Like Fanpage Bang Syaiha

Ajak Anak ke Masjid Sejak Dini!

By Bang Syaiha | Tuesday, 29 November 2016 | Kategori: |

Ajak anak ke masjid sejak dini
Ketika azan Maghrib tadi berkumandang, saya sudah siap dengan kostum shalat: memakai sarung, baju koko, dan peci putih sebagai mahkota. Saya siap berangkat ke mushalla terdekat untuk mengikuti ibadah Maghrib secara berjamaah. 

Biasanya, saya berangkat sendirian, belum pernah sekalipun mengajak anak saya ke mushalla itu. Apa sebab? Pertama, bangunannya cukup tinggi, ada lima atau enam anak tangga untuk sampai ke lantai utamanya. Sehingga saya khawatir, jika mengajak anak saya kesana, ia akan terpeleset, jatuh, atau apa lah. 

Maklum, anak saya cukup aktif. Tidak bisa diam. 

Kedua, mengapa saya belum pernah sekalipun mengajaknya kesana, karena usianya masih satu tahun lebih. Saya takut, jika saya mengajak ia kesana, malah menyebabkan keributan. Berlarian, berteriak, atau apa saja. Kan saya jadi nggak enak sama jamaah yang lain, toh?

Tapi petang ini berbeda. Ketika saya hendak melangkah keluar menuju mushalla, tetiba saja anak saya berdiri terpaku, menatap penuh iba. Seakan ingin bilang, "Abi, aku ikut dong. Aku kan ingin shalat juga. Masa aku nggak diajak terus sih?"

Duh, kan saya jadi meleleh nggak tahan. Karena bagaimanapun, bagi seorang ayah, anak adalah segalanya. Senyumnya adalah dambaan. Tangisnya adalah sesuatu yang tidak diharapkan. Ayah akan melakukan apapun untuk anak dan buah hatinya. 

Mendapati anak saya demikian, saya kemudian berjongkok, memegang pundak anak saya dan berkata, "Bang Alif mau ikut Abi ke masjid? Bang Alif mau ikut shalat?" 

Mengerti apa yang saya sampaikan, Bang ALif kemudian menjawab, "Ya.. Ya.." sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sorot matanya berubah. Jika di awal tadi sendu dan mengiba, sekarang menjadi antusias dan bercahaya.

"Kalau gitu, sana ke Ummi, ganti baju yaa..." 

...dan tanpa diperintah dua kali, ia langsung berlari ke kamar, menarik-narik istri saya, menyodorkan sebuah baju yang entah ia dapat darimana. 

"Nggak pake baju ini ya, kan mau ke masjid. Mau shalat. Pakainya baju koko." Istri saya berkata menjelaskan. 

Anak saya, Bang Alif, hanya diam. Pasrah bajunya dilucuti oleh istri dan diganti dengan yang lebih sesuai untuk pergi. Sesekali, kepalanya menoleh ke arah saya sambil tersenyum manis seperti gula rafinasi. 

Saya yang melihat itu, menjadi semakin cinta kepadanya. Semoga kelak kamu menjadi anak yang baik, sholih, dan bermanfaat buat sesama. 

Kami kemudian berangkat berdua ke mushalla setelah sebelumnya, anak saya, mencium tangan dan melambaikan tangan, dada, ke istri saya. Bang Alif menggandeng jemari saya di sepanjang jalan, ia melangkah dengan riang. 

"Nanti, di mushalla, Bang Alif shalat ya. Nggak boleh ribut." 

Paham apa yang saya sampaikan, anak saya mengangguk. Ia memandang ke arah saya lagi, seperti ingin bilang, "Iya, Bi. Tenang saja. Aku nggak akan ribut kok." 

...dan benar saja. Selama di mushalla, Bang Alif anteng. Duduk manis di pangkuan saya. Bahkan ketika shalat, ia tidak beranjak sama sekali dari samping saya. Yang ia lakukan, hanya berdiri dengan melipat kedua tangan di atas perut. Tidak ada rukuk, tidak ada sujud. 

Tidak mengapa. 

Paling nggak, semoga ia kelak mengerti, bahwa sebisa mungkin, bagi seorang lelaki, shalat lima waktunya nanti di masjid atau di mushalla terdekat. Bukan berdiri sendiri di kamar pribadi. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon