Like Fanpage Bang Syaiha

Pemilu Amerika Dimenangkan oleh Donald Trump, Lalu?

By Bang Syaiha | Wednesday, 9 November 2016 | Kategori:

Pemilu Amerika
Pemilu Amerika
Sore sedang berbalut hujan, ketika sebuah berita, masuk ke ponsel yang saya genggam. Ketika itu, saya sedang duduk meringkuk di pojok ruangan, melipat kedua kaki hingga lututnya menyentuh dagu, dan memeluknya erat. Saya sedang kedinginan. Jika tidak bertahan dalam posisi demikian, saya pasti sudah menggigil. 

Beberapa kali, telapak tangan kanan, saya usap-usapkan ke lengan kiri yang terbuka. Jika sudah agak mendingan, gantian saya lakukan pada lengan yang satunya. Konon, pergesekan dua permukaan kulit ini akan menimbulkan rasa hangat yang tidak seberapa, tapi cukuplah untuk sekedar mengusir dingin seketika. 

Saya kemudian bergumam, "Ini ruangan dingin amat ya?" 

Lengang sejenak, lalu saya berseru lagi dalam hati, "Oalah..." kata saya, setelah melihat mesin yang ada kipas di dalamnya mendesing, "pantas saja! Pendingin ruangan ini menyala rupanya!" 

Duh!

Sudah lah di luar hujan dan berangin, ruangan ini malah berpendingin. Remotenya tidak kelihatan lagi! Benda itu, kalau lagi dibutuhkan memang sering kali raib. Biasanya, ada yang meminjam, lalu lupa mengembalikan. Sebuah kebiasaan kecil yang sungguh tak elok! Please, kalian jangan sampai melakukan hal demikian ya! 

Akhirnya, saya kemasi barang-barang, lalu keluar ruangan. Daripada saya mati kedinginan, kan? 

Ransel berwarna cokelat yang mulai usang, saya gendong di punggung. Kemudian melangkah pelan, menyusuri lorong sekolah yang ada kelas di samping kiri dan kanannya. Saya sempat mengarahkan pandangan ke beberapa kelas dan mendapati tidak ada siapa-siapa disana. Sepi!

Yaiyalah, orang sudah sore! Sudah pada pulang semua, kali!

Sesampainya di ujung lorong, saya berhenti. Di depan saya ada jendela besar yang terbuka. Sehingga saya bisa menatap langit yang gelap. Awan berisi air tersebar merata sejauh mata memandang. Saya tersenyum simpul, entah karena apa. Saya sendiri tidak paham. Melihat awan hitam dan hujan, mampu membuat saya nyaman dan tenang. Merdu sekali rasanya. Semua ini terjadi pasti karena kehendak Tuhan.

Saya menurunkan ransel dari punggung, meletakkannya sembarangan di lantai. Saya duduk di samping ransel itu, masih dengan posisi seperti tadi   melipat kedua kaki hingga lututnya menyentuh dagu, lalu memeluknya. 

"Sepertinya, hujan ini akan lama!" 

Mendapati tidak ada yang bisa saya lakukan, maka saya membuka ponsel dan membaca berita yang masuk ketika tadi masih di ruangan. 

Semua grup WhatsApp saya buka. Lalu saya pun menyadari bahwa hampir di setiap grup yang saya ikuti itu, membahas topik yang sama: Donald Trump Menang dan Terpilih Menjadi Presiden ke-45! 

"Ini berita yang mengejutkan! Bagaimana bisa Trump menang? Padahal, hampir di setiap survey yang dilakukan, Trump selalu berada di bawah. Lah kok sekarang malah menjadi yang pertama, mengalahkan saingannya?" ujar seseorang, entah siapa. 

Saya tidak merespon apapun di grup, hanya bergumam lagi, "Kalau begitu, mulai sekarang jangan percaya pada survey-survey sebuah lembaga. Karena boleh jadi, hasil yang mereka keluarkan itu adalah pesanan dari pasangan calon demi kepentingan pribadi dan golongannya." 

Di grup yang lain, ada yang berkata, "Kayaknya kiamat sudah dekat, nih! Trump terpilih! Dia kan nggak suka banget sama Islam. Bisa dipastikan dunia Islam bakal diacak-acaknya deh. Perang dah dunia! Membayangkannya saja sudah mengerikan!" 

Sama seperti sebelumnya, saya tidak ikut berdiskusi di grup. Mengapa? Karena saya awam akan hal ini. Saya tidak mengerti banyak. Maka lebih baik diam dan tidak berkomentar. Yah, walau dalam hati, saya juga berkata-kata sendiri sih! "Apakah benar akan seburuk itu?" 

Suatu kali, di sebuah pagi yang dingin, saya memang sempat menyaksikan berita yang isinya adalah sepengkal pidato Trump di masa kampanyenya. Dia bilang, jika terpilih nanti, maka dia akan memperketat masuknya umat Muslim ke negaranya. 

Mengapa demikian? Alasannya adalah pencegahan!

Dalam kacamatanya, umat Muslim adalah pembawa bencana dan pembuat onar. Ia mengatakan demikian karena berkaca pada banyaknya kejadian brutal yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengaku Islam   padahal Islam itu tidak demikian. Jika ada yang berbuat tidak benar dan dia kebetulan Islam, maka jangan beranggapan bahwa begitulah Islam. 

Tidak! 

Saya buka lagi satu grup dan mendapati ada yang berkomentar begini, "Baru tadi malam, Jenderal Gator Nurmantyo berkomentar di ILC bahwa Indonesia, karena kekayaan alam dan sumber energinya melimpah, boleh jadi, nanti, akan dikepung oleh banyak negara, untuk dirampok kekayaannya! Eh, sekarang Trump terpilih. Bisa digasak abis nih Indonesia! Yuk mari, ingat pesan Jenderal Gator, mari bersatu demi NKRI." 

Saya mengerutkan kening, lalu berbicara sendirian, "Apakah semudah itu merampok Indonesia?" Tidak ada jawaban dari siapapun, karena saya memang duduk tanpa teman. Saya menggelengkan kepala, sebagai respon pertanyaan dari diri saya sendiri, lalu tersenyum dan membatin lagi, "Saya rasa tidak! Warga Indonesia, bagi saya, walau terlihat lemah dan mudah bercerai berai, tapi pasti tidak akan rela jika NKRI dijarah sekehendak hati!" 

Hujan masih menguyur dan meluruhkan banyak hal: pasir, sampah-sampah, ranting kering, dan sebagainya. Tetapi semangat dan persatuan, semoga tidak ikut hanyut karenanya. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon