Like Fanpage Bang Syaiha

Kebanjiran Informasi

By Bang Syaiha | Tuesday, 15 November 2016 | Kategori:

Banjir Informasi
Jika dahulu, kita sering sekali mendengar kalimat bijak ini: "Mulutmu, harimaumu!" untuk menggambarkan betapa ucapan yang kita keluarkan, jika tidak benar dan menyinggung orang lain, akan menjadi bumerang kepada diri kita sendiri, maka pada masa sekarang, kalimat bijak itu, bolehlah sedikit direvisi menjadi: 

"Jempol dan jemarimu, harimaumu!" 

Di masa ini, media sosial, entah itu facebook, twitter, path, instagram, WhatsApp, dan blog, berkembang sangat cepat. Super cepat malah. Tidak bisa dibayangkan sebelumnya, bukan? Bahwa kejadian di seberang lautan sana, yang jaraknya bisa ribuan kilometer, bisa kita ketahui hanya dalam waktu hitungan detik setelah kejadian itu berlangsung. 

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa untuk memberi kabar dan bertanya banyak hal kepada orang lain, yang jaraknya jauh sekali, bisa dilakukan real time dengan biaya yang relatif murah. Hampir setiap hari, saya selalu bertanya kabar ke adik saya yang kebetulan sedang di Belanda. 

Kami bercengkerama seperti dekat saja jaraknya. Darinya, saya mengetahui bahwa sebentar lagi, di Belanda musim dingin. Suhu sekarang, jika malam, menyentuh angka 2 derajat celcius. Adik saya memakai empat selimut sekaligus demi menghangatkan tubuhnya. Disana, kata adik saya lagi, pendingin ruangan dan kipas angin tidak laku. Berbeda sekali dengan di Indonesia. 

Di masa sekarang, informasi seperti tidak bersekat. Tidak ada yang membatasi mereka, sehingga kita menjadi kebanjiran berita. 

Di grup WhatsApp misalnya! 

Dalam sehari saja, ada beragam broadcast yang hadir. Anggaplah dari satu grup yang kita ikuti, ada 3 broadcast dalam sehari. Nah, kalau grup WhatsApp kita ada sepuluh, maka ada 30 broadcast lah yang akan kita terima. 

Kesemua broadcast itu, belum tentu benar. Apalagi di bulan-bulan ini. Ketika kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok belum diputuskan, ketika pemerintahan banyak tidak disukai oleh golongan yang tidak menang, atau ketika orang-orang seenak udelnya membuat situs berita lalu membuat postingan yang wow, bombastis, dan seksis, hanya demi recehan dari Google Adsense dan iklan lainnya. 

Sebagai orang yang berpendidikan, seharusnya, kita tidak mudah menyebarkan berita yang kita terima dari grup-grup WhatsApp. Apalagi, jika isinya ternyata mengandung unsur provokatif, intoleran, dan berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa kita. 

Walaupun isi broadcast itu boleh jadi sesuai dengan jalan pikiran yang ada di kepala, kita tetap harus berpikir dua tiga kali ketika akan menyebarkannya. Bijaklah. Renungkan dengan baik, "Apa gunanya jika broadcast  ini kusebarkan? Apa untungnya jika aku membagikan berita   yang kebenarannya belum bisa dipastikan ini   ke media sosial?" 

Jaga jemari dan jempol kita untuk sedikit bisa menahan ketika ingin menyebarkan sesuatu di dunia maya. Jadilah orang cerdas yang bisa memilah, mana yang harus dan tidak harus. Berpikirlah lebih panjang dan jangan sampai latah seperti orang-orang kebanyakan. 

Demikian. 

1 komentar:

avatar

iya kadang ikut2an share BC tanpa tabayun kebenarannya. hehe.. harus lebih jeli lagi.


EmoticonEmoticon