Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika Harga BBM dan Listrik Naik Lagi

By Bang Syaiha | Friday, 6 January 2017 | Kategori:

Pagi ini, beberapa status teman saya di facebook mengeluhkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik yang kabarnya naik kembali. Mengenai hal ini, sejak dua bulanan yang lalu, sebenarnya saya sudah tahu. Nggak heran sih. Pasalnya, konon, pemerintah kan sedang berencana membangun ini dan itu, sehingga dana yang dibutuhkan pasti besar sekali. 

Bagaimana mendapatkan dana untuk mencapai semua yang sudah dicita-citakan tersebut?

Langkah paling mudah ya menaikkan barang-barang yang mereka 'jual' kepada rakyat. Tarif dasar listrik dinaikkan, harga BBM didongkrak, air juga demikian. Selanjutnya, karena barang-barang tersebut naik, maka kebutuhan pokok kita juga pasti naik. Nggak bisa tidak. 

Kalau kita protes ke pedagang di pasar, "Mang, kok harga cabe dan berasnya naik sih?" 

Maka si Mamang langganan kita akan berujar, "Yah, mau bagaimana lagi, Bu. Semuanya memang sedang naik. Cabe dan beras diangkut ke pasar ini kan juga pake BBM. BBM harganya tinggi, maka beras dan cabenya ya naik juga deh...." 

Kita rakyat yang hanya orang kecil ini hanya pasrah dan menerima saja, juga tentu sambil terus bekerja keras. Kita harus berpikir lebih kreatif agar penghasilan setiap bulan bisa bertambah. Di samping itu, kita pun harus lebih berhemat agar pendapatan yang tidak seberapa di awal bulan tidak segera habis dan kebingungan hendak makan apa. 

Sejak dulu toh buktinya kita selalu berhasil melewati segala rintangan dan hambatan. Ketika harga-harga naik, maka Allah pun mencukupkan apa yang kita butuhkan. Maka mari untuk terus optimis. Selalu ada jalan di setiap kesulitan. Selalu ada jalan di setiap kesulitan. Kalimat ini diulang dua kali di dalam Al Quran. Bukti bahwa Allah akan memberikan jalan keluar yang boleh jadi malah nggak pernah kita duga. 

Sedangkan untuk pemerintah, semoga mereka sadar bahwa hubungan mereka dengan kita, pejabat negara dengan rakyat jelata, seharusnya seperti orangtua dan anaknya. Pemerintah (baca: orangtua) selayaknya melindungi anaknya (baca: rakyat jelata).

Dan di dunia ini, mana ada orangtua yang melakukan hubungan jual beli demi keberlangsungan keluarganya. Nggak pernah ada, ketika orang tua membutuhkan dana, maka ia menerapkan sistem jual beli yang memberatkan buah hatinya. 

"Nak, karena Ayah dan Ibumu akan membangun rumah, maka setiap kali kamu makan nasi, kamu harus membayar sekian. Setiap kali kamu minum segelas air, kamu bayar sekian. Setiap kali kamu buang air, tidur, dan memakai sarana dan prasarana milik ayah dan ibu, maka kamu harus menyediakan uang sebagai pembayaran." 

"Tapi, Yah, Bu...." 

"Eits, nggak ada tapi-tapian. Ini demi keberlangsungan keluarga kita dan cita-cita bersama..." 

Nggak ada yang demikian! Selayaknya, sebagai orang tua, pasti ayah dan ibu akan berusaha sebaik mungkin agar cita-cita tercapai tanpa harus membebani anak-anaknya. Apalagi jika anak-anaknya pun tidak memiliki daya dan upaya yang kuat. 

Pemerintah seharusnya pun demikian. Jika ingin membangun ini dan itu, seharusnya, sebisa mungkin tidak membebani rakyat jelatanya. Kasihanilah saya yang tidak punya apa-apa. 

Demikian. 

3 komentar


EmoticonEmoticon