Like Fanpage Bang Syaiha

Susahnya Membuat Puisi!

By Bang Syaiha | Sunday, 25 September 2016 | Kategori:


Well, bagi saya, menulis puisi itu susah. Bahkan, seandainya ada soal Matematika di atas meja dan saya diminta memilih, kerjakan soal itu atau membuat puisi? Harus pilih salah satu! Maka tanpa berpikir panjang, saya akan mengambil kertas yang berisi permasalahan Matematika tadi dan mengerjakannya dengan tekun. 

Itu hanya sebuah ungkapan betapa puisi, bagi saya, adalah hal yang ketika menciptanya, dibutuhkan perjuangan ekstra berat. Hanya orang-orang yang gila saja yang mau membuatnya. 

Bagaimana tidak berat? Lah wong dalam sebuah puisi, kita diminta menuliskan perasaan, kejadian, atau suasana, sesingkat mungkin! Kan susah jadinya!

Puisi yang baik harus padat, tidak boleh bertele-tele. Karena jika demikian, bertele-tele, bukan jadi puisi nantinya. Tapi jadi cerpen yang nggak enak! 

Mirip cerpen. Tapi bukan! Kan jadi malas menikmatinya! Iya, tho!

"Seorang penulis puisi, penyair, " kata teman saya, "harus bisa menyembunyikan makna tulisannya serapi mungkin. Dan pesan yang akan disampaikan, jangan dijelaskan dengan gamblang. Biarkan orang membacanya, lalu terserah mereka mau memaknai bagaimana." 

Tuh, kan! Bingung!

Bagi saya, menulis itu kan sarana berkomunikasi. Dan ia menjadi baik dan efisien, jika dan hanya jika, pesan yang ada di kepala penulis tersampaikan dengan baik ke kepala pembaca yang menikmatinya. Lah, kalau diminta untuk menyembunyikan maknanya sedemikian rapi, kasihan pembaca dong! 

"Nggak, Bang Syaiha. Karena seperti yang Bang Syaiha bilang, bahwa tulisan kita, apapun itu, pasti akan menemukan nasib dan pembacanya sendiri, bukan? Maka puisi juga demikian! Akan ada orang-orang yang mau tersiksa memaknai puisi yang dibuat orang lain." 

"Akan ada orang yang rela hanyut menikmati setiap diksi yang dipilih penyair pada puisinya."

Saya kemudian bertanya, "Tapi, benarkah mutlak, bahwa puisi yang baik adalah puisi yang mampu membuat pembacanya semakin bingung?" 

Teman saya terkekeh jelek, berkata, "Nggak demikian. Puisi banyak macamnya. Dan memang, ada jenis puisi yang benar-benar menyembunyikan pesan yang ingin disampaikan. Tapi, banyak juga kok puisi yang blak-blakan." 

Duh, saya semakin tidak paham. 

"Intinya mah, kalau mau menulis puisi, ya menulis saja. Kemudian, ketika sudah jadi, bodo amat. Nggak usah pedulikan lagi. Nikmati saja proses menulisnya, lalu tinggalkan ketika sudah jadi." 

"Sama seperti yang sering saya lakukan dong?" 

"Iya, Bang. Menulis bebas. Ia bisa dilakukan pada jenis tulisan apapun. Termasuk puisi." 

4 komentar

avatar

Sudah lama saya tidak menulis puisi. Kalau sempat silakan berkunjung ke blog saya bang syaiha, tolong dikomentari puisi-puisian saya :)

avatar

saya juga paling susah bikin puisi
yanga da tulisannya bentuk puisi, tapi hanya curahan hati

avatar

hihihi...saat menulis puisi, saya juga tidak peduli apa kata orang yang membacanya nanti. Mau dibilang terlalu blak-blakan,aneh, tidak serasi, kekanak-kanakan, baper, dan lain-lain. Bagiku, itulah karyaku. Asli. Tanpa pencitraan.
Dan aku menghargainya.
Salam bang Syaiha..


EmoticonEmoticon