Like Fanpage Bang Syaiha

Kisah Nyata! Pacaran Lima Tahun, Sudah Menyerahkan Kehormatan, Malah Dicampakkan!

By Bang Syaiha | Wednesday, 7 September 2016 | Kategori:

Pacaran ngapain aja, aktivitas pacaran, hubungan suami istri, Bang Syaiha

Beberapa minggu yang lalu, ada seorang perempuan yang menghubungi saya via BBM   invite nih 5B795B75, menyampaikan keluh kesahnya: "Tolong saya, Bang! Saya benar-benar bingung dan sakit hati!" 

Loh, siapa nih tiba-tiba mengirimi pesan singkat sedemikian sebal ke saya? Begitu gumam saya pelan. Heran saja, kok ujug-ujug langsung bagitu. Mbok yo kenalan dulu, biar saya nggak kaget. 

Pesan itu berlanjut, ia mengenalkan diri, "Sebut saja nama saya Citra," ia bilang, "dan saya sedang benar-benar bingung akan masalah yang saya hadapi." 

Lengang sejenak. 

"Maukah Bang Syaiha mendengarkan apa yang akan saya ceritakan?" 

Saya membalas pesan terakhir singkat, "Silakan, mbak. Ceritakan saja." 

Mungkin, di seberang sana ia sedang menghela napas, hendak memulai bercerita. "Begini, Bang. Saya perempuan berusia 21 tahun. Dan saya sudah berpacaran dengan seorang lelaki yang lima tahun lebih tua dibandingkan saya. Kami menjalin hubungan ini sudah lima tahun juga." 

"Tahun ini, karena orang tua saya tidak menyukainya, dia memutuskan saya dan kabarnya malah sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Saya sakit hati, Bang. Apalagi, selama kami menjalin kisah ini, semua sudah saya serahkan, tidak ada yang tersisa." 

"Maksudnya, Mbak?" saya sengaja, meminta lebih jelas dan gamblang. "Mbak sudah menyerahkan kesucian mbak kepadanya?" 

"Iya, Bang. Kami bahkan sudah sangat sering melakukannya. Dia yang selalu meminta, dan saya, karena rasa sayang dan takut kehilangan, akhirnya cuma bisa memberikan saja. Dulu, dia janji akan menikahi saya, makanya saya berani. Katanya, dulu, kalaupun orang tua saya tidak menyukainya, ia akan berjuang mati-matian!" 

"Rupanya sekarang tidak demikian. Dia malah seperti tidak mau memperjuangkan saya, Bang. Saya benar-benar seperti perempuan yang dicampakkan begitu saja. Habis manis sepah dibuang." 

"Seharusnya, Mbak jangan sampai melakukan perbuatan itu sebelum halal." Saya menyayangkan apa yang sudah mereka perbuat. 

"Yah, mau bagaimana lagi, Bang? Pacar saya selalu meminta. Apalagi, dia berjanji   pakai nama Tuhan   bahwa akan bertanggung jawab. Katanya, mau dilakukan sekarang atau nanti kan sama saja. Kita akan jadi suami istri, begitu." 

Saya tidak menjawab lagi ketika ia kembali mengirimi saya pesan, "Apa yang harus saya lakukan, Bang? Jujur saja, saya masih sakit hati karena merasa tidak dihargai. Saya juga kepikiran masa depan, Bang, apakah masih ada lelaki yang mau kepada perempuan seperti saya yang sudah kotor dan tidak perawan lagi ini?" 
.
.
.
Kisah di atas itu nyata, saya tidak mengada-ngada! Bahwa dalam hubungan bernama pacaran, yang rugi selalu perempuan. Mereka   perempuan   karena perasaannya bekerja lebih dominan, maka gampang sekali diimingi-imingi, digombali, dibohongi, dan sebagainya. 

Senangkan saja dengan janji-janji, beri pujian dan kalimat indah yang bertubi-tubi, maka dia   jika tidak berpikir panjang   akan menyerahkan semua yang dipunya. Termasuk hal paling suci yang seharusnya dijaga untuk suami. 

Karena hal ini, jika kamu yang membaca postingan ini adalah seorang perempuan, ingat pesan saya! 

Satu: pacar kalian sekarang, belum tentu jodoh kalian. Maka jangan mau memberikan banyak hal kepadanya. Mereka    walau judulnya adalah pacar   tetap saja orang luar, bukan siapa-siapa. Mereka tidak menafkahi kalian, tidak bertanggung jawab kalau kalian sakit, tidak membiayai kehidupan kalian, dan sebagainya. 

Jadi jangan bodoh, rela memberikan hal yang paling kalian jaga hanya karena ucapan dan janji-janji cinta! 

Jangan sampai kalian mengalami apa yang mbak di atas alami. Ketika sudah diberikan segalanya, ia malah ditinggal pergi begitu saja. Lelakinya, yang dia anggap segala-galanya selama ini, yang dia yakini akan memperjuangkan dia, ternyata mundur teratur bahkan sebelum berusaha meyakinkan orang tua. 

Kedua: cara terbaik agar kalian terhindar dari maksiat seperti kisah di atas, adalah menjauhi penyebabnya. Tidak melakukan hubungan yang bernama pacaran. Tutup pintu masuknya, maka kalian aman. 

Saya sudah cukup sering berkata, bahwa pacaran adalah hubungan paling rapuh. Gampang sekali bubar. Tidak ada komitmen. Tidak ada tanggung jawab...

...dan jika itu yang terjadi   putus, maka yang rugi   sekali lagi   adalah perempuan. Baca yang jelas! Yang rugi adalah PEREMPUAN!

Sekarang, silakan ngeyel kalau masih keras kepala! Nanti, kalau sudah merasakan, mengalami seperti yang dialami mbak di atas, kalian baru menyesal. Menangis tersedu, berurai air mata, dan sebagainya. Pada masa itu, menyesal tidak berguna. Kalian tidak bisa kembali ke belakang. 

"Bagaimana seharusnya mbak di atas, Bang?" 

Oke...

Jika kalian seperti mbak di atas, maka yang bisa dilakukan adalah bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Taubatan nasuha. Jangan hanya taubat sambel, yang berjanji tidak mau lagi mengulangi, tapi ketika pacaran, dicoba lagi. 

Apakah Allah akan mengampuni? Oh, tentu saja! Allah maha pengampung dan penyayang. Dia maha penerima taubat dan maha memaafkan. Yang penting tadi, dilakukan dengan ketulusan dan berjanji tidak akan mengulanginya. 

Sanggup? 

Lalu, apakah ada lelaki yang mau menerima mbak tadi? 

Kalau si mbak sudah bertaubat dan menjadi lebih baik, saya yakin, Allah akan memberikan pasangan yang baik kepadanya kelak. Jauh lebih mulia dibandingkan pacarnya yang sudah berbuat semena-mena. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon