Like Fanpage Bang Syaiha

Udah Ikut Pelatihan Kepenulisan yang Mahal Tapi Tetap Saja Nggak Bisa Nulis?

By Bang Syaiha | Tuesday, 4 October 2016 | Kategori:


"Bang Syaiha," ada yang bertanya demikian, "saya sudah ikut pelatihan menulis kesana kemari, tapi kok belum juga bisa menghasilkan tulisan yang bagus ya? Padahal, pelatihan menulis yang saya ikuti itu biayanya besar loh. Nggak murah!" 

"Lalu, hampir di semua pelatihan yang saya ikuti itu, janjinya pasti keren-keren, membuat semua orang tergiur. Sebut saja seperti ini, 'Dijamin Bisa Menulis Setelah Mengikuti Pelatihan Ini!' atau 'Cara Mudah Menembus Penerbit Mayor!' dan sebagainya." 

"Selama pelatihan, semua materi saya serap dengan baik. Saya pahami dan kemudian saya praktikkan. Eh, tapi tetap saja, setelah mencoba selama setahun, menerapkan apa yang dikatakan trainer kepenulisan itu, saya masih belum bisa menerbitkan buku yang saya rencanakan." 

Teman saya sedih, lalu berkata lagi, "Apa yang salah dengan saya ya, Bang? Jangan-jangan, rejeki saya bukan disini kali ya?" 

***** 
 
Nah, apakah diantara pembaca sekalian ada yang mengalami hal demikian? Dari kisah yang saya sampaikan di atas, kira-kira, apakah yang salah? 

Untuk menjawabnya, maka mari kita bahas pelan-pelan...

Pertama, perlu disadari dengan baik bahwa apakah dengan banyak mengikuti pelatihan menulis yang berbiaya mahal, maka pasti akan membuat kamu mampu menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan indah? Atau, apakah dengan mengkhatamkan banyak buku-buku tentang kepenulisan dan tips-tipsnya, akan serta merta menjadikan kamu ahli dalam merangkai kata sehingga enak dipandang mata? 

Helloooooooooooo, belum tentu, cuy! 

Kemampuan menghasilkan sebuah tulisan yang renyah dan bergizi itu, bukan tentang seberapa banyak pelatihan yang sudah kamu ikuti, gan! Juga bukan tentang seberapa puluh buku kepenulisan yang sudah kamu lahap hingga tuntas. Bukan!

Lebih daripada itu, kemampuan menghasilkan sebuah tulisan yang menggugah, adalah tentang seberapa lama kamu sudah berlatih dan tekun di dalamnya. Sudah berapa jam yang kamu habiskan untuk terus menulis dan menulis. 

Mengenai hal ini, saya teringat perkataan seorang kawan yang sudah menerbitkan puluhan buku. Katanya, kunci agar bisa menghasilkan karya yang baik ada lima saja. Apa itu? Dia bilang, "Menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis!" 

Lalu, saya pun pernah membaca, bahwa ada kaidah sepuluh ribu jam! Kaidah apalagi ini?

Perhatikan...

Pada kaidah itu dikatakan bahwa seseorang yang ingin menjadi ahli pada bidang tertentu   sebut saja ingin menjadi ahli dalam menulis, maka setidaknya ia harus menghabiskan dulu sepuluh ribu jam untuk berlatih dan fokus di dalamnya. Jika dia belum sampai pada sepuluh ribu jam, maka ia belum bisa dikatakan ahli di bidang yang ia geluti. 

Ngeri sekali, bukan? Sepuluh ribu jam, kan nggak sebentar!

Kalau kita menyisihkan waktu untuk menulis dalam sehari hanya satu jam saja, maka setidaknya, kamu perlu 27,39 tahun, baru  kaidah di atas terpenuhi. Itu kan lama sekali, toh? 

Bukannya berhasil menghasilkan sebuah buku, yang ada kamu bakal keburu tua dan mati. 

Oke, poin pentingnya apa? 

Begini saudara-saudara, pada tulisan ini, saya hanya ingin bilang bahwa kerja kepenulisan adalah kerja jangka panjang. Ia seperti lari maraton yang jarak tempuhnya jauh. Tidak semua orang dapat mengerjakannya. 

Hanya dia yang memiliki stamina tinggi sajalah yang bisa. Hanya dia yang memiliki niat yang kuat sajalah yang mampu. Hanya dia yang menggigit mimpinya lah yang berhasil. 

Sekali lagi, bisa menulis atau tidak, bukan pada masalah sudah berapa banyak pelatihan yang diikuti. Paham?

Kedua, saya ingin bilang, bahwa untuk sekedar bisa menghasilkan sebuah tulisan yang bagus dan renyah, bahkan kamu, sebenarnya tidak perlu ikut pelatihan yang biayanya bisa jutaan. Sayang duitnya! 

Jadi, bagaimana caranya?

Untuk menjawab itu, mari kita ambil satu analogi yang bagus: memasak!

Saya sarankan, coba sesekali tanyakan ke orang tua kamu di rumah, begini, "Ummi, gimana sih caranya kok setiap hari Ummi bisa masak masakan yang enak?" 

Saya yakin, ummi kamu nggak akan jawab dengan dua kalimat ini: 

"Ummi bisa masak karena dulu pernah berkali-kali ikut pelatihan memasak yang biayanya jutaan!" 

atau...

"Ummi bisa masak enak tiap hari tuh karena sudah mengkhatamkan puluhan buku resep masakan, Nak!" 

Kayaknya, mustahil Ummi kamu akan menjawab demikian, bukan? 

Paling masuk akal, Ummi kamu akan bilang, "Ummi nggak tahu sih gimana caranya bisa menghasilkan masakan yang enak. Soalnya, selama ini, ummi memasak ya masak saja. Nggak ada aturan khusus." 

Catat! Tidak ada aturan khusus. 

Memasak ya memasak saja. Menulis ya menulis saja. Tuangkan apa yang ada di kepala sebebas-bebasnya. Jangan mikir macam-macam, seperti: nanti bakal ada yang baca nggak ya? Kalimat pertama saya sudah bagus belum ya? Konflik yang saya kembangkan oke nggak ya?

...dan sebagainya.  

Ummi kamu, bahkan tidak perlu timbangan digital di samping kompor untuk menakar garam yang akan dilemparkan ke wajan, toh? Tinggal jumput saja pakai jari, lalu sebarkan. Ummi kamu, beberapa kali akan mencicipi masakan yang sedang dibuat. Jika kurang asin, tambahin lagi garamnya. Jika kurang sedap, tambahkan lagi penyedapnya, dan lain-lain. 

Menulis ya seharusnya juga demikian. Tulis sajalah apa yang ada di kepala. Habiskan ide yang ada, lalu jika sudah, endapkan tulisannya. Nanti, dibaca lagi lalu lakukan perbaikan hingga menjadi enak sekali dinikmati. 

Begitu saja terus-menerus. Nggak perlu ikut pelatihan. Nggak perlu bayar mahal-mahal. Jikapun hadir pada sebuah seminar, maka niatkan untuk belajar, mencari teman, dan jaringan. Jangan berharap setelahnya kamu bisa menulis dengan baik tanpa latihan. 

Karena itu hampir pasti tidak mungkin.  

Demikian.

12 komentar

avatar

ODOP salah cara satu memenuhi jam terbange menulis. Semangat nulis

avatar

Sepuluh ribu jam... saya pernah denger di mana juga yah...

avatar

Mntep nih bang..mengena banget. Yg teori 1000 jam prnah baca juga sblmny dibuku felix siaw "how to master your habits"..

avatar

mantap, Bang. Bisa karena terbiasa.

avatar

Renungan yg bagus bang :)
Memotivasi :D

avatar

Saya pernah mengalami seperti yang Bang Syaiha tulis, udah bayar mahal tapi tulisan belum juga. Jangankan menghasilkan buku, nulis draft aja ndak kelar-kelar.
Terimakasih untuk tulisan yang menginspirasi ini :)

avatar

Wew.. inspiratif sekali bang.. jadi semangat lagi buat nulis dengan konsisten..💪💪💪

avatar

Saya lebih setuju dengan menulis ya menulis saja. Hahahah.

avatar

Kalau saya gk pernah ikut pelatihan menulis. Kecuali pelajaran bahasa Indonesia.


EmoticonEmoticon