Like Fanpage Bang Syaiha

Terimakasih Istriku!

By Bang Syaiha | Sunday, 18 September 2016 | Kategori:

 
Jumat lalu, tubuh saya mengalami demam. Suhunya tinggi, tapi saya kedinginan. Menggigil. Lalu seharian, saya ijin tidak masuk kerja dan hanya berbaring di kasur saja. Salat bahkan saya lakukan sambil duduk, saking tidak kuatnya berdiri karena kepala yang terasa berat bukan main. 
 
Hari berikutnya, Sabtu kemarin, saya mengalami sedikit kemajuan. Demam masih ada tapi tidak setinggi hari sebelumnya. Menggigil tidak lagi. Hanya saja, saya masih tidak kuat menggunakan kipas angin dan bersentuhan langsung dengan air dingin. Jadilah saya mandi menggunakan air hangat yang disediakan dengan tulus oleh istri saya   terimakasih ya, sayang!
 
Lalu hari ini, tubuh saya kembali mengalami kemajuan. Saya sudah tidak demam dan tidak menggigil sama sekali. Bahkan, ketika menuliskan postingan ini, sambil sesekali melirik grup One Day One Post yang kian aktif, saya menghadapkan diri ke kipas yang berputar pelan. Mengusir gerah. 
 
Satu-satunya yang masih tersisa adalah, kepala saya masih agak berat dan   kalau kata orang jawa   kliyengan. 
 
Kalau saya berdiri atau berjalan, bumi masih terasa berputar kencang sehingga saya bisa sewaktu-waktu jatuh kapan saja. Itu kan akan sangat memalukan sekali jika sampai terjadi di depan orang banyak, toh?
 
Ketika sedang asik jalan, nggak ada batu atau apa, eh saya malah jatuh gedebug! Sakit sih nggak, tapi malunya itu loh!
 
Maka, karena hal inilah, empat agenda yang sudah sejak beberapa hari lalu saya wacanakan, saya batalkan semua. Mohon maaf buat semua teman dan rekan yang terkena imbas dari kondisi ini. Yah, mau bagaimana lagi, kondisi tubuh saya memang tidak memungkinkan. 
 
Seharian saya di rumah. Tiduran, makan, tiduran lagi. 
 
Selama saya sakit, saya sangat takjub dengan ketekunan istri saya merawat saya dan anak saya yang kebetulan ikut sakit di hari kedua. Ia bangun tengah malam hanya untuk memasak air panas dan mengompres kami. Ia kesana-kemari hendak membelikan beberapa bahan makanan untuk diolahnya menjadi hidangan yang lezat. 
 
Walau tentu saja, di tengah kondisi tubuh yang tidak menentu, seenak apapun menu yang ada di depan, menjadi tidak menggugah selera sama sekali. Semua masakan, di lidah saya tiga hari terakhir, menjadi berasa pahit semua. Termasuk air putih. 
 
Tapi sekali lagi, usaha yang dilakukan istri saya membuat saya semakin mencintainya. Berkali-kali saya bilang ke dia, "Ummi, maafin Abi ya kalau beberapa hari ini merepotkan." 
 
Dia malah menjawab santai, "Nggak kok. Abi kan walau sakit, nggak banyak permintaan." 
 
Duh, padahal, beberapa kali saya minta belikan ini dan itu. Bakso lah, mi ayam lah, sate lah, dan sebagainya. Lidah saya nggak karuan, makanya saya meminta semua jenis masakan tersebut. Istri saya yang mondar-mandir kesana-kemari. Apalagi dengan kenyataan bahwa kami tidak punya motor dan penjual semua makanan tadi jauh-jauh semua. 
 
"Nggak usah deh, Ummi. Jauh. Nanti Ummi kecapean." saya berkata demikian. 
 
"Nggak apa-apa, Abi. Yang penting perut Abi terisi dan bisa segera fit. Besok kan sudah harus kembali mengajar." 
 
Berangkat deh istri saya tadi. Tapi malangnya, setelah jauh-jauh jalan, warung yang dituju malah tutup, tidak berjualan. 
 
Sekali lagi saya bilang, "Maafin Abi sudah merepotkan." 
 
Istri saya menjawab, "Nggak apa-apa, Bi. Itung-itung jalan dan olah raga." ia tersenyum tulus. 
 
...................

1 komentar:

avatar

Istri memang nggak akan tega melihat orang yang di sayangi sakit
suami dan anak-anak


EmoticonEmoticon