Like Fanpage Bang Syaiha

Untuk Istriku!

By Bang Syaiha | Tuesday, 13 September 2016 | Kategori:



Abi sih ingat betul, waktu itu tanggal 24 November 2013. Ketika Abi koar-koar berbagi ilmu tentang kepenulisan pada sebuah kegiatan FLP Bogor di Kota Tua, Ummi malah sibuk sama gadet sendirian, nggak ndengerin Abi yang berbusa-busa ngomong.

Padahal, tempo hari itu, Abi pengen buat Ummi terkesan. Karena sejak pertama ketemu di tahun 2011 yang tidak sengaja dulu    saat Ummi jadi penjaga stand FLP Bogor di sana   Abi sudah suka. Itu pertemuan yang tidak disengaja, mata Abi yang nakal ini, menangkap sesosok gadis manis yang sedang berusaha menemukan seseorang. Celingak-celinguk, mencari entah siapa, tapi tidak ketemu, lalu Ummi melangkah masuk kembali ke area pameran.

Abi terkesan. Kagum. Lalu, tanpa Abi sadari, kaki Abi melangkah masuk juga. Membuntuti Ummi dari belakang. Berjarak beberapa langkah. Tidak lama kemudian, Ummi berhenti di stand FLP Bogor dan Abi lalu pura-pura ke stand di sebelahnya, membuka buku-buku yang sedang dipamerkan.

Dulu, di tahun 2011 itu, Abi memutuskan tidak melanjutkan berjuang. Hanya mengagumi sebentar, lalu sadar bahwa Abi punya banyak kekurangan, dan kemudian balik kanan. 





Pertemuan tidak sengaja itu tertinggal jauh di belakang ketika Abi kemudian memutuskan ikut ke Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa dan mengabdi di pedalaman Kalimantan. Abi setahun mengabdi di sana dan beberapa kali malah ta'aruf sama orang lain.

Tapi semuanya gagal. You know lah! Kaki Abi istimewa. Dan karena hal ini, maka hanya orang-orang spesial jugalah yang sanggup menerima.

Abi kembali dari Kalimantan tahun 2013 awal.

Lalu, kita ketemu lagi beberapa kali di Forum Lingkar Pena. Itupun pertemuan yang tidak disengaja. Ketika itu, Abi ke Masjid Raya Bogor, mengantarkan seorang teman yang ingin membeli buku. Di sanalah, lagi-lagi Abi ketemu Ummi pada stand FLP Bogor.

Yang pertama kali terbersit di kepala Abi kala itu, saat jumpa Ummi lagi adalah, "Masya Allah, ini kan gadis manis yang tahun 2011 dulu sempat saya lihat!"

Dan kali ini, Abi punya keberanian lebih baik. Abi nekat mendaftar di FLP Bogor. Tujuannya? Pertama, Abi ingin mencoba dekat ke Ummi. Kedua, Abi ingin mendalami lagi dunia tulis-menulis yang sudah Abi kerjakan sejak lama. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.

Sejak menjadi anggota FLP Bogor, Abi tidak menemukan waktu terbaik untuk mendekati Ummi dengan cara yang benar. Cara yang tidak melanggar syariat Islam.

Hingga kemudian, pengurus FLP ketika itu, mengadakan kegiatan di kota tua dan Abi diminta menjadi salah satu orang yang berbagi di sana.

Itu adalah hari spesial, 24 November 2013. Hari pertama kalinya Abi memberanikan diri menyapa Ummi via WhatsApp, "Apa kabar, mbak? Ini saya, Syaiha. Yang tadi berbagi tentang kepenulisan di Kota Tua."

Jujur saja, Abi nekat banget kala itu. Bodo amat dah! Dicoba saja. Masalah dibalas santun atau malah dicuekin mah urusan kesekian. Lagian Abi udah suka sejak pertama kali jumpa, maka percuma saja jika tidak diusahakan, bukan?

Nah, beruntungnya adalah, Ummi membalas dengan balasan yang baik. Bahkan, selama seminggu sejak pesan pertama itu, kita malah saling bercengkerama di dunia maya. Kalau Abi mah emang sengaja, pengen dekat dan menggali banyak hal dari Ummi. Nggak tahu kalau Ummi, motivasinya apa?

Tujuh hari itu menjadi awal yang baik.

Tapi malang...

Justru tepat seminggu setelahnya, 1 Desember 2013, Ummi malah bilang, "Mas, kalau nggak penting-penting amat, mohon tidak menghubungi saya ya. Baik pesan singkat atau telpon. Tidak elok. Kita ini kan sudah dewasa dan bukan muhrim. Jangan sampai setan ada di antara kita."

Sontak saja Abi kaget. Dan karena sudah kepalang tanggung, langsung saja Abi bilang, "Kalau begitu, agar semua menjadi baik, bagaimana kalau mbak menikah dengan saya saja? Insya Allah, kalau sudah halal kan semuanya nggak apa-apa."

Abi nggak ngerti bagaimana perasaan Ummi waktu baca sms itu. Ini orang kok aneh, baru kenal seminggu sudah berani-berani mengajak nikah!

Biarin! Kenal seminggu atau bertahun-tahun sama saja! Kalau bisa cepat, mengapa harus dilama-lama, kan? Tul nggak?

Lama Ummi nggak bales pesan dari Abi dan Abi kira Ummi marah. Beberapa kali Abi ketik sms lagi, hendak meminta maaf. Tapi nggak jadi. Abi hapus lagi.

Selang beberapa jam, baru sms Abi dibalas, "Mas serius ngajak saya menikah?"

"Serius, Mbak. Bagi seorang lelaki, mengajak menikah seorang gadis bukan hal yang patut dijadikan bahan candaan."

Kesatria banget Abi kan? Maklum, penulis!

Ummi cuma bilang, "Kalau memang serius, maka tunggu keputusan dari saya dan keluarga. Kami akan salat istikharah dulu. Dan selama saya memohon petunjuk dari Allah, saya harap Mas tidak menghubungi saya. Sabar saja menunggu kepastian."

Seminggu berikutnya adalah hari-hari terlama dalam hidup Abi. Menunggu hasil istikharah dari Ummi dan keluarga, persis seperti menunggu hasil eksekusi. Dag dig dug nggak karuan. Bakal diterima nggak ya? Atau bakal ditolak seperti ta'aruf-ta'aruf yang sebelumnya?

Abi sudah pasrah. Hasil urusan belakangan. Yang penting, Abi sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang lelaki ketika ia jatuh hati.

Tepat tujuh hari setelah ajakan menikah dari Abi, Ummi akhirnya mengirimi pesan singkat, "Alhamdulillah, hasil istikharahnya sudah ada. Silakan datang ke rumah ya, Mas."

"Itu maksudnya diterima atau ditolak?"

"Duh, Mas nih.." Ummi bilang begitu, "Peka sedikit dong! Kalau seorang gadis sudah mempersilakan seorang lelaki untuk datang ke rumahnya, maka itu artinya iya!"

Amboi, kalau waktu itu Abi ada di tempat yang lebih layak, bukan di dalam angkot yang penuh sesak, pasti Abi sudah sujud syukur karena senang. Alhamdulillah...

Singkatnya, persiapan kita menuju pernikahan seperti orang yang dikejar anjing (Abi bingung mau pakai analogi apa lagi). Abi harus bilang ke Murobbi, Ummi juga. Lalu kita dipertemukan. Mereka heran dan agak sedikit kesal karena tingkah laku kita   maksudnya, Abi! Ummi mah nggak. Guru ngaji kita itu malah bilang, "Kalau kalian sudah direstui keluarga, ngapain lagi pakai acara begini? Kalian ini keterlaluan.."

Tapi, karena keteguhan yang bersemayam di dalam dada, akhirnya kedua guru ngaji kita pun setuju dan tidak ada masalah.

Kita kemudian menikah di tanggal 3 April 2014. Setelah gagal mau menikah di bulan Januari.

Tapi nggak apa-apa.

Toh, tanggal 3 April adalah hari lahir Abi. Dan di tanggal itu, menjadi hari jadi Abi paling indah. Karena apa? Karena pada saat itu, Abi dapat kado paling manis! Ummi! Orang paling cantik dan paling baik buat Abi.

Di hari pernikahan kita juga, Ummi memberikan sebuah kejutan yang indah: video milad Abi dan hari sahnya kita menjadi suami istri. Masya Allah.



I Love You!

12 komentar

avatar

Senangnya dapat kado dari suami tercinta.
Met Milad yaaa mbak Ella..Barokallah

avatar

Aamiin... Langgeng terus bang, jadi pasangan yang selalu menginspirasi.

avatar

So sweet...
Semoga bahagia selalu bang Syaiha dan mbak Ella :)

avatar

Keren bang, saya jadi pengen cepet. cepet apa ya..???

Barakallah bang, makasih untuk waktunya buat kami di ODOP

avatar

Amboi... manisnya bang. Saya cekikikan bacanya. Hehehe.

avatar

nengok videonya termehek-mehek jadinya bang
So sweet

avatar

Bang syaiha dan mba ella sweet banget pokoknya

avatar

Barakallah bang syaiha sweet banget pertemuannya😱😌
Keren banget bang syaiha👏

avatar

Terharu banget... Jadi tambah semangat juga... Terimakasih banyak FLP, yang telah mengantarkanku membaca tulisan ini, dan mengenal suami istri yang luar biasa, bang saiha dan mba ella. Meski belum pernah kenal atau ketemu, tapi hati kita telah ditakutkan oleh cintaNya dalam naungan indah, Forum lingkar pena. Salam kenal dariku, Rifia FN (flp tegal) :)

avatar

Terharu dan jadi tambah semangat. Terimakasih banyak bang syaiha dan mba ella :)

avatar

Allahu Akbar!

Keren banget bang syaiha ceritanya ^^v

Tetep ngeblog n setia sama mb ella-nya yah bang, hehehe

Salam dari FLP Banjarmasin


EmoticonEmoticon