Like Fanpage Bang Syaiha

Kepingan Puzzle yang Hilang (2)

By Bang Syaiha | Saturday, 24 September 2016 | Kategori:


Ini adalah cerita lanjutan. Maka agar utuh, ada baiknya baca kisah sebelumnya DISINI
.
.
.
.
Ceklek! 

Senjataku tidak berfungsi.

Padahal, satu penjahat yang berada tepat di depanku, baru saja memejamkan mata. Mungkin pasrah. Karena memang tidak ada lagi yang bisa ia perbuat. Sekali saja kutarik pelatuk pistol ini ke belakang, maka seharusnya pecahlah kepalanya. Dari jarak sedekat ini, bahkan, aku pun bisa memastikan bahwa otaknya pasti berhamburan keluar. 

Sambil mendengus sebal, aku bilang, "Elo beruntung karena ternyata mainan gue ini nggak meledak!"

Ia menatap nanar, cuma bisa berkata memelas, "Ampun, Bang... Ampun..." 

"Maafin, Elo? Enak saja!"

Beberapa menit yang lalu, aku baru hendak pulang dari kantor dan sengaja memilih jalan ini menuju ke rumah. Jalur ini memang tergolong sepi dan jarang dilalui. Jika bukan karena ingin segera sampai dan beristirahat, aku juga malas memutar kemudi ke sini. Kata orang rawan kejahatan. 

Tadinya, aku berbaik sangka saja: Rawan kejahatan sih, memang. Tapi semoga tidak terjadi apa-apa malam ini. Dengan keyakinan yang hampir penuh itulah kuinjak pedal gas, mengarahkan roda mobilku kemari.

Setelah hanya lengang dan gelap, tiba-tiba, lampu sorot kendaraanku mengenai sesuatu. Kulihat ada seorang lelaki yang terkapar di aspal. Di sebelahnya ada motor yang rodanya masih berputar. "Sepertinya ia baru saja jatuh." gumamku.

Orang yang tergeletak di jalan tadi, melambai-lambaikan tangan, meminta tolong.  Aku hendak mengabaikannya, ketika secara tidak sengaja, memori di kepalaku memunculkan wajah ayah dan ibuku dulu. Nasihat itu selalu terngiang, "Jangan lupa berbuat baik. Tolong orang yang memang membutuhkan! Jangan pilih-pilih!" 

Maka akhirnya, aku turun dari mobil, tidak berpikir macam-macam. Tidak ada firasat apapun sampai tiba-tiba, ketika aku hendak berjalan ke orang yang ada di aspal tadi, dari body mobil kulihat bayangan seseorang akan melayangkan sebuah kayu ke kepalaku. Aku menghindar dan ia hanya memukul angin.

Wus... Zonk!

"Bajingan!" teriakku yang langsung diikuti kuda-kuda siap bertarung. 

Ada dua orang yang datang tiba-tiba dari semak di pinggir jalan.  Satu memegang sebilah kayu sebesar lengan, satu lagi menggenggam golok. Kualihkan pandangan ke lelaki yang akan kutolong tadi, ia malah sudah berdiri sambil menyeringai, "Serahin semua harta lo kalau mau selamat," katanya.

"Cih!" aku meludah marah, "Ambil sendiri kalau kalian bisa!"

"Serang!" entah siapa yang berkata. Perkelahian kemudian tidak bisa dihindari. 

Mereka memang tiga orang dan aku sendirian. Tapi mereka amatiran. Jauh sekali perbedaan level kami dalam bertarung jarak dekat. 

Aku, Boi! Pemuda yang sepanjang hidupnya tumbuh di jalanan! Berkelahi, baik tangan kosong atau menggunakan senjata, sudah sering kulakoni! Jangankan satu lawan satu, satu lawan lima juga sering kujalani. 

Aku, Boi! Yang sejak beberapa tahun lalu, ketika Papa mengangkatku sebagai anaknya, aku diberi pendidikan khusus beladiri. Pelatih dari luar negeri didatangkan langsung, dari China dan Thailand. Tidak bersamaan memang. Aku belajar kungfu China dulu beberapa tahun, baru kemudian belajar cara membela diri dengan gaya khas orang Thailand. Menggunakan kaki dan lengan. 

Tidak sampai sepuluh menit, ketiga orang yang hendak merampokku tergeletak tidak berdaya. Kuperkirakan, satu orang gegar otak, satu patah tangan, dan yang tepat di depanku ini, setidaknya, ada tulang iganya yang patah.

Ceklek!

Sekali lagi, pistolku tidak meledak ketika kutarik pelatuknya. Aku mengumpat marah, "Sial!" 

Kupukul-pukulkan pelan ia ke telapak tangan, berharap ia menjadi lebih baik dan bisa digunakan, "Sepertinya, gue emang harus beli yang lebih baru!" 

"Ampun, Bang..." 

"Heh, setan! Elo bisa diem nggak sih? Sekali lagi elo minta ampun kayak banci, gue pecahin kepala, lo! Mau?" 

Kuarahkan lagi moncong pistol kepadanya, hendak kutarik pelatuknya ke belakang ketika sebuah suara menyapa telinga, "Boi, cukup!" 

Aku menoleh ke sumber suara. Ucok sudah berjalan mendekat dengan kostum khasnya: celana jeans, kaos berwarna gelap, dan jaket. "Biar anak buah gue yang bawa mereka ke kantor!" Selesai dengan kalimatnya barusan, ia memerintahkan beberapa orang polisi untuk membawa tiga penjahat yang babak belur tadi.

"Bawa ke rumah sakit dulu." kataku memberi usul, "Mereka butuh perawatan yang intensif sepertinya."

Penjahat tadi sudah dibawa oleh anak buah Ucok. Tinggal kami berdua, duduk di pinggir trotoar.

"Elo apain mereka?" Ucok bertanya, kedua tangannya di letakkan di atas lutur yang ia tekuk. Kami duduk lesehan di pinggir jalan.

"Elo lihat sendiri aja, gue hajar mereka habis-habisan." 

Setelah menghela napasnya pelan, Ucok bertanya lagi, "Elo lagi ada masalah?"

...bersambung...

6 komentar

avatar

Masih bersambung, penasaran sama endingnya

avatar

Baru Kali INI baca cerpen BG Syaiha

avatar

Endingnya masih lama, Mas... Baru juga awal..

avatar

ditunggu lanjutannya bang

avatar

masih menunggu kelanjutan nya cerita nya


EmoticonEmoticon