Like Fanpage Bang Syaiha

Percaya atau Tidak, Saya Pernah Hendak Didaftarkan untuk Ikut Body Contestnya L-Men

By Bang Syaiha | Thursday, 6 April 2017 | Kategori:


Kemarin sore, selepas beraktivitas di Rumah Muda Indonesia, saya memutuskan untuk kembali ngegym. Saya merasa tubuh saya kian berat dan bulat, padahal kaki saya kan cuma satu yang berfungsi, akibatnya saya merasa mudah kelelahan dan agak kesulitan bergerak lebih cepat. 

Selain itu, saya meyakini bahwa kalau kelebihan berat badan juga berpeluang terkena banyak penyakit yang berbahaya, sehingga tidak ada cara lain kecuali kembali menjaga makanan dan rajin ngegym seperti dulu lagi, ketika saya masih kuliah. 

Tahun 2008 adalah pertama kalinya saya ikut fitness. Pada tahun itu, ayah saya meninggal karena diabetes dan saya mendapatkan saran dari dokter untuk menjaga makanan dan rajin olahraga. Nah, karena saya nggak bisa lari   kaki kanan saya polio dan tidak bisa digerakkan, maka akhirnya saya memilih olahraga angkat beban atau fitness dan berenang saja. 

Saya ingat betul, ketika itu, dengan diet yang super ketat, dalam seminggu latihan pertama saja, saya bisa menurunkan 4 kg berat badan saya. 

Tapi ya memang benar, bahwa yang saya lakukan juga bisa dibilang gila. Saya puasa Daud, sehari puasa, sehari tidak. Lalu fitnessnya juga demikian. Sehari latihan habis-habisan, sehari istirahat. Makanan saya juga dikurangi, tidak mengkonsumsi gula, nggak makan di atas jam 7 malam. Lalu ketika lapar, yang saya lakukan adalah merebus kacang hijau dan mengkonsumsinya begitu saja. Tanpa tambahan apapun. 

Atau, kalau ingin cepat, saya merebus telur dua atau tiga butir dan memakannya. 

Proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Itulah yang saya rasakan. Karena setelah beberapa bulan latihan, tubuh saya menjadi keren bukan main. Ini sungguhan. Pelatih saya ketika itu, bahkan meminta saya secara khusus untuk ikut body contest nya L-Men tapi saya menolak. 

"Kenapa nggak mau ikutan sih, mas?" kata instruktur saya. 

"Kan kaki saya pincang, pak. Mana bisa!"

"Bisa. Soalnya body contest nya L-Men itu kan hanya pinggang ke atas aja yang dinilai!" 

Tetap saja saya menolak. Apa jadinya nanti? Ketika itu saya masih kuliah dan aktif di lembaga dakwah kampus. Masa saya harus poto-poto bertelanjang dada dan memamerkan otot-otot di sekitar perut, dada, dan lengan. Bisa berabe. 

Maka saya memang tidak jadi ikutan. Lebih suka workout saja di gym dan berkeringat. 

Setelah 3 tahun lebih latihan, saya berhenti karena harus tugas ke pedalaman Kalimantan. Disana saya memang tidak ngegym lagi. Lah wong saya di tengah hutan. Mana ada tempat fitness! 

Saya hanya sering push up saja. Sehari bisa 100 kali atau lebih, tapi dicicil. Tiga puluhan sekali push up. Istirahat sebentar, lalu lanjut lagi hingga sampai 100 kali atau lebih. 

Tapi karena push up tidak seberat fitness, juga karena kalori yang terbakar juga nggak sebanyak fitness, maka tubuh saya mulai naik. Apalagi, di pedalaman Kalimantan saya sering diundang kesana-kemari, makan sudah pasti, jadilah tubuh saya, perlahan tapi pasti mengalami pembengkakan   gendut. 

Setahun di Kalimantan berat badan saya naik 5 kg. Ini naiknya sedikit karena saya tetap, sebisa mungkin, menjaga makanan dan olahraga ringan. 

Parahnya adalah ketika sudah menikah dan bekerja. Berat badan saya naik terus. Hingga kemarin sore, ketika saya hendak berolahraga, saya menimbang dan mendapatkan berat tubuh saya adalah 75 kg lebih. 

Wuidih. 

Belum obesitas, tapi sudah gendut. Dulu, ketika masih fitness, berat badan saya 60 kg. Jadi sekarang, mau tidak mau, saya harus bisa mengembalikannya kembali kesana. 

Bisakah? Tentu saja bisa, asal disiplin dan menjaga asupan nutrisi yang masuk.

Doakan ya...

5 komentar

avatar

Jadi pengen fitness hehe

avatar

Semangat hidup sehat bang syaiha...

avatar

Weehh.. Patut ditiru nih bang syaiha.. Hehee...
Push up 20 kali shari aja dah kelenger, apalagi 100...hahahah


EmoticonEmoticon