Like Fanpage Bang Syaiha

Mengapa Salat itu Berat?

By Bang Syaiha | Wednesday, 7 September 2016 | Kategori:


Salat itu adalah ibadah yang berat. Makanya ia menjadi tiang agama Islam. Barangsiapa yang mengerjakan, maka ia telah menegakkan tiang agamanya. Tapi barangsiapa yang meninggalkan, maka ia telah serta merta merobohkan agamanya sendiri. 

Salat juga   selain tiang agama   adalah pembeda antara dia yang beriman dan dia yang tidak. Jadi gampang sekali indikatornya toh, kalau dia salat, maka dia, boleh jadi beriman. Walau pada kenyataannya tidak juga demikian. Ada orang yang sudah salat secara lahiriah, tapi ia dicap sebagai munafik karena satu dan lain hal. 

Saya tidak akan membahas itu disini. Karena akan menjadi panjang sekali nanti tulisannya. 

Sebelum menulis ini, beberapa menit yang lalu, saya bertanya dalam hati, "Mengapa salat itu begitu penting? Lalu, jika ditilik sekilas, salat itu kan sebenarnya hanya begini dan begitu, tidak sampai sepuluh menit melakukan, tapi kok banyak yang berat dan malas melaksanakan ya? Atau, jikapun mengerjakan, seringkali, kita melihat sendiri bahwa mereka mengerjakannya asal-asalan. Cepat sekali, tidak tuma'ninah   diam sejenak, tenang, dan tidak buru-buru." 

Makanya, tidak heran jika Allah kemudian mengancam, "Sungguh, celakakah orang yang salat! Yaitu orang yang ketika salat, ia lalai!" 

Ya Allah, ampuni kami...

Pertama, mengapa salat itu penting sekali di dalam Islam?

Karena ia adalah bukti kehambaan penuh kita kepada Allah. Bukti bahwa kita percaya ada kekuatan yang maha hebat di luar sana, di dimensi lain, yang menciptakan alam semesta, menjaga dan memeliharanya sedemikian rupa dalam keseimbangan. 

Salat memang terlihat ringan, tapi bagi yang tidak ada keyakinan di dalam dadanya, sungguh, ia menjadi teramat berat. Tidak terkira malah. Maka tidak heran, jika kemudian banyak umat Islam yang kedua kakinya bahkan mampu mendaki gunung yang tinggi bukan main, tapi seketika menjadi lumpuh ketika azan berkumandang dari masjid di sebelah rumahnya. 

Salat memang terlihat gampang dilakukan, tapi bagi yang tidak percaya akan adanya Allah, maka ia menjadi sukar sekali dilaksanakan. Dalam dadanya berkata, ngapain harus salat sih? Emang ada Allah disana? Allah itu seperti apa sih? dan sebagainya. 

Maka, yuk mari, periksa salat kita! Apakah ia selama ini menjadi beban dan berat ditunaikan? Atau malah ringan bukan alang kepalang? Jika berat dan malas sekali menegakkannya, maka ada yang salah dengan iman dan takwa di dada kita. 

Mengapa banyak orang yang salat, tapi terlihat asal-asalan menjalankannya? Buru-buru seperti dikejar setan!

Akar muaranya sebenarnya sama. Di dada kita   maksudnya saya   keyakinan akan adanya Allah mungkin kurang besar, sehingga ketika kita diminta menghadapnya   salat   kita menjadi agak malas dan inginnya segera selesai. 

Akan berbeda hasilnya jika kita sudah yakin. Ada Allah disana, melihat kita menemuinya dalam salat, sehingga kita inginnya berlama-lama. Tenggelam dalam permohonan dan doa yang dipanjatkan. 

Nah, disinilah letak kesulitannya. Kita yang kurang iman ini diminta mempercayai Allah yang tidak terlihat. Akhirnya, kalau hanya akal dan nalar saja yang bekerja, ya agak susah. Harusnya, untuk meyakini Allah kan kita lihat dari ciptaan-NYA. Lihat bagaimana alam semesta bisa serapi ini. Perhatikan bagaimana manusia dan makhluk lain diciptakan. 

Jika kita sehat dan mau berpikir, sepertinya itu cukup untuk mengatakan bahwa ada Allah di sana. Tidak mungkin semua yang luar biasa itu tercipta dan berjalan dengan sendirinya. 
.
.
.
Akhirnya, semoga keimanan dan takwa kita di dada semakin besar. Sehingga salat dan ibadah lainnya bisa nikmat dilaksanakan. 

Demikian. 

1 komentar:


EmoticonEmoticon