Like Fanpage Bang Syaiha

Ceramah Agama dari Driver Ojek Online

By Bang Syaiha | Monday, 12 September 2016 | Kategori:

nasihat bisa datang darimana saja dan dari siapa saja, driver ojek online, mengejar harta nggak akan ada habisnya, Bang Syaiha

Hari Sabtu lalu, ketika saya ke rumah mertua menggunakan ojek online, drivernya bilang: "Hidup di dunia cuma sebentar, buat apa ngelakuin hal-hal yang nggak bener hanya untuk uang. Harta mah, kalau dikejar terus-menerus, nggak akan selesai sampai kita mati. Capek, mas!" 

Saya menelan ludah. Pipi saya seperti baru saja ditampar keras sekali. Saya disadarkan akan sesuatu. Teringat kembali apa yang pernah orangtua saya bilang dulu, "Mengejar harta itu sama seperti kamu minum air laut, nak. Semakin diminum, bukannya hilang haus, malah semakin menjadi." 

Nasihat memang bisa datang dari siapa saja. Dari mana saja. Termasuk dari driver ojek online beberapa hari lalu. Dan ketika dia berkata banyak hal tentang agama, maka saya mendengarkan. Menyimak penuh khidmat. 

"Sebelumnya, saya bekerja di Bank. Gaji saya setiap bulan besar. Tapi ya itu, hidup saya seperti tidak tenang. Selalu ada target, rasa bersalah kepada orang-orang yang kreditnya macet, dan sebagainya." 

"Tapi sejak saya keluar dan kemudian menjadi driver di ojek online ini, saya menjadi lebih tenang. Makan cukup, kerja fleksibel, dan ada waktu banyak untuk keluarga. Alhamdulillah." 

"Memang sih, pendapatan saya tidak sebesar ketika kerja di perbankan. Tapi nggak apa-apa. Karena kenyamanan dan ketenangan yang saya dapatkan jauh lebih berharga daripada apapun," katanya lagi. 

"Insya Allah, mas," saya berkomentar, "rejeki kita mah nggak akan ketukar. Kalau rejeki kita sekian, maka ya sekian yang akan kita dapatkan. Entah itu datang dari ojek online, berdagang, bekerja, atau darimana saja." 

Kali ini di driver ojek online itu yang mengangguk. Membenarkan apa yang baru saja saya bilang. 

"Iya, makanya, untuk urusan dunia dan harta, mengejarnya nggak perlu mati-matian. Apalagi sampai melupakan Tuhan   nggak salat misalnya. Orang kayak gini nih keblinger. Ingin minta rejeki banyak, tapi malah menjauhi yang memberi rejeki. Aneh!" 

Saya tidak menjawab apapun. 

"Saya dulu kayak gitu, Mas. Waktu masih kerja di Bank." terdengar nada penyesalan di dalam suaranya. "Untung sekarang tidak lagi. Setiap ada masjid dan waktu salat sudah masuk, maka saya mampir dan salat di sana." 

"Syukurlah, Mas..." saya berkata demikian, "semoga kita, selalu ingat akan Allah." 

"Aamiin.." 

...dan percakapan kemudian berakhir karena saya sudah sampai tujuan.


1 komentar:

avatar

Benar, lebih sering pekerjaan kantor melalaikan kita Dari panggilan sholat..


EmoticonEmoticon