Like Fanpage Bang Syaiha

Memaknai Kalimat Rejeki Sudah Dijamin Allah

By Bang Syaiha | Wednesday, 26 April 2017 | Kategori:


"Rejeki itu udah dijamin sama Allah, jadi nggak usah kuatir." kata salah satu siswa Rumah Muda yang saya bina, kemarin. Saya tentu saja membenarkan kalimatnya. Karena memang begitu adanya, rejeki kita masing-masing sudah dijamin oleh Allah, ada. Maka jangan resah, apalagi gelisah. Takut nggak makan. Kuatir mati kelaparan.

Padahal, kalau kita berbuat sesuatu yang baik dan mengarah kepada pencarian nafkah, maka pasti ada aja kok yang akan kita bawa pulang untuk dimakan. Yang penting jangan malas dan jangan hanya berpangku tangan. Bahkan, berdoa saja di masjid meminta rejeki yang banyak tanpa mau bekerja pun adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Makanya, kita dianjurkan menjemput rejeki, bukan mencari rejeki, kan?

Bedanya apa?

Begini... kita ambil contoh dengan kasus jodoh aja yaa...

Misalkan ada orang yang bilang, "Eh, aku pergi dulu ya. Mau ke alun-alun kota." Lalu ada temannya yang bertanya, "Mau ngapain kesana?"

Orang yang pertama tadi menjawab, "Mau menjemput calon istriku. Kebetulan udah janjian disana."

Nah, kalau kalimat yang dipakai adalah menjemput, maka ia sudah pasti ada toh? Bukan sebuah hal yang masih nggak jelas. Tapi sudah nyata ada dan kita tinggal mengambilnya saja.

Berbeda jika begini... "Mau ngapain kesana, Bro?"

"Mau cari calon istri. Barangkali ada yang nyangkut."

Dikiranya layangan kali ya? Nyangkut... Dan lagi, masa cari jodoh di alun-alun kota. Katanya mau dapat istri sholihah. Nyarinya jangan di alun-alun dong. Tapi di masjid-masjid, di pengajian-pengajian, atau minta ke ustad yang ada di sekitar rumahmu. Barangkali ada perempuan baik-baik yang sudah menunggu minta dicarikan lelaki yang siap menikah.

Oke, balik ke masalah rejeki...

Kasus kedua, si calon istri belum ada. Masih nggak jelas wujudnya. Jadi, beda sekali kan maknanya kalau pakai kata menjemput dan mencari? Menjemput berarti sudah ada dan tinggal kita ambil saja. Sedangkan mencari, barangnya berarti belum ada dan entah akan dapat atau malah sia-sia.

Kalau rejeki, kita pakai kata yang menjemput rejeki. Karena memang, Allah sudah menyediakan rejeki kita masing-masing. Jumlahnya aja yang belum jelas berapa.

Tapi itu nggak penting. Karena ada hukum sunnatullah. Sebab akibat. Artinya, kalau semakin sering kita menjemput rejeki kita, maka yang kita dapatkan juga akan semakin banyak. Sebaliknya, kalau kita malas dan jarang menjemput rejeki kita, maka hasil yang didapatkan semakin sedikit.

Kalimat di awal tulisan ini, "Rejeki itu udah dijamin sama Allah, jadi nggak usah kuatir." adalah kalimat yang, sekali lagi, benar adanya. Hanya saja, saya kuatir salah diartikan.

Orang-orang yang malas, biasanya akan memaknai kalimat itu untuk membenarkan kemalasannya. Misalnya, ada si pemalas yang enggan bekerja. Ketika ditanya orangtuanya, "Kamu kok kerjanya tidur-tiduran aja sih! Mbok yo kerja to. Cari uang yang banyak biar hidupmu enak."

Si anak yang memang dasarnya pemalas, akhirnya berucap, "Tenang aja loh, Mak. Rejeki kan udah dijamin sama Allah. Kita nggak usah ngotot cari kesana-kemari. Kalau memang rejeki kita, kan nggak akan kemana-mana toh. Nggak akan ketukar sama rejeki orang lain."

Tuh, kan... Salah kalau demikian...

Kalimat di awal tulisan ini, "Rejeki itu udah dijamin sama Allah, jadi nggak usah kuatir.", sejatinya diperuntukkan untuk orang-orang rajin yang sudah maksimal bekerja.

Ketika mereka sudah mengerahkan segala kemampuan untuk menjemput rejekinya, mereka kemudian berucap, "Alhamdulillah. Saya sudah melakukan yang terbaik. Sekarang tinggal menunggu hasilnya saja. Nggak perlu cemas, karena rejeki sudah dijamin Allah. Tugasku adalah memastikan tindakan yang kulakukan benar. Selanjutnya biar Allah saja yang menentukan akan bagaimana ujungnya."

Kalimat yang digunakan sama, tapi berbeda sekali maknanya kan? Kasus pertama, petuah rejeki sudah dijamin Allah, digunakan untuk tameng kemalasan. Sedangkan di kejadian kedua, petuah rejeki sudah dijamin Allah dipakai untuk tawakkal kepada Allah. Berserah diri kepada Allah setelah melakukan yang terbaik dalam kehidupannya.

Demikianlah, semoga kita bisa menggunakan petuah bijak di atas dengan benar dan bukan malah dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Semoga berguna. 

1 komentar:

avatar

Bener banget bang, kalimat itu adalah senjata pamungkas bagi orang yang sudah maksimal berusaha. Tak akan ada kecewa jka rejeki yang diperoleh tak sesuai harapan. Karena yakin Allah sudah menjamin rejeki kita.


EmoticonEmoticon