Like Fanpage Bang Syaiha

Ngajarin Bang Alif Olahraga Pagi

By Bang Syaiha | Monday, 28 November 2016 | Kategori: |


Akhir pekan kemarin, semoga menjadi hari-hari yang mengasikkan untuk anak saya, Bang Alif. Pasalnya, jika biasanya setiap akhir minggu saya selalu memilih tidur seharian di rumah, meluruskan tulang punggung, dan melepas lelah setelah tujuh hari penuh bekerja di luar, kemarin tidak. 

Tumben. 

Entahlah. Padahal, malam minggunya, saya begadang, menonton film hasil download di internet hingga dini hari sendirian. Paginya, karena kurang tidur dan bantal yang ketinggian, leher bagian belakang saya sakit dan berat. Susah digerakkan.

Saya sudah bilang ke istri ketika jam di ponsel masih menunjukkan angka tujuh, "Abi mau tidur lagi ya, Ummi. Abang Alif sama Ummi aja mainnya." 

Eh, istri saya malah manyun. Kan saya jadi bingung. Apalagi ketika ia kemudian berkata, "Abi nih, setiap hari berangkat kerja pagi, jam enam lewat, pulangnya sore dan kelelahan, malemnya lemes. Akhirnya nggak pernah main sama Abang. Sekarang, pas akhir pekan malah maunya tidur aja kerjaannya." 

"Lah terus, kan saya lelah dan ngantuk?" begitu kata saya dalam hati, tidak mungkin saya keluarkan melalui lisan yang tak bertulang ini. Bisa berabe nanti. 

"Mbok yo kalau akhir pekan ajak Abang main dan jalan-jalan. Anak itu kan butuh kasih sayang Abinya." 

Duh, mendapatkan ceramah gratis demikian, saya kok jadi merasa bersalah banget ya? Kayaknya nggak pernah sama sekali membersamai anak kami. Pengen nangis. Padahal ya walau nggak setiap hari, saya sesekali mandiin Bang Alif, main hujan, membaca buku, nonton upin ipin, dan sebagainya. 

Tapi ya itu, dalam hubungan suami istri, tidak ada gunanya saling bertahan dan merasa diri paling benar. Kalau yang satu sedang menjadi api yang membara dan panas, maka yang satunya lagi, jadilah air yang dingin dan segar. Berubah menjadi sejuk dan menentramkan. 

Jangan ikut-ikutan panas. Nggak baik. 

Saya kemudian, akhirnya bilang, "Yaudah, hayuk jalan-jalan. Sekalian olah raga." 

Istri saya diam, mungkin tidak yakin dengan ajakan saya barusan. 

Saya menggenggam tangannya hangat, lalu kembali berkata, "Abi serius nih, mau jalan-jalan nggak?" 

"Kemana?" 

"Ke danau aja, mau? Biasanya di sana ramai kalau hari Minggu begini."

"Sekalian sarapan di sana ya? Kebetulan Ummi juga belum masak di rumah." 

"Oke, sip!" 

Setelah percakapan singkat tersebut, istri saya lalu sibuk dengan segala persiapannya. Ada saja yang dimasukkan ke dalam tas kecil yang ia bawa. Air minum lah, ponsel, dan apa saja. 

"Nggak usah bawa air minum deh, di sana kan ada yang jual." kata saya, yang kemudian dijawab, "Bawa aja napa, biar hemat." 

"Ngapain bawa ponsel? Kita kan mau jalan-jalan dan family time! Nggak usah ngurusin jualan dan chat dulu." ungkap saya, yang kemudian ditimpali, "Buat poto-poto di sana, Bi!" 

Duh! Ya sudahlah. Lelaki dan perempuan itu memang berbeda dan tidak bisa disamakan. 

Kami tidak memiliki kendaraan, belum sanggup beli motor, maka kami memakai jasa ojeg pangkalan saja. Ya, barangkali, rejeki mereka memang salah satunya datang dari tangan-tangan kami ini. Semoga saja menjadi keberkahan dan kebaikan buat mereka dan saya, tentu saja. 

Di danau yang kami tuju, suasana sudah ramai. Ada ratusan ibu-ibu sedang berbaris rapi melakukan senam pagi. Ada sekelompok anak laki-laki, sedang main bola di rerumputan yang belum rapi. Ada juga anak-anak kecil yang berlari-lari, terlihat riang sekali. 

Bang Alif, anak saya, sumringah. Ia tidak henti-hentinya menunjuk ke arah danau. Bibirnya monyong-monyong, ikut-ikutan menunjuk ke arah yang sama. Mungkin ia takjub, kok ada ya, air sebanyak itu tergenang diam dan tenang? 

Hanya saja, ketika saya menuntunnya untuk lebih mendekat ke danau, Bang Alif menolak. Kakinya diam di jalanan. Seperti disemen dan tidak mau digerakkan. Hingga akhirnya, saya kemudian memilih mengajak Bang Alif berolah raga saja, jalan-jalan pagi, sambil sesekali berlari-lari kecil di pinggir jalan. Yah, itung-itung menanamkan kebiasaan olah raga sejak dini. 

Setelah jalan sebentar, kami lalu sarapan dan kemudian kembali berlarian. Bang Alif begitu antusias. Apalagi ketika melihat sekelompok remaja lelaki bermain bola di lapangan rumput yang belum rapi. Ia terlihat ikut mengayun-ayunkan kakinya sambil bilang "Gol! Gol!" dengan bahasanya yang masih cedal. 

"Harusnya tadi kita bawa bolanya Bang Alif ya, Bi."

Saya mengangguk. 

Setelah puas bermain dan menonton remaja lelaki bermain bola, kami lalu memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Padahal jaraknya 3 km lebih. 

"Ummi yakin mau jalan?"

Gantian istri saya yang mengangguk. "Insya Allah, yakin!"

Akhirnya, kami jalan bertiga. Bang Alif, walau masih kecil, tidak terlihat lelah dan malah bahagia. 

Semoga kenangan itu tertanam dalam di benaknya dan menjadi sesuatu yang baik untuk masa depannya kelak. Aamiin. 


EmoticonEmoticon