Like Fanpage Bang Syaiha

Beli Celana Dalam via Online!

By Bang Syaiha | Monday, 10 October 2016 | Kategori:

Gambar tidak tersedia
"Elo lagi ngapain, Nu? Sibuk amat?" Bani melirik temannya yang sejak beberapa menit lalu sibuk sendiri dengan ponsel pintar miliknya. Tidak memperhatikan Bani sama sekali. 

Masih tidak memandang ke Bani, Banu menjawab singkat, "Nggak lagi ngapa-ngapain." 

"Nggak lagi ngapa-ngapain kok kayak orang autis! Gadget aja yang dipegangin?" Bani mengalihkan pandangannya ke penjaga warung kopi langganan mereka, bilang, "Kopinya satu ya, mas. Yang pahit!" 

"Yah, mendingan gue megangin ponsel kan, daripada megangin elu, Bani?" 

Mendengar celetukan Banu barusan, Bani bergidik ngeri. Berkata, "Idih, amit-amit dah dipegangin elu. Najong!" 

Banu tertawa lepas. Bani diam. Baginya tidak ada yang lucu. Tidak ada yang patut ditertawakan. 

"Eh, emang lagi ada kerjaan ya? Gue serius nanya nih! Yah, kali aja gue bisa bantu, kan?" Bani benar-benar ingin tahu. Ada apa gerangan, sampai-sampai, Banu, sahabat lamanya fokus sekali memandangi layar ponselnya sedemikian parah. Nggak biasanya. 

"Gue lagi belanja!" 

Kopi pesanan Bani datang, diletakkan tepat di meja yang ada di hadapannya. Penjaga warung mempersilakan, "Ini kopinya, mas Bani..." yang hanya dijawab anggukan saja. 

"Belanja di ponsel? Emang bisa? Yang ada itu, belanja ke pasar. Aneh deh elu!" 

"Nah, gini nih kalau orang nggak ngikutin perkembangan jaman. Jalan pikirannya merayap dan nggak maju-maju. Jalan di tempat. Nggak berkembang sama sekali." 

"Makanya, elu ajarin gue, Nu! Biar bisa modern kayak elu!" 

Banu menggeser duduknya, lebih mendekat ke Bani. Ia menyodorkan ponsel pintarnya, menunjukkan sebuah website belanja yang sudah kredibel. Bani bertanya, "Elu belanja disini? Nggak takut ditipu, Nu?" 

Banu menggeleng. "Makanya gue milihnya harus hati-hati. Nggak bisa asal-asalan, Bani." 

"Oh." 

"Sebelum belanja, gue harus lihat beberapa terstimoni di websitenya. Asli atau palsu. Kemudian, gue juga harus ngeliat bukti-bukti pengiriman yang udah mereka lakukan. Intinya, gue harus ekstra hati-hati deh. Biar nggak ketipu." 

"Bener, Nu," Bani bilang demikian, lalu menyesap kopinya pelan, "Jangan sampai nanti elu udah kirim uang, eh, barang malah nggak dikirim. Kan rugi, elu?" 

"Ho, oh!" 

Banu sibuk lagi dengan ponselnya. Sedangkan Bani, memperhatikan televisi yang terpajang di warung kopi, menyaksikan berita tentang persidangan kopi bersianida. Ia menggerutu, "Ini sidang dilakukan berkali-kali, masih saja belum selesa!" 

Ia memalingkan wajah ke penjaga warung, lalu berseloroh, "Awas elu ya, kalau sampai elu masukin sianida ke sini, gue hajar, lu!" 

"Eh, nggak, Bang. Mana mungkin saya masukin sianida." 

Disesapnya lagi kopinya pelan, lalu kembali melirik ke Banu, "Elu sebenarnya nyari apa sih di website itu? Mau beli apa? Kayaknya susah banget mencari barangnya?" 

"Eh, anu..." 

"Anu apa?" 

"Gue..." Banu agak bingung mau menjelaskannya, "gue lagi nyari celana dalam, Bani!" 

"What?!?!?!?!" 

Banu mengangguk, "Iya, gue mau cari celana dalam?" 

"Yaelah, Nu! Gue kira elu lagi nyari apa gitu! Celana dalam mah noh," Bani menunjuk warung mang Ujang, persis di seberang warung kopi yang mereka singgahi sekarang, "di sana banyak! Dia kan emang jualan begituan!" 

"Eh, nggak ah! Gue mau beli via online aja. Biar kekinian!" 

"!%&!%&?!&?"


EmoticonEmoticon