Like Fanpage Bang Syaiha

Kepingan Puzzle yang Hilang (1)

By Bang Syaiha | Friday, 23 September 2016 | Kategori:


Bulan menggantung di langit ketika Ucok bertanya di ujung telpon, "Kau mulai kecanduan, Boi?"

Mendapatkan pertanyaan demikian, aku menaikkan kedua ujung bibir, menyeringai, dengan dua mata masih awas memandang ke tiga orang yang tergeletak merintih di depan sana. Satu memegangi perutnya, Satunya lagi memegangi bibir yang sepertinya berdarah. Lalu, sisanya, mencengkeram kepalanya sendiri yang pasti benjol karena benda tumpul yang beberapa menit lalu kupukulkan sekuat tenaga kepadanya. "Kecanduan? Maksud, Lo?"

"Sudah lah, Boi! Akui saja!" Aku tahu, di ruangannya, Ucok pasti sedang mengibaskan tangan.

Mengerti maksud perkataan Ucok, aku tertawa pelan, hampir tanpa suara malah. Ini seperti seringai serigala yang angkuh, "Ini mengasikkan, Cok. Dan gue emang butuh pelampiasan.” Aku menendang sebuah batu sebesar kepalan tangan di bawah kakiku, yang kemudian melayang entah kemana.  “Sudahlah, buruan Elo kesini! Bawa borgol sekalian! Tiga bajingan ini harus Elo bawa ke kantor polisi dan masukin ke penjara!”

“Siapa tiga orang itu?”

“Biasa! Preman jalanan oon yang nggak ngerti mana mangsa yang tepat! Mereka mau nyoba mbegal gue barusan. Ya udah, mumpung lagi gatel juga nih tangan, sekalian aja gue hajar habis-habisan!”

“Mereka mau ngerampok Elo, Boi?”

“Udah nggak usah kayak emak gue deh! Pakai sok cemas segala! Emak gue juga nggak gitu-gitu amat! Mereka udah gue beresin! Noh, lagi pada meringis kesakitan semua!”

“Ya udah, gue ke sana sekarang! Elo tungguin ya!”

“Sip!”

Lalu percakapan kami di telpon berakhir.

*****

Sambil menunggu Ucok tiba, aku kembali menghubungi seseorang, “Halo. Masih belum tidur, Pa? Iya, maaf, Boi agak telat pulangnya. Di kantor lagi banyak kerjaan, jadi pulang kemaleman.”

“Kamu sekarang di mana?”

“Di jalan, Pa. Barusan ada tiga orang yang mau nyoba-nyoba ngerambok, Boi. Tapi udah Boi atasi. Sekarang, Boi mau nungguin Ucok datang dulu buat bawa nih tiga begundal!”

“Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa.”

Aku tersenyum yang tentu saja tidak bisa dilihat Papa. Selarut ini, Papa pasti masih di ruang bacanya. Duduk di sofa yang embuk, memakai celana pendek dan kaos oblong, dan menggunakan kacamata baca. Ia memang hobi sekali belajar, melahap hampir setiap bacaan yang ada.

Aku ingat sekali, dulu, ketika ia menasihati, “Tidak pernah merugi orang-orang yang gemar membaca, Boi. Maka bacalah, belajarlah terus-menerus. Kamu boleh saja tidak sekolah, tapi kamu tidak boleh berhenti belajar.”

Bagi Papa, ada yang kurang jika seharian ia tidak membaca. Persis seperti pohon besar yang rindang, tapi tidak menghasilkan buah. Ia berguna, tapi kurang sempurna. 

“Oh iya, Pa,” aku teringat sesuatu, “kalau malam ini Boi nggak pulang, nggak apa-apa, kan? Kebetulan Boi udah lama nggak ngobrol-ngobrol bareng Ucok. Kalau diijinin, Boi mau ngajak Ucok ke kafe langganan. Ngopi-ngopi sambil cerita-cerita, lah!”

“Ya udah! Silakan.” Mama menjawab singkat.

“Terimakasih, Pa!”

Setelah menekan tombol akhiri panggilan, menutup flip ponsel, dan meletakkannya di saku celana, aku berjalan menghampiri ketiga orang yang masih mengaduh di aspal jalanan. Kudekati satu orang yang memegangi perutnya, menempeleng kepalanya pelan, “Heh! Jangan mati dulu! Kalian harus merasakan dinginnya lantai penjara!”

“A.. am.. ampuni kami, Bang...” suaranya terbata-bata.

Aku mendengus, “Ampuni? Enak bener! Setelah apa yang baru saja hendak kalian lakukan ke gue, mana mungkin gue ngasih kalian maaf. Cih!”

Satu dua detik lengang. Hanya ada desau angin.

“Dan lagi, stok maaf gue tinggal satu. Nggak mungkin gue kasih ke Elo!”

“Sa.. saya punya anak istri di rumah, Bang...”

“Terus? Selama ini, anak istri kalian diberi makan dari uang hasil merampok?” aku menyipitkan mata, bertanya yang tidak butuh jawaban, “Agama Elo apa sih? Berani-beraninya ngasih makan anak orang dengan harta haram!”

Aku melangkah ke mobil dan membuka pintunya. Kubuka laci di dasbor dan mengeluarkan sepucuk pistol yang memang selalu ada di sana. Hanya digunakan jika dalam keadaan terdesak. Kalau tidak salah, terakhir digunakan adalah satu tahun lalu, ketika ada tawuran antar preman di pasar induk. Setelah yakin bahwa senjata ini ada isinya, aku kembali mendekati tiga begundal yang masih kesakitan.

Sambil duduk sembarangan di trotoar, kuarahkan moncong senjata apiku ke arah penjahat tadi, “Heh, lihat sini!”

Susah payah ia menggerakkan kepalanya. Lalu, ketika ujung matanya menangkap bahwa ada bahaya yang bisa datang kapan saja kepadanya, ia menatap jeri. Kembali memohon, “Jangan bunuh saya, Bang.. Tolong...”
...bersambung...

7 komentar

avatar

Cerbung kah ini Bang?
Sekali duduk, tanpa edit aja hasilnya ciamik begini.
Warbiasyah Abang.

avatar

Sekali tulis, tanpa edit. No typo bang. Dan ngalir banget. Keren!

avatar

Waah... Gk bsa ngomong :)

avatar

Nggak bisa ngomong kenapa?


EmoticonEmoticon