Like Fanpage Bang Syaiha

Cuma Karena Dua Rebu Perak

By Bang Syaiha | Wednesday, 25 January 2017 | Kategori:

Hari ini, saya mendapatkan konsumen yang bawelnya na'udzubillah. Nggak ketulungan pokoknya. Saya aja sampai geleng-geleng kepala karenanya. Hanya saja, karena dia adalah konsumen saya, maka saya harus menghadapinya dengan sabar, tenang, dan sebisa mungkin berkata sopan, "Maafkan kami jika dalam pelayanan ada yang tidak berkenan." 

Konsumen adalah raja. Serumit apapun dia, maka saya harus sabar. Harus bersikap sebaik mungkin kepadanya. Agar apa? Supaya ia tidak kapok berbelanja lagi ke saya.  

Jadi ceritanya, dia berniat membeli barang dagangan saya di internet dalam jumlah sekian unit. Lalu, customer service saya melakukan totalan, menjumlahkan semua uang yang harus konsumen transfer. Terdiri dari harga barang dan ongkos kirim yang harus ditanggung. 

Si konsumen menyepakati dan tanpa basa-basi mengirimkan sejumlah uang itu. 

Nah, masalahnya, jumlah yang ia kirimkan ternyata lebih dari totalan yang sudah ditotal customer service saya. Padahal lebihnya nggak banyak, cuma Rp1850 saja. Nggak sampai dua rebu perak. Tapi herannya, itu konsumen nelponin dan marah-marah. 

Ia memaksa CS saya mengembalikan uang itu lewat transfer bank. Lah emang bisa cuma transfer dua rebu perak? Kalaupun bisa, dia sendiri juga banknya beda, saya pasti bakal kena charge Rp6500. 

CS saya berkata, nanti uangnya akan diselipkan di paket yang kami kirim. Eh, si konsumen tetap saja nelpon sampai puluhan kali. Ketika diangkat, dia ngomel-ngomel. Padahal yang salah transfer juga dia. Dia meminta segera dikembalikan lewat trasfer bank karena dia ada keperluan lain yang mendesak. Duh. 

CS saya melaporkan semua ke saya, "Bang Syaiha, ini ada konsumen aneh nih. Cuma karena Rp1850 saja, ia nelponin saya sampai puluhan kali dan marah-marah."

"Kenapa dia sampai salah transfer?" 

"Nggak tahu, Bang. Padahal dia pakai telkomsel, nelponin saya ke indosat. Lama lagi. Itu aja pasti udah habis lebih dari lima rebuan cuma untuk ngurusin dua rebu perak." 

"Bilang aja uangnya akan diselipkan di paket yang akan kita kirim. Bilang ke bagian packing ya, jangan sampai lupa."

"Sudah, Bang. Sudah saya bilang gitu ke konsumen."

"Yasudah, kalau gitu, bilang gini aja, 'Uang akan kami selipkan di paket yang kami kirim. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya, Kak.' cukup."  

"Kalau dia masih telpon terus?"

"Nggak usah diangkat." 

Memang benar!

Sejak menjalani bisnis online beberapa bulan belakangan ini, saya banyak belajar tentang beberapa hal. Tentang bagaimana bersikap sabar dan selalu menempatkan diri di pihak yang salah, tentang bagaimana selalu ringan meminta maaf, dan mengucapkan terimakasih. 

Semuanya saya nikmati saja. Saya yakin, semua ini akan menjadi kenangan yang baik dan indah kelak. Saya percaya bahwa ini adalah proses yang harus saya jalanin dengan baik. 

Demikian.

1 komentar:

avatar

Waa ketemu konsumen yang bikin, naik darah pak :)


EmoticonEmoticon