Like Fanpage Bang Syaiha

Pahitnya Kehidupan yang Kita Jalani, Boleh Jadi adalah Kehidupan yang Didambakan Orang Lain

By Bang Syaiha | Tuesday, 22 November 2016 | Kategori:


Seorang siswa di sekolah saya, tergopoh-gopoh. Melangkah dengan jangkauan yang lebar-lebar. Bahkan agak sedikit berlari ke depan. Ia terlihat buru-buru. Kuatir telat dan tidak sempat. Di genggamannya ada secarik kertas kecil yang kemudian ia buka, tepat setelah ia sampai di posisi yang diinginkannya. Poisi paling tengah dalam sebuah lapangan. Tempat pembina upacara biasa berdiri sebelum masuk ke dalam arena yang telah ditentukan. 

Ia sudah berdiri tegap dengan satu tangan memegang secarik kertas kecil tadi, sedangkan satu tangan yang lain memegang mikropon yang menyala. Dadanya naik turun karena kelelahan. 

Ia lalu berdehem.

"Ehhmmm, tes... tes..." katanya dengan suara berat, tepat berseru di ujung mikropon. Suaranya kemudian menggema. Mampir ke telinga-telinga semua siswa yang berdiri rapi sehabis mengikuti apel pagi. Juga ke kuping-kuping kami, guru-guru yang berdiri mengikuti kegiatan rutin saban hari. 

"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh," 

Dijawab bersamaan oleh semua yang hadir, "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh!"

Ia bilang lagi, "Quote of the day!" 

Semua diam. Menunggu kalimat apa yang akan ia keluarkan. Termasuk saya. Setiap hari, saban pagi, momen ini adalah salah satu momen yang saya tunggu-tunggu. Mendengarkan kalimat bijak yang enak dilahap dan diresapi ke dalam hati masing-masing. Selalu ada manfaat yang bisa saya ambil. Selalu ada pelajaran yang bisa saya petik. 

Ia melanjutkan, "Pahitnya hidup yang kita rasakan sekarang, boleh jadi, justru, adalah kehidupan yang didambakan oleh orang lain di luar sana!" saya mengunyah kalimat itu, dan ia lalu menutup dengan "Nama saya Ardahman, saya berasal dari Padang! Terimakasih. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh!" 

Semua siswa dan guru yang ada, menjawab dengan gegap gempita. Cuma saya yang masih diam. Mengapa? Karena kalimat singkat yang ia sampaikan barusan, sedikit banyak, membuat saya seperti ditusuk duri. Jleb, banget! Dalem!

Saya ulangi kalimat itu di hati, "Pahitnya hidup yang kita rasakan sekarang, boleh jadi, justru, adalah kehidupan yang didambakan oleh orang lain di luar sana!"

Ya Allah...

Jika dipikir betul-betul, kalimat itu memang benar sekali. Kita, terutama saya, seringkali merasa bahwa yang saya jalani ini, pahit. Bagaimana tidak? Saya tumbuh dengan kaki yang tidak seperti kalian, jalan juga tidak normal. Keadaan ini, sesekali, membuat saya terpuruk dan jatuh. Putus asa dan tidak berbuat apapun. 

Saya meringkuk di pojokan, melipat kaki dan memeluk lutut, sambil sesenggukan. Betapa cobaan yang Allah berikan ke saya cukup berat!

Tapi... Tapi... 

Jika mau merenungi kembali, ternyata apa yang saya jalani, ternyata tidak sebegitu buruk. Saya saja yang membuatnya sedemikian parah dan menyiksa. Sehingga ketika saya hanya fokus ke sana, ke kekurangan saya, jadinya semakin berat dan membebani. Seharusnya, saya tidak demikian. 

Karena, betapapun beratnya hidup yang kita punya, pasti selalu ada yang membuat bahagia. Membuat lega. Membuat kita bisa tersenyum ke sesama. 

Sungguh, semua yang Allah ciptakan, pasti berguna. Tidak ada yang sia-sia. 

Termasuk kekurangan yang saya punya. Termasuk kelemahan yang kalian derita. Apapun itu, cobalah renungkan, ambil sisi baiknya, lalu bersyukurlah. Karena ternyata, kehidupan yang menurut kita berat ini, boleh jadi malah didambakan oleh orang lain di sana. 

Saya kemudian teringat nasihat yang pernah disampaikan oleh almarhum ayah saya dulu, katanya, "Untuk urusan dunia dan kehidupan fana, sebisa mungkin lihat ke bawah. Perhatikanlah, bahwa di luar sana, betapa banyak orang-orang yang justru nasibnya tidak lebih baik dari yang kita alami saat ini. Karena itu, maka bersyukurlah. Jangan terlalu banyak mengeluh, karena itu tidak ada artinya."

"Tapi, untuk urusan akhirat, juga untuk urusan ilmu, kamu harus melihat ke atas. Jika ada yang lebih baik, maka kamu juga harus berusaha ke arah sana. Jangan cepat puas. Selalu berusaha hingga bisa!" 

Demikian, semoga catatan ringan ini berguna

1 komentar:

avatar

Jadi teringat kata2, kalau tidak salah. "Sungguh Indah perkara kaum Muslim, jika ditimpa kesulitan kita bersabar, jika diberikan kenikmatan kita bersyukur".


EmoticonEmoticon