Like Fanpage Bang Syaiha

Arahkan Anak-Anak di Masjid dengan Cara yang Baik

By Bang Syaiha | Friday, 17 March 2017 | Kategori: |

Suatu hari saya shalat ke masjid mengajak anak saya, Alif. Dia anak lelaki, punya kewajiban untuk senantiasa melaksanakan shalat lima waktu di masjid. Maka membiasakannya sejak usia dini, adalah kebutuhan. Nah, karena hal inilah, maka setiap kali hendak masuk waktu shalat, saya ajak ia untuk berwudhu, lalu mendandaninya dengan kostum yang menutup aurat, dan mengajaknya ke sana. 

Beruntungnya, kadang malah Alif yang sudah teriak-teriak duluan ingin ke masjid menjelang waktu shalat. 

Di masjid, saya selalu memposisikan Alif di samping saya. Di pojokan. Sehingga pada posisi ini, ia tidak berada di tengah orang-orang dewasa   karena biasanya ada yang menegur kalau ada anak-anak yang berada di tengah shaf shalat orang dewasa. 

Alif anak yang baik, tidak pernah ribut di masjid. Dan ketika imam shalat, ia juga mengikuti gerakan saya. Tidak berlarian kesana-kemari. Intinya, selama ini tidak ada yang salah dengannya. Alhamdulillah...

Hingga pada hari itu.... Entah apa masalahnya...

....ada seorang imam yang kemudian menunjuk-nunjuk anak saya, Alif, dengan telunjuknya dan berkata, "Itu anak-anak di belakang. Jangan di shaf orang dewasa. Anak-anak itu belum punya kewajiban shalat, jadi biarkan di belakang saja. Daripada di depan dan malah mengganggu kekhusyukan shalat kita." 

Mendengar itu, anak saya beringsut. Maklum, di rumah, ia selalu dididik dengan kasih sayang. Dibina dengan kelembutan dan cinta yang dalam dari saya dan istri. Lagian, anak saya masih dua tahun kurang waktu itu, sehingga seharusnya, menurut saya, ia berada di samping orang tuanya agar bisa dijaga dan tidak kemana-mana. 

Tapi ketika ia ditegur demikian, ia menjadi seperti kerupuk yang tercelup air. Mengkerut. 

Sehingga kemudian saya ajak ia ke belakang dan menemaninya di belakang. 

***** 

Teman-teman yang baik.... yang kebetulan membaca dan mampir kesini, ketahuilah, sebagai orang tua, saya agak tersinggung anak saya dibegitukan. 

Karena saya sadar. Paham betul bahwa perlakuan yang kurang mengenakkan, akan membekas pada diri anak saya dan boleh jadi malah kebawa sampai ia dewasa. Apa jadinya, kalau kemudian, di alam bawah sadarnya, tertanam kalimat begini: "Masjid adalah tempat yang tidak mengenakkan. Aku pernah dimarahi disana. Aku pernah dibentak-bentak. Kalau begitu, aku malas ke masjid!" 

Kan bahaya.... Kita menginginkan generasi kita rajin ke masjid, malah tanpa sadar, boleh jadi kitalah yang menyebabkan mereka jauh dari rumah Allah itu. 

Bisa jadi, anak-anak muda jaman sekarang enggan ke masjid juga karena hal ini kan? Waktu kecil ia sering dimarah dan dibentak, sehingga tertanam kuatlah di dalam pikirannya, masjid adalah tempat yang horor. Bukan tempatnya dia. 
.
.
.
.
Selanjutnya, yang saya komentari adalah asumsi bahwa kalau anak-anak ribut, maka akan mengganggu kekhusyukan. 

Begini...

Dulu, di jaman nabi, beberapa kali cucu beliau, Hasan dan Husein, bermain-main ketika beliau sedang shalat. Malah suatu kali, cucu-cucu yang menggemaskan ini menaiki punggung Rasulullah sehingga beliau lama membiarkan cucunya puas bermain disana. Lalu, setelah salam, ada sahabat yang bertanya, "Mengapa engkau lama sekali sujudnya ya Rasul? Apakah ada wahyu yang turun?" 

Rasul bilang saja, bahwa ketika sujud tadi, Hasan dan Husein menaiki punggungnya sehingga ia tidak bisa langsung bangkit. 

Darisini saja kita bisa ketahui, betapa Rasulullah sadar, bahwa anak kecil seharusnya dibuat betah di masjid. Orang tua mengarahkannya dengan baik. Tapi tidak dibentak, tidak dihardik, apalagi dimarahi. Anak-anak sama sekali tidak mengganggu kekhusyukan kita ketika shalat. 

Khusyuk itu kan bukan berarti kita tidak mendengar apapun kecuali bacaan imam saja. Buktinya, nabi kan pernah bilang, "Kalau ada anak yang menangis, maka cepatkan bacaan shalat. Jangan yang panjang-panjang." 

Bahkan guru saya pernah berkata, "Kalau lagi shalat dan ngeliat sendal, tas, atau barang kalian diambil, segera kejar dan hajar tuh orang." 

Artinya apa? 

Khusyuk   boleh jadi   bukan tidak mendengar apapun sama sekali. Bukan tidak melihat apapun sama sekali. Khusyuk bukan seperti kalian berada di ruang yang luas dan kosong. Yang isinya hanya kalian sendiri. Bukan demikian. 

Jadi, anak-anak ke masjid lalu agak sedikit ribut, wajar saja sih. Nggak usah dilebay-lebaykan. 

Benar bahwa orang dewasa harus mengarahkannya, tapi dengan cara yang baik. 

Demikian. 

1 komentar:


EmoticonEmoticon