mencak: "Anak sekolah setengah hari saja sudah stress! Ini malah mau ditambah hingga sore!" 

"Anak-anak itu manusia! Bukan robot! Dunia mereka adalah bermain! Bukan di sekolah seharian dan belajar!" 

Jadi, menteri pendidikan kita, Muhadjir Effendy menginginkan anak-anak tetap di sekolah setelah belajar setengah hari     inget ya, belajarnya hanya setengah hari saja. 

Selepas itu, anak-anak memang tetap disana, tapi bukan belajar. Melainkan melakukan hal lain yang positif. Misalnya, bermain, mengikuti ekstra kurikuler, mengobrol bersama guru, menonton film edukasi yang mendidik, dan sebagainya. 

Muhadjir juga bilang, selepas sekolah, anak-anak bisa belajar mengaji, atau mengikuti kegiatan keagamaan yang bermanfaat           untuk bagian ini saya kurang sepakat. Karena ini sama saja belajar dan anak-anak kasihan

Yang saya inginkan adalah, anak-anak tetap di sekolah hingga petang     atau hingga asar, tapi hanya bersenang-senang. Kalau perlu, ajarkan mereka permainan tradisional: gobag sodor, patok lele, engklek, congklak, bermain tali, dan sebagainya. 

Orang-orang tidak memahami ini, beranggapan bahwa full day school itu berarti anak-anak seharian di sekolah dan belajar. 

Jika demikian, maka memang benar, akan kasihan sekali anak-anak. Dunia mereka seharusnya bermain, eh malah diisi dengan belajar. Duh...

Keuntungan Penerapan Full Day School 

Setidaknya, ada tiga hal yang bisa didapatkan dari penerapan full day school ini: 

Satu, tidak ada jam pelajaran setelah pulang. Anak-anak hanya bermain dan bersenang-senang hingga petang. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir dan cemas. Justru sebaliknya, orang tua akan merasa tenang, karena anak-anak mereka tetap di sekolah tanpa terpengaruh lingkungan luar yang kian mencekam. 

Dua, orang tua kan menjemput anak mereka ketika sore hari. Inilah yang diharapkan menteri pendidikan kita. Sehingga dengan aktivitas ini, anak-anak akan tetap dekat dan berkomunikasi baik dengan kedua orang tuanya walaupun mereka bekerja di kantor. 

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak telah terbukti bagus pada perkembangan siswa dan generasi kita. 

Tiga, menunjang sertifikasi guru di sekolah. Nah, jika di poin satu dan dua tadi keuntungan lebih pada siswa dan orang tua, maka di poin ketiga ini, keuntungan ada pada guru. Sekolah yang menerapkan full day school, diharapkan bisa memenuhi jam mengajar guru-guru tersertifikasi agar bisa memenuhi 24 jam pelajaran setiap minggunya. 

Tantangan Menerapkan Sistem Full Day School

Setelah membaca beragam berita dan mengetahui latar belakang, teknis pelaksanaan, dan keuntungan yang didapat, maka secara pribadi saya setuju dengan sistem ini. 

Hanya saja, ada hal-hal yang harus diperhatikan memang. Seperti: 

Pertama, pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan guru  di sekolah. Mau tidak mau, jika sistem ini diterapkan, maka gaji guru harus disesuaikan agar mereka bisa nyaman dan tenang menjalankan semua program. 

Jangan sampai jam di sekolah bertambah, tapi gaji bulanan tidak bergerak sama sekali. Khawatir guru-guru malah tidak maksimal. 

Kedua, selain gaji per bulan yang harus disesuaikan, pemerintah juga harus meningkatkan kualitas guru di sekolah. Mereka harus dibekali dengan kemampuan membuat suasana menyenangkan. Guru-guru harus bisa membuat anak-anak senang. Guru-guru harus bisa menjadi teman bermain dan tertawa riang. 

Ingat ya, setelah sekolah hingga tengah hari, anak-anak kan tidak belajar, tapi bermain. 

Ketiga, selain tentang guru, sekolah pun harus berbenah. Sarana dan prasarana harus dicukupi. Sediakan lapangan olah raga, tenis meja, jika perlu kolam renang. 

Sediakan juga taman yang asri dan menyejukkan. Buat perpustakaan yang dingin dan nyaman      silakan ke perpustakaan sekolah saya jika butuh referensi. Disana ada koleksi buku yang banyak, ada ruang audiovisual untuk menonton selaiknya bioskop mini, dan sebagainya

Minimal tiga hal itu: gaji guru setiap bulan di sesuaikan, kemampuan pengajar ditingkatkan, lalu sarana dan prasarana dicukupkan, maka sistem yang Muhadjir rencanakan itu bisa diterapkan. 

Kabar Terbaru tentang Full Day School

Ide yang sempat berkembang beberapa hari belakangan membuat banyak netizen berang. Mereka tidak ingin program full day school ini diterapkan. Apa pasal? Apalagi jika bukan karena kekhawatiran mereka akan nasib anak-anak di sekolah. 

"Sekolah setengah hari saja anak-anak sudah stress, apalagi jika seharian!" 

Berikutnya, muncul petisi untuk membatalkan ide ini. 

Akhirnya, Muhadjir ngambek dan berkata, "Baru ide saja kok. Tapi jika masyarakat tidak suka. Ya sudah! Tidak jadi juga tak mengapa." 


2 komentar

avatar

Bang, trus saya yang profesi guru dgn 32 JP perminggu, jk full day school, sy jd berapa JP perminggu? dan hak anak saya di rumah apakah tidak terabaikan?

avatar

Itu juga tantangannya mbak.. Kalau mau Full Day, bisa jg siangnya guru.. Bukan guru sekolah....


EmoticonEmoticon