Like Fanpage Bang Syaiha

Tujuh Hal Unik Tentang Novel Sepotong Diam

By Bang Syaiha | Friday, 7 October 2016 | Kategori:

Sepotong Diam
Cover Sepotong Diam Cetakan Kedua 
Tiba-tiba saja, saya ingin menulis tentang novel pertama yang pernah saya terbitkan, Sepotong Diam. Tentang beberapa kejadian yang menurut saya unik mengenai novel ini. Apa saja itu? 

Satu, Sepotong Diam pernah menjadi pemenang kedua dalam sayembara menulis buku yang diadakan oleh penerbit Alif Gemilang Presindo di Yogyakarta   ini adalah penerbit indie yang tidak begitu besar, sehingga kalau belum pernah mendengarnya, adalah sebuah kewajaran. Searching saja di Google untuk mengetahuinya lebih jauh. Lombanya diadakan pada tahun 2013 bulan Juni. Sudah lama sekali memang. 

Awalnya, saya hanya ingin menulis saja. Ingin berlatih menghasilkan sebuah novel. Ingin menantang diri sendiri. Saya tekun menulis setiap hari dan ternyata, saya berhasil membuat satu naskah novel yang panjang   hampir 300 halaman.  

Naskah Sepotong Diam saya selesaikan dalam waktu tiga minggu saja. Tidak lebih. Tapi setelah itu, naskah ini tidak langsung saya ikutkan lomba. Saya diamkan dulu di laptop beberapa minggu, lalu kemudian saya baca lagi. Saya edit kembali. 

Setelah selesai self editing, kemudian naskahnya saya print dan saya berikan ke seorang teman yang maniak sekali membaca buku. Bagi saya, orang-orang seperti ini pasti bisa memberikan masukan dan saran yang membangun. Mengapa? Karena dia sudah melahap ratusan buku dalam beberapa bulan. Dia pasti bisa memberi penilaian yang bijak dan objektif. 

Maka ke dia lah, Sepotong Diam saya berikan. Saya bilang, "Bro, ente tolong baca naskah mentah novel saya ya. Kasih masukan, saran, atau kritikan. Tapi jangan lama-lama. Soalnya mau saya ikutkan lomba beberapa minggu lagi. Bagaimana, bisa?"

Teman saya itu mengiyakan saja. Baginya, mendapatkan bahan bacaan baru, boleh jadi seperti mendapatkan sekeranjang berlian di tumpukan jerami. 

Satu dua hari, saya belum mendapatkan hasil dari dia. Saya hubungi via pesan singkat, dia jawab, "Sabar, Bro. Sedang dibaca. Ini naskah tebalnya kan hampir 300 halaman A4, mana selesai saya baca dua malam!" 

Hingga nyaris satu minggu, akhirnya saya mendapatkan feedback darinya dan saya terperanjat ketika membuka lembaran pertama. Coretannya banyak sekali. Bejibun. Hampir di setiap baris ada catatan khusus darinya. 

Dia bilang.... 

"Ceritanya bagus. Bahasanya juga sudah mengalir, Bro. Cuma ada beberapa yang masih telling saja, belum showing. Ada juga beberapa kata depan yang ditulis tidak benar, thypo, EYD nggak sesuai, dan sebagainya. Semuanya sudah saya tulis di setiap halaman. Selamat memperbaiki!" 

Setelah mengucapkan terimakasih, saya mengambil naskah saya dan kembali ke kontrakan. Saya edit lagi sesuai apa yang disarankan teman saya. Sambil mengedit itu, saya juga membeli empat novel sekaligus, membacanya di sela-sela saya berisitirahat. Membaca adalah nutrisi yang baik bagi seorang penulis. 

Singkatnya, saya berhasil memperbaiki naskah novel Sepotong Diam. Lalu karena deadline lomba sudah hampir tiba, saya print dan perbanyak ia. Segera mengirimkannya ke alamat panitia. 

Dua bulan kemudian, saya mendapatkan berita bahwa naskah itu menjadi pemenang kedua. Alhamdulillah. 

Memang benar, bahwa lomba yang saya ikuti itu tidak besar. Pesertanya juga, kalau tidak salah hanya ratusan orang. Tidak sampai ribuan. Tapi nggak masalah. Bagi saya, bisa menempati posisi kedua saja, sudah menjadi cambuk yang menggerakkan jemari sendiri untuk tetap menulis dan berbagi. Baik di blog ini atau di buku-buku yang akan saya terbitkan nanti. 

Kedua, dalam dua hari pertama, novel ini terjual 50 eksemplar. Lalu diminggu pertama, total yang terjual menjadi 200 buku. Tentu saja, bagi seorang penulis terkenal, itu bukan pencapaian yang baik. Apa yang bisa dibanggakan dengan angka-angka segitu? Lah wong mereka bahkan bisa menjual ribuan dalam satu hari, kok? 

Itu mereka yang sudah punya nama, yang media sosialnya aktif luar biasa. 

Kalau bagi saya yang masih pemula, yang masih coba-coba menulis dan menghasilkan karya, maka mendapatkan  apresiasi sebanyak itu adalah sebuah kesenangan tersendiri. Saya bahagia sekali. Merasa terharu   ini lebay!   karena ternyata ada juga yang mau menyisihkan uangnya untuk membeli hasil pemikiran saya. 

Ketiga, ada salah satu pembaca setia blog saya yang tinggal di Hongkong, lalu rela mengirimkan uang 1,5 juta hanya untuk mendapatkan buku yang baru saya terbitkan ini. 

Waktu itu, tetiba saja saya dihubungi oleh sebuah nomor yang tidak saya kenal. Kodenya bahkan bukan nomor ponsel Indonesia. Saya mengernyitkan dahi sejenak, lalu mengangkatnya. Saya bilang halo dan dia kemudian menceritakan tentangnya. 

Dia orang Indonesia yang sudah beberapa tahun tinggal di Hongkong. Sejak lama, ia sudah menjadi pengunjung setia blog saya dan membaca semua tulisan yang ada di sana. Dia menyampaikan niatnya ingin punya novel Sepotong Diam. Meminta saya mengirimkannya ke Hongkong dan serta merta mentransfer uang sedemikian banyak jika hanya untuk satu eksemplar saja. 

Dia bilang, "Nggak apa-apa, mas. Jika ada lebihnya, silakan dipakai untuk hal-hal lain yang berguna." 

Duh, rejeki anak sholih!

Keempat, novel Sepotong Diam pernah dibedah di Islamic Book Fair Bogor. Cuma saya lupa tahunnya. Kalau tidak salah sih 2014. Waktu itu, saya diminta oleh Forum Lingkar Pena Bogor untuk mengisi acara disana sebagai narasumber dan menceritakan proses kreatif terciptanya novel ini. 

Kelima, novel Sepotong Diam pernah saya cetak ulang di tahun 2015 sebanyak 200 eksemplar dan langsung habis dalam beberapa pekan. Hingga sekarang, satu dua orang, sesekali masih ada yang menghubungi saya dan menanyakan, apakah masih ada stoknya? Jika masih ada, dia mau beli. 

Sayangnya, saya memang tidak ingin mencetak ulang lagi. Sudah cukup lah. Mendingan saya bekerja lebih giat menulis, menghasilkan novel kedua. Hasilnya? Sebentar lagi ia ada dan bisa dibaca oleh semuanya. 

Novel kedua saya ini, judulnya Masih Ada. Isinya jauh lebih bagus dibandingkan novel Sepotong Diam. Bahkan kalau kalian membeli sekarang, maka saya akan memberikan bonus ebook novel Sepotong Diam. Kalian beli satu, saya beri kalian dua. [Baca penawaran ini DISINI]

Sepotong Diam
Cover Pertama Sepotong Diam 
Keenam, cover novel Sepotong Diam berubah di cetakan kedua. Awalnya dominan berwarna merah, tapi di cetakan kedua menjadi berwarna putih. Ini terjadi karena masukan teman saya, dia berkata, "Kalau dominan merah gini, jadi kayak novel Laskar Pelangi, Bro. Ganti aja." 

Maka saya gantilah ia. 

Ketujuh, novel Sepotong Diam saya tulis setelah saya membaca sebuah cerpen yang menarik di sebuah website   saya lupa alamanya. Sejenak setelah saya rampung menikmatinya, tetiba saja ada ide yang berkelebat dan menurut saya cukup menarik jika saya tuangkan dalam bentuk cerita. Maka mulailah saya menulis. Pelan-pelan, tapi konsisten dan akhirnya selesan. 

Nah, setidaknya, tujuh hal inilah yang unik dan menarik dari novel Sepotong Diam. 

Sengaja saya tuliskan disini, karena barangkali kelak, saya akan membaca dan mengingatnya lagi. Dan semoga saja, ketika saya membaca lagi catatan ringan ini, saya bisa sedikit tersenyum dan senang. 

Semoga saja!

5 komentar

avatar

kereeeen bang..sy kapan yaaa

avatar

harus di tiru semangatnya..
menulis setiap hari

sampulnya keren bang

avatar

Diam yang terpotong...

avatar

Iya covernya keren.,, semoga bisa segera nyusul punya buku sendiri..

avatar

semoga ketularan semangatnya Bang Syaiha, bisa nulis dan menerbitkan buku juga. Aamiin. Cover buku 'Sepotong Diam' yang baru, lebih eye catching nih, Bang. Tapi saya suka juga kok cover yang lama. Lagi nunggu novel 'Masih Ada' dikirim ke aku nih hehe


EmoticonEmoticon