Like Fanpage Bang Syaiha

Tentang Kakak Perempuan Saya

By Bang Syaiha | Monday, 21 November 2016 | Kategori:


Beberapa hari yang lalu, kakak saya yang ada di Bengkulu menghubungi. Kami mengobrol banyak hal, bertanya kabar, dan bersenda gurau. Sesekali kami tertawa jika obrolan yang kami bahas secara kebetulan menyentuh sisi-sisi yang menggelitik dan lucu. Terutama ketika kami mengenang kembali masa kecil kami yang absurd. 

Kakak perempuan saya ini, ketika kecil dulu, agak sedikit tomboy. Rambutnya keriting semrawut dan wajahnya seperti peternakan jerawat yang subur. Setiap hari jerawat disana beranak dan anaknya tidak hanya satu. Bisa puluhan sekaligus. Maka wajah yang tidak begitu lebar itu, seketika penuh dengan benjolan-benjolan yang tidak seragam dan tidak mengenakkan dipandang. 

Selain itu semua, wajahnya juga seperti pertambangan minyak. Selalu mengkilap jika terpapar sinar matahari. Membuat orang memicingkan mata ketika tidak sengaja menatap ke arah sana. Silau, men! Parahnya, wajah itu menjadi tidak karuan ketika siang hari terkena debu jalanan yang agak tidak mungkin untuk dihindari di kampung kami. 

Lengkap sudah. Jelek bukan main. 

Dahulu, mengetahui kondisi rambut dan wajah kakak yang jauh di bawah normal, saya seringkali berkata dalam hati, bertanya-tanya, “Apa ada ya yang mau ke kakak saya nanti? Udah kurus, rambutnya keriting tidak menentu, jerawatan lagi! Duh!” 

Saya menyangsikan itu. Juga kuatir, was-was dalam hati, jangan-jangan ia bakal jadi perawan tua. Nggak laku. Kan kasihan! 

Hingga ketika ia duduk di bangku SMA, semuanya berubah. Almarhum ayah saya, sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama, ikut andil. Sering menasihati kakak dan memintanya memakai jilbab, menutup auratnya dengan baik. Kata Ayah dulu, “Menutup aurat itu wajib hukumnya bagi perempuan. Jelas sudah dalilnya dan semua ulama sepakat akan hal itu. Maka jangan cari alasan untuk tidak memakainya.” 

“Tapi, Yah, bukankah lebih baik menjilbabi hati dulu, lalu memperbaiki akhlak, baru kemudian memakai jilbab?” Kakak saya bertanya. 

Ayah saya menggeleng dan kembali menjelaskan, “Jilbab dan akhlak pemakainya itu dua hal yang berbeda. Satu dan yang lainnya tidak saling bersentuhan langsung. Memakai jilbab dan menutup aurat adalah satu kewajiban. Sedangkan memperbaiki akhlak adalah kewajiban yang lain.” 

“Tapi, aku takut kalau memakai jilbab sekarang, tapi kelakuanku belum bagus, Yah. Nggak enak dilihat orang.” 

“Kalau begitu, segera perbaiki akhlakmu sesaat setelah memakai jilbab. Lakukan keduanya beriringan. Bukan satu per satu. Bukan menunggu sikap dan perilaku sempurna, baru memakai jilbab hingga paripurna. Tidak demikian!” 

Kakak saya manut. Ayah saya selalu benar. Ia kepala keluarga dan nakhoda keluarga kami. Maka ketika ia sudah memberikan mandat demikian, semua yang ada, harus mendukung, mengiyakan, lalu melaksanakan. Toh, apa yang ia sampaikan adalah baik dan benar. Nggak ada yang salah. 

Nah, ketika kakak saya sudah memakai jilbab dengan rapi, ajaibnya, ia menjadi lebih cantik dan enak dipandang. Rambut keriting nggak karuannya itu tertutup rapi, jerawat dan muka berminyaknya agak sedikit terlindungi, dan sebagainya. Kakak saya berubah. Sungguh! Saya sendiri tidak menyangka bisa demikian. Apalagi, ia cukup kreatf. Pintar sekali memodifikasi jilbabnya menjadi lebih beda dibandingkan yang lain, lebih anggun, dan tentu saja membuatnya lebih enak dipandang. 

Hingga tak sampai bertahun-tahun menyendiri, seorang lelaki yang di mata saya cukup tampan, mulai mendekati. Mereka sempat menjalin hubungan bernama pacaran. Lalu ketika lulus dari SMA, Ayah saja memutuskan agar mereka segera menikah saja. Pacaran itu tidak baik, nggak ada gunanya, ngabisin uang dan waktu. Serta yang paling mengerikan, pacaran adalah kubangan dosa dan kemaksiatan. 

Kakak saya akhirnya menikah di usianya yang masih 18 tahun. Masih sangat belia. Ia memulai keluarganya dari nol. Nggak punya apa-apa. Saya ingat betul, dulu, setiap kali ke rumahnya yang hanya sepetak, dan setiap kali saya disuruh makan, maka saya hanya mendapati di meja makannya hanya ada nasi dan tumis kacang panjang saja. 

“Mana lauknya, mbak?” 

“Nggak ada, cuma itu. Makan saja. Enak kok!” 

Saya kemudian, demi menghormatinya, akhirnya makan. Nggak banyak. Paling hanya satu dua suap saja. Cukup. Saya memang nggak bisa lahap jika hanya nasi dan sayur saja. Harus ada lauk pauknya. Sesimpel-simpelnya ikan asin. 

Sekarang, pelan tapi pasti, mereka sudah hidup lebih mandiri. Jauh berbeda dibandingkan dahulu. Kehidupan mereka sudah mapan dan enak. Selalu ada hidangan yang menggugah selera setiap kali saya mampir kesana. Mereka bahkan sudah punya tiga hektar tanah, berhasil membeli pekarangan rumah, dan sudah memilik kendaraan roda empat yang tidak pernah mereka sangka-sangka. 

“Hidup itu, kalau dijalankan dengan sepenuh hati dan bersyukur, maka rejeki yang nggak pernah kita duga pasti datang sendiri, kok. Nggak usah takut. Lakukan apa yang menurutmu baik, berusaha maksimal, berdoa, dan yang terakhir, jangan lupa bertawakal kepada Allah.” pungkasnya. 

4 komentar

avatar

Iya Bang, rejeki, jodoh, maut, sudah diatur ya. ^^

avatar

Alloh akan menambah nikmat orang-orang yang pandai bersyukur, Ya Bang Syaiha :)

Semoga kita semua termasuk dalam golongan tersebut. Aamiin


EmoticonEmoticon