Like Fanpage Bang Syaiha

Alhamdulillah Dapat Sepuluh Juta!

By Bang Syaiha | Tuesday, 18 October 2016 | Kategori:


Saya sedang duduk santai di ruangan berpendingin ketika sebuah panggilan dari nomor tidak saya kenal masuk. Saya perhatikan lamat-lamat, mengingat-ngingat, siapa tahu saya pernah kenal nomor itu. Siapa tahu, ada masa lalu yang tertinggal di nomor yang entah dari siapa. Tapi ternyata nihil. Saya memang benar-benar tidak pernah tahu itu nomor siapa. 

Tapi tetap saja saya angkat. Siapa tahu, dia adalah salah satu panitia dari acara yang entah apa, ingin mengundang saya ke sana dan mengisi seminar yang mereka selenggarakan. Ngarep banget nih gue! Saya mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum, dengan siapa ini? Ada yang bisa saya bantu?" 

Di seberang sana, salam saya dibalas. Suaranya berat, berlogat Sumatera. "Selamat siang, kami dari Bank Mandiri ingin menginformasikan bahwa nomor bapak   ia kemudian menyebutkan nomor saya   telah memenangkan undian dan berhak mendapatkan hadiah sebesar sepuluh juta rupiah." 

Saya mengernyitkan dahi. Heran bukan main. Mengapa? Pertama, nomor yang baru saja ia sebutkan memang benar nomor saya. Tapi itu belum lama. Bahkan, nomor itu malah saya abaikan. Hendak saya buang dan malas memperpanjang. Kok bisa-bisanya nomor sebegitu tidak penting bagi saya, malah dapat hadiah? 

Kedua, jika benar dia dari Bank Mandiri, kenapa ia menelpon saya melalui nomor ponsel dan bukan dari nomor kantor? Ketiga, jika ia bekerja dari Bank Mandiri, mengapa nomor telkomsel saya yang diundi? Bukankah lebih masuk akal kalau dia bilang, "Selamat ya, Pak. Anda beruntung karena telah memenangkan undian dari Bank Mandiri!" bukan dari Telkomsel!

Keheranan saya yang keempat adalah, bagaimana bisa saya menang undian dari Bank Mandiri jika saya bahkan bukan nasabah mereka. Duh! Kacau tuh penipu! 

Tapi saya tetap berpura-pura senang dan bilang, "Alhamdulillah. Terimakasih, Pak. Tapi, ini benar kan?" 

"Benar, Bapak. Tadi malam kami telah melakukan pengundian dan nomor ponsel Bapak terpilih sebagai salah satu pemenang. Kami memilih 20 orang yang beruntung dan nomor Bapak ada di urutan kelima." 

"Nomor ponsel saya menang undian? Kok, bisa, Pak?" 

"Yah, namanya juga undian, Pak. Bisa-bisa saja. Sekali lagi selamat atas uang 10 jutanya. Akan segera kami kirimkan ke rekening Bapak. Bisa informasikan nomor rekeningnya, Pak?" 

"Sebentar, saya masih kaget, nih." 

"Iya, Pak. Itu biasa terjadi. Namanya juga dapat rejeki nomplok. Pasti pada kaget orang-orang. Nomor rekeningnya berapa, Pak?" 

"Tunggu dulu, Pak. Tadi bapak bilang saya menang 10 juta karena undian dari Bank Mandiri? Lalu, kenapa yang menang nomor telkomsel saya? Mandiri sama Telkomsel apa hubungannya, Pak?" 

Ia mulai sedikit bingung harus menjawab apa. Terdengar di telinga saya, ada helaan napas dan hembusan. Ia pasti menyadari kalau telah salah hendak menjebak saya. 

"Oh, ini, Pak. Kebetulan kami sedang melakukan kerjasama besar-besaran dengan pihak Telkomsel." 

"Oh begitu... Kerjasama dalam bentuk apa, Pak, jika boleh tahu?" 

"Itu urusan perusahaan, Pak. Masa saya beberkan disini. Lagian, interaksi kita kan hanya tentang, bahwa Bapak telah beruntung memenangkan undian berhadiah 10 juta saja." 

"Baiklah kalau begitu." diam sejenak, "Oh iya, Pak. Saya penasaran siapa saja 20 orang yang beruntung mendapatkan undian ini. Boleh saya tahu siapa saja orangnya, Pak?" 

"Wah, saya tidak hapal semuanya, Pak."

"Kalau begitu, boleh minta alamat website perusahaan, Bapak?" 

"Perusahaan yang mana?" 

Mulai lagi ia salah berucap. Padahal di atas ia sudah memperkenalkan sebagai pegawai Bank Mandiri, masa sekarang ia lupa nama perusahaannya? Orang memang suka begitu, kalau panik, suka nggak fokus!

"Tadi katanya kerja di Bank Mandiri?" 

"Oh iya, betul." 

"Nah, itu. Saya minta alamat websitenya dong. Saya ingin lihat pengumuman pemenang disana. Pasti ada kan beritanya? Di jaman serba digital seperti sekarang, hal-hal penting pasti disiarkan dengan cepat di dunia maya, bukan?" 

Tidak ada jawaban kecuali bunyi tut panjang. Sambungan terputus. 

Orang mantan penipu kok mau ditipu. 

Ups!

3 komentar


EmoticonEmoticon