Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Ragu dan Was-Was

By Bang Syaiha | Tuesday, 15 November 2016 | Kategori:


Kita sering kali dilanda keraguan, tidak yakin akan apa yang ingin kita lakukan. Dalam hati, sudah kebelet banget pengen nikah, tapi kemudian, ketika sudah ada lawan jenis yang menyerahkan cinta dan perasaannya, kita malah ragu. Tidak yakin dan was-was. 

Sering bergumam sendirian, "Ini pilihan yang bener nggak sih?" atau, "Apakah dia perempuan yang tepat? Apakah dia bisa menjadi istri serta ibu yang baik untuk anak-anak saya nanti?" dan sebagainya. 

Dahulu, ada seorang kawan yang datang ke saya bercerita seperti itu. Sejak kuliah, ia sudah sering berkoar-koar ingin mencari pasangan segera. Agar tidak terjerat dalam jebakan zina katanya. Semua yang ia harapkan itu, ternyata baru ia dapatkan ketika sudah lulus dan bekerja. Ia berkenalan dengan seorang gadis, menyukainya, lalu berlanjut ke rencana pernikahan. 

Akad nikahnya tinggal berbilang hari saja ketika ia mendatangi saya dengan wajah pias, seperti sedang cemas, ia bilang, "Apa aku batalin aja ya akad nikahnya?" 

"Loh, kenapa?" 

Ia berjalan mondar-mandir di depan saya. Entah berapa kali, tangannya mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan dan kemudian berkata lagi, "Aku ragu, Bang Syaiha. Dia bener-bener perempuan yang tepat, bukan ya?" 

"Kenapa ragunya baru sekarang? Perasaan, kemarin-kemarin, kamu yakin-yakin aja ngelamarnya!" 

"Nggak tahu lah, bro. Tiba-tiba aja kok jadi nggak yakin begini." 

"Sudahlah, insya Allah ini yang terbaik. Tetap lanjutkan saja akad nikahnya. Ini kan ibadah. Menggenapkan agama. Maka tentu saja ada yang menggoda, meniupkan keraguan dan was-was ke dalam dada kita," ujar saya yang kemudian langsung membacakan surat An Nas. 

Keragu-raguan itu tidak hanya muncul saat hendak melangsungkan akad nikah saja. Tapi pada hal-hal besar yang akan kita lakukan. 

Misalnya, ketika kita memutuskan akan merantau dan mengadu nasib di luar negeri. Boleh jadi, ada keraguan yang muncul tiba-tiba. Bagaimana aku akan hidup disana jika bahasaku saja masih belepotan? Bagaimana jika aku tidak betah dengan kondisi dan cuacanya? Bagaimana kalau aku sakit? dan sebagainya. 

Ketika hendak berhenti bekerja dan memutuskan berwirausaha, keraguan juga kerap kali hadir melanda. Apakah ini keputusan yang tepat? Bagaimana jika usaha yang saya lakukan tidak berhasil? Bagaimana jika yang saya jual tidak laku? dan masih banyak lagi. 

Ragu itu lumrah. Yang tidak wajar adalah ketika kita mengikuti keragu-raguan itu. Menjadi takut lalu berhenti melangkah menjadi lebih baik. 

Jika demikian adanya, maka kita tidak akan pernah bisa berlari menggapai apa yang kita harapkan. Sebabnya, karena setiap akan menjemput keberhasilan, kita selalu ragu dan berhenti. Tidak berani mencoba. 

Dan sesiapa saja yang tidak berani mencoba, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa. 

Begitulah... 

1 komentar:

avatar

keraguan dan was-was dari setan ya bang..


EmoticonEmoticon