Like Fanpage Bang Syaiha

Tentang Si Bapak Pemulung Sampah

By Bang Syaiha | Friday, 20 January 2017 | Kategori:

Sepulang dari masjid tadi, saya melihat seorang bapak sedang sibuk mengacak-ngacak tempat sampah. Ia berpakaian lusuh, bertopi kumuh, memikul sebuah karung beras bekas. Saya lihat sekilas, di dalam karung itu ada beberapa lembar kardus, botol-botol bekas minuman ringan dan entah apa lagi. 

Ia melihat saya melintas, lalu saya tersenyum tulus kepadanya. 

Saya sapa ringan, "Assalamu'alaikum, Pak."

Ia menjawab, "Wa'alaikumsalam.."

Tak lama kemudian, ia sudah kembali melanjutkan aktivitasnya, sedangkan saya terus berjalan menuju rumah kontrakan. Sesampainya di halaman, saya tidak langsung masuk ke dalam. Duduk sejenak di pelataran kontrakan, lalu merenung. 

Kejadian seperti itu, melihat orang-orang mengais rejeki, sering kali saya lihat setiap hari. Kadang saya menyaksikan, ada seorang yang bersemangat sekali menggotong kursi rotan yang besar untuk ditawarkan ke orang-orang. Atau, kadang ada juga seorang bapak yang menjajakan keset pembersih kaki, membawa remot televisi, atau apa sajalah. 

Melihat mereka demikian, ingin sekali rasanya saya sujud, meletakkan kening saya ke tanah dan berkata, "Termakasih ya Allah, atas semua kemudahan yang Engkau berikan kepada hamba dalam mendapatkan rejeki setiap hari." 

Benar!

Saya (juga anda yang membaca tulisan ringan ini), selayaknya bersyukur karena ternyata, kalau mau melihat lebih jelas dan tenang, masih banyak sekali loh orang-orang yang kurang beruntung. Masih banyak orang yang tidak semudah kita dalam mendapatkan penghasilan. 

Bapak penjual kursi rotan itu misalnya. Dagangannya cuma satu. Besar dan berat. Harganya juga pasti mahal. Ia gotong kemana-mana dan ditawarkan kepada siapa saja. Lah, kursi rotan itu kan bukan barang yang dibutuhkan setiap hari. Repeat ordernya rendah. Orang yang sudah memiliki kursi di rumah, kecil sekali kemungkinannya untuk beli. Kecuali beberapa tahun lagi. 

Tapi si Bapak tetap saja bersemangat jalan kaki, menawarkan kesana-sini. Lalu, ketika saya tanyakan kepadanya tentang yang ia kerjakan, ia bilang ringan sekali, "Alhamdulillah, mas. Ada aja mah kalau rejeki." 

Ya Rabbi...

Hebat sekali tawakkalnya kepada Allah. Kalau rejeki nggak akan kemana, mungkin itu maksudnya. Ia hanya menjalankan kewajibannya saja, bekerja keras, ikhlas. Selanjutnya, ia serahkan kepada Allah. 

Semoga catatan ringan ini berguna. 

1 komentar:

avatar

Subhanalloh. Benar Bang, rejeki sudah tahu alamat kita kok, tinggal kita menjalankan kewajiban, tawakkal pada Alloh.

Terimakasih postingan yang bermanfaat ini :)


EmoticonEmoticon