Like Fanpage Bang Syaiha

Bukan Reportase: Kelas Perdana Anggota Pramuda FLP Bogor Angkatan 9!

By Bang Syaiha | Sunday, 4 September 2016 | Kategori:

Lihat, betapa seriusnya mereka berdiskusi!
Ahad, 4 September 2016, kelas perdana Pramuda FLP Bogor akhirnya dimulai. Ini adalah kelas pertama dari delapan kelas yang direncanakan. Dan jika boleh mengibaratkan, maka kelas pertama ini seperti pemanasan mesin. Isinya hanya perkenalan, membahas kontrak belajar, dan materi umum yang semoga menjadi penambah motivasi dan semangat semua anggota, bahwa setiap orang istimewa dan bisa menulis apa saja. 

Saya hadir sejak pagi. Sekitar jam setengah delapan, sudah ada di ruangan. 

Saya beruntung, karena di masa sekarang, ojeg online bertebaran dimana-mana, persis seperti jamur yang mulai bermunculan di musim penghujan. Keberadaan mereka   ojeg online   sangat membantu mobilitas saya hari ini. 

Saya sempat khawatir telat karena baru berangkat sekitar jam tujuh kurang lima belas menit. Padahal rumah kontrakan saya jauh, jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Tapi sekali lagi, keberadaan ojeg online sangat membantu. Mereka bisa diandalkan dalam banyak hal: mencari jalan pintas, menghindari kemacetan, dan sebagainya. 

Sehingga saya bisa sampai ketika kelas belum dimulai. 

Kelas Pramuda FLP Bogor tadi pagi direncanakan akan dimulai pada jam delapan, tapi karena banyak dari calon anggota tersebut tidak mengetahui ruangan yang dijadikan kelas, maka drama kesasar dan kebingungan mencari lokasi kuliah pun terjadi. 

Alhamdulillah, semua panitia sigap. Satu dua malah cekatan menjemput mereka yang kehilangan arah   asik! 

Kelas dimulai dengan membaca basmallah, tilawah, kata sambutan dari saya, dan penyampaian materi yang didelivery dengan sangat baik oleh mbak Novita. 

Dalam kata sambutan yang saya sampaikan, saya bilang, "...bahwa menulis adalah pekerjaan jangka panjang. Prosesnya lama dan hasil yang didapatkan, kadang, belum tentu sepadan. Bayangkan saja, perjalanan untuk menerbitkan buku itu sangat melelahkan."

"Dimulai dari kalian harus membuat naskah yang tidak sedikit    minimal 150 halaman A4, mengirimkannya ke penerbit dan menunggu dalam waktu yang lama   padahal, setelah menunggu lama juga, belum tentu diterima    , atau, jikapun diterima, perjuangan itu belum juga usai." 

"Kalian harus tetap bekerja keras memasarkan. Karena jika tidak, buku kalian belum tentu laku! Nggak jaminan kan, kalau buku sudah masuk ke Gramedia, maka ia akan laris kemana-mana?" 

"Lalu, kalaupun ada yang terjual, royalti yang kalian dapat juga tidak banyak. Paling banter lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah saja. Dan itu akan dibayarkan dalam tiga bulan sekali, atau malah ada yang enam bulan sekali." 

"Jadi, intinya, menerbitkan buku lalu menjualnya itu adalah pekerjaan berat yang hasilnya   sekali lagi saya bilang   kadang tidak sepadan dengan apa yang sudah kita korbankan   waktu, pikiran, dan kadang juga modal. Maka jika kalian masuk ke FLP Bogor hanya untuk itu, ketenaran dan kekayaan, lebih baik dipikirkan ulang." 

"Karena saya khawatir, ia tidak akan kalian dapatkan." 

"Tapi, jika kalian masuk ke FLP Bogor karena kecintaan kalian pada dunia kepenulisan, maka yuk, mari, kita sama-sama saling menyemangati dan memotivasi diri agar menjadi lebih baik lagi. Kita sama-sama belajar ke arah sana, meningkatkan kualitas tulisan dari hari ke hari." 

Itulah yang saya sampaikan, semoga ada yang mengerti arah pembicaraan saya. 

Sedangkan materi utama, dijabarkan oleh mbak Novita. Ia adalah bendahara umum sekaligus manager kelas Pramuda.  

Tadi, beliau menjelaskan tentang: Different Side of Me! Dan yang saya tangkap dari apa disampaikan beliau adalah: 

...bahwa setiap orang istimewa dan kita harus sadar keistimewaan kita masing-masing. Entah dia introvert, ekstrovert, Sensing, Intuiting, atau apa saja, semuanya spesial. Satu yang lain, tidak lebih baik dari yang lainnya. 

Beliau menjelaskan bahwa setiap karakter memiliki kekuatan masing-masing, sehingga kekuatan inilah yang seharusnya digali untuk bisa menghasilkan tulisan yang nanti menginspirasi orang banyak. 

Ekstrovert misalnya, ia biasa mendapatkan energi dari luar. Ide-idenya akan semakin sempurna jika dan hanya jika ia sering menceritakan kepada orang lain, sehingga sejalan dengan itu, ia akan semakin termotivasi untuk mewujudkan. 

Berbeda dengan introvert yang untuk mendapatkan energi dan bertindak, lebih suka berdiam diri dan merenung dengan perenungan yang dalam. 

Mbak Novita menyampaikan ini bukan untuk mengkotak-kotakkan si A ekstrovert dan si B introvert, lalu tidak boleh saling bertukar pendapat. Tapi jauh daripada itu, yang saya tangkap, mbak Novita ingin menyadarkan setiap anggota dia ada dimana, introvert atau ekstrovert, sensing atau intuiting?

Sehingga kalau sudah sadar, harapannya, dia akan lebih tahu bagaimana memperoleh energi ketika proses kepenulisannya mandeg di tengah jalan. Benar begitu, mbak Nov? 

Kelas Pramuda hari ini berjalan lancar dan menyenangkan. Saya melihat ada semangat yang membara, ada antusiasme di sorot mata anggota Pramuda. Dan semoga, semangat dan antusiasme itu, tetap ada hingga inaugurasi   pelantikan menjadi anggota muda   terlaksana. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon