Like Fanpage Bang Syaiha

Pagi-Pagi Buta Sudah Rapi

By Bang Syaiha | Wednesday, 8 March 2017 | Kategori:

Jam di laptop saya menunjukkan angka 03.59 WIB. Masih sangat pagi dan saya sudah rapi sekali. Memakai kemeja marun kesayangan dan celana bahan berwarna hitam. Rambut sudah diminyaki dan disisir klimis. Ketika tadi mematut-matut diri di depan cermin, saya teringat beberapa tahun lalu, ketika saya baru saja lulus dari perguruan tinggi. 

Kala itu, saya sering kali begini. Pagi-pagi sudah rapi dan hendak pergi ke Jakarta, Sukabumi, atau kemana saja. Sesuai panggilan. 

Eitsss... Bukan lelaki panggilan ya maksudnya. Juga bukan hendak mengisi pelatihan. Tapi, ketika saya baru saja keluar dari perguruan tinggi itu, semangat sekali saya mengirimkan surat lamaran kerja kemana-mana. 

Pokoknya, dimana ada lowongan pekerjaan, kesanalah surat saya layangkan. 

Maka nggak heran kalau hampir setiap hari, saya dipanggil untuk memenuhi entah itu tes akademik, psikotest, atau wawancara. Dan demi memenuhi semua itu, pagi-pagi sekali saya sudah rapi begini. Semangatnya tinggi. Ada harapan yang membuncah keluar. Menelpon Mamak di kampung, meminta doa restu dan dukungan. 

Yah, walau pada ujungnya, saya selalu ditolak pada tahapan akhir seleksi kerja. Akademik dan psikotest nggak pernah bermasalah. Selalu menjadi yang terbaik pertama atau kedua. Cuma ketika wawancara saja, saat calon atasan saya melihat saya masuk ke ruangan dengan langkah yang tidak normal, ia kemudian bilang: 

"Wah, maaf sebelumnya. Kami tidak tahu kalau mas punya kekurangan begini." diam sejenak. "Bagaimana yaaa..." ia seperti hendak menyampaikan sesuatu yang tidak mengenakkan saya. "Padahal secara akademik dan psikotest, nilai mas bagus. Bahkan paling tinggi di antara yang lainnya. Hanya saja, staff yang kami butuhkan adalah mereka yang cekatan dan bisa melakukan mobilitas dalam waktu yang cepat. Jadi, sepertinya kami belum bisa menerima, mas. Mohon maaf yaaa..." 

Saya mau bilang apa kalau sudah dibegitukan? Mau protes dan marah-marah? Nggak mungkin toh? 

Maka saya hanya bisa mengangguk. Mengucapkann terimakasih dan menjabat tangan mereka, calon atasan saya, satu demi satu. 

Singkatnya, saya memang tidak pernah diterima kerja di industri pangan, sesuai dengan basic pendidikan saya di IPB. Tapi Allah itu maha hebat dan adil memang. Walau tidak bekerja di mereka, Alhamdulillah rejeki saya juga nggak pernah berhenti. Mengalir saja seperti aliran sungai yang nggak ada sampahnya. Lancar jaya!

Saya tidak pernah meminta-minta. Bahkan kepada orangtua juga saya enggan dan segan. Masa sudah di sekolahkan tinggi-tinggi masih minta juga? 

Saya harus mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri. 

Tidak diterima di industri pangan. Allah menunjukkan jalan rejekinya kepada saya dengan mengarahkan saya menjadi seorang pendidik. Guru. 

Saya mengajar di pedalaman Kalimantan, dilanjutkan mengajar di sekolahnya Dompet Dhuafa. Dan sekarang, saya merintis sebuah lembaga pendidikan non formal, bernama Rumah Muda Indonesia. Di dalamnya, saya mengajak pemuda-pemuda yang putus sekolah untuk dibina agar memiliki keterampilan bisnis online dan mandiri. Agar mereka, walau hanya memiliki ijazah SMA, tapi bisa mendapatkan penghasilan yang banyak dan berkah. 

Selanjutnya, jika sudah demikian, maka harapan saya, mereka juga akan membantu orang lain yang membutuhkan. 

Nah, pagi ini, ketika dini hari saya sudah rapi, saya teringat itu semua. Tentang perjalanan saya yang kesusahan mendapatkan pekerjaan. Ditolak kesana-kemari. Tapi saya pun menyadari bahwa itu adalah takdir Allah yang memang diberikan ke saya demikian adanya. 

Saya semakin yakin bahwa rejeki sudah ada yang mengaturnya sedemikian rupa sehingga mustahil ada yang tertukar. Saya sudah mendapatkan pekerjaan, tapi tidak bermasalah dengan penghasilan. 

Sekali lagi, Allah maha adil dan hebat. 

Demikian. 

1 komentar:

avatar

semoga lekas mendapatkan pekerjaan yang halal


EmoticonEmoticon