Like Fanpage Bang Syaiha

Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!

By Bang Syaiha | Friday, 28 October 2016 | Kategori: |


"Sebelumnya, maaf nih ya Syaiha, Pakde mau menanyakan sesuatu ke kamu," begitu basa-basi yang diungkapkan pertama kali oleh Pakde saya kemarin, ketika saya takziah ke Lampung, ke rumah paman yang baru saja meninggal. Kami sedang duduk berdua, terpisah dua gelas kopi hitam dan sepiring camilan sisa tahlilan. 

Pakde saya melanjutkan, "Begini, sejak menikah hingga sekarang, istrimu dan keluarganya pernah nggak ngerasa menyesal karena udah memilihmu menjadi keluarga mereka?" 

Mendengar pertanyaan demikian, saya tersenyum tulus. Saya tidak cukup bodoh, sehingga tentu saja tahu maksud pertanyaan itu. 

Kaki kanan saya pincang, berwajah jelek, tidak bisa pakai motor karena malas belajar. Lalu, jangankan berlari, jalan juga saya tidak pernah becus, tidak mampu mengangkat benda-benda yang berat semisal galon, beras satu karung, dan masih banyak lagi. Saya rasa, tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika saya jabarkan satu demi satu kekurangan yang saya punya. 

Intinya, kekurangan saya bejibun!

Dengan kondisi yang demikian, apakah istri saya dan keluarganya pernah merasa menyesal, menggunjing, lalu merendahkan saya? Atau, dulu, ketika hendak menikah, apakah ada satu dua keluarga istri saya yang tidak suka dan menentang niat kami untuk berkeluarga? 

Begitu mungkin maksud pertanyaan Pakde saya. 

"Bukan apa-apa ya, Syaiha," ia melanjutkan, "Di jaman sekarang, kayaknya susah   jika tidak ingin bilang tidak ada    menemukan keluarga yang rela dan ikhlas menerima orang yang berkekurangan seperti kamu." 

"Hampir bisa dipastikan, setiap keluarga dan orangtua, pasti mempertimbangkan fisik calon menantunya. Karena apa? Tentu saja karena pertimbangan pekerjaan dan ekonomi. Memangnya apalagi? Orang-orang, mungkin, ketika pertama kali melihatmu, akan berpikir, ini orang pasti susah nyari kerja dimana-mana. Ini orang, pasti akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kasihan sekali dia." 

"Sepertinya, wajar saja jika orang berpikir demikian. Apalagi kalau iman dan kepercayaannya kepada Allah di dalam dadanya rendah. Pikir mereka, lah yang fisiknya normal saja kadang kesulitan mendapatkan pekerjaan, apalagi kamu?" Pakde saya masih menjelaskan panjang lebar. Sedangkan saya, diam mendengarkan. Dalam hati, beberapa kali membenarkan perkataan yang ia lontarkan. 

Setelah mendapati Pakde saya berhenti, saya kemudian menjawab, "Alhamdulillah, Pakde. Istri saya dan keluarganya tidak pernah menyesal, tidak pernah menganggap saya rendah, atau apapun yang Pakde khawatirkan barusan." 

Pakde mengangguk-anggukkan kepalanya. Asap rokok keluar dari mulutnya, bergulung-gulung, dan mengangkasa. 

"Saya, bahkan, boleh jadi menjadi menantu kesayangan mereka. Sebabnya, setiap bulan, tanpa pernah alpa, saya selalu memberi uang kepada mertua. Nggak terlalu banyak memang, tapi rutin. Dan karena sepertinya saya satu-satunya menantu yang melakukan demikian, maka saya disayang." 

"Sebagai anak, seharusnya memang begitu. Kamu sudah melakukan hal yang benar." tutur Pakde. 

Saya kembali tersenyum. Dalam dada berucap syukur yang tiada tara. 

"Apalagi, mertua saya memang taat dalam menjalankan perintah agama, Pakde. Sehingga paham betul mana yang benar dan tidak. Paham betul, bahwa rejeki dan penghasilan tidak pernah berbanding lurus dengan kekurangan fisik yang saya derita. Orang yang normal fisiknya, tidak selalu memiliki penghasilan bulanan yang lebih banyak dibandingkan saya toh?"

"Rejeki sudah diatur sama Allah. Dan itu tidak akan pernah tertukar." 

Selesai saya menjabarkan demikian, Pakde saya bertanya lagi, "Bahkan perkataan tidak enak sekalipun tentang kekurangan fisikmu, tidak pernah keluar dari lisan istrimu dan keluarganya?" 

Saya menggeleng, memang tidak pernah sama sekali. "Di rumah mertua, saya diperlakukan bak raja, Pakde. Makan diambilkan, kopi dibuatkan, cuci tangan disediakan. Mertua saya melarang laki-laki ke dapur. Pantang. Selagi masih ada perempuan, maka tunggu saja di ruang makan." 

"Tapi kalau di rumah sendiri, saya tidak demikian sih. Kalau tidak lelah dan ada waktu luang, sesekali saya bantu mencuci piring, mencuci pakaian, atau masak bersama untuk makan berdua. Di rumah mertua saja yang benar-benar diistimewakan. Pertanda bahwa mertua tidak memandang saya hina."

Saya bercerita kembali, "Ketika menikah dulu, semuanya malah dimudahkan kok, Pakde. Mertua saya nggak banyak permintaan. Mereka maunya, walimahan itu sesederhana mungkin. Karena bagi mereka, kehidupan berkeluarga itu justru baru dimulai setelah walimah selesai. Jadi, mendingan uang yang ada, dipersiapkan untuk kesana saja." 

Pakde saya mendengarkan apa yang baru saja saya katakan. Ia menyesap kopinya yang mulai dingin, menyulut rokok keduanya sekejap, lalu berkata, "Jika demikian adanya, maka pertahankan keluargamu, Syaiha. Agak jarang mencari yang demikian di jaman sekarang." 

Saya mengangguk, tentu saja itu akan saya lakukan. 

"Pakde," saya kembali berkata, "sebelum menikah dengan istri saya yang sekarang, saya memang sudah ditolak berkali-kali oleh orang-orang. Jadi, saya tahu bagaimana rasanya. Semua penolakan itu, memang terjadi karena kaki saya yang istimewa." saya tersenyum sebentar, lalu melanjutkan, "Maka tentu saja, ketika mendapatkan istri sebaik istri saya yang sekarang, yang ikhlas mencintai dan rela mengabdi, maka pasti akan saya jaga sampai mati, Pakde. Insya Allah." 

Akhirnya, sambil menepuk pundak saya, Pakde bilang, "Bagus! Memang begitulah seharusnya!" 

Percakapan malam itupun akhirnya selesai. 

3 komentar

avatar

tulisan bang syaiha selalu menginspirasi (y)
kereenn bang (y)

avatar

aku merinding bacanya, berkaca-kaca
nyesss banget

avatar

Semoga saya nanti juga Bang, hihi, Aamiin.


EmoticonEmoticon