Like Fanpage Bang Syaiha

Kaya di Dunia, Mendapatkan Surga di Akhirat

By Bang Syaiha | Tuesday, 9 May 2017 | Kategori: |

Kaya di Dunia, Mendapatkan Surga di Akhirat
Jadilah Kaya
Ada kalimat yang sering saya dengar, begini, "Sebagai orang Islam yang beriman, jangan bercita-cita jadi orang kaya deh. Apa pasal? Karena nanti di hari pembalasan, proses hisabnya    menghitung amal baik dan buruknya    lama." 

Sebenarnya ya wajar saja jika orang kaya akan lama dihisab di yaumil akhir kelak. Karena orang kaya itu punya harta. Dan harta itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Darimana ia mendapatkannya? Menggunakan cara yang halal atau malah serampangan? Kemudian, setelah harta diperolehnya, ia belanjakan untuk apa? 

Orang-orang kaya, proses hisabnya lama. Wajar.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah proses hisab yang lama di yaumil akhir identik dengan bakalan masuk neraka? 

Oh, tentu saja tidak. 

Orang kaya hisabnya lama, itu memang benar. Tapi kalau ia lolos proses hisab itu dengan baik, maka ia akan masuk ke surganya Allah juga. Bahkan karena ia di dunia kaya raya, maka pastilah sedekahnya lebih banyak dan ia bisa mendapatkan surga yang lebih mulia. 

...benar juga, bahwa, jika ia terbukti melakukan penyelewengan terhadap harta yang dimilikinya   dan sebagian besar orang kaya memang demikian, maka ia akan masuk ke dalam neraka dan   boleh jadi malah   akan kekal di dalamnya. 

Sedangkan orang yang tidak punya harta banyak    sebut saja orang miskin    proses hisabnya jauh lebih sebentar karena memang ia tidak harus mempertanggungjawabkan harta miliknya. Karena tidak ada. Kalaupun ada, paling tidak seberapa. Jadi wajar jika proses hisabnya sebentar saja. 

Lalu pertanyaannya adalah, apakah orang-orang yang miskin itu, yang hisabnya sebentar sudah pasti masuk ke dalam surga? 

Oh, belum tentu. 

Kalau dia miskin lalu karena kemiskinannya itu ia menjadi kufur, sering mengeluh dan menyalahkan Allah, melakukan perbuatan yang tidak baik seperti mencuri, mencopet, atau maksiat yang lain, maka ia akan masuk ke neraka dong. Dan di kehidupan nyata kita kan memang demikian, kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran. Mudah tergoda. Mudah menggadaikan iman dan takwanya. 

....jika demikian, maka ia, di dunia hidup melarat, di akhirat mendapat laknat. Sengsaranya kuadrat. 

Tapi jika ia, walau dalam keadaan miskin tetap bisa berbaik sangka kepada Allah, tetap bersyukur dan bersabar, maka ia mendapatkan surga. Sama seperti orang kaya yang beriman dan ada takwa di dadanya. 

Jadi sebenarnya, dari penjalasan di atas, masalah utamanya adalah, bukan terletak pada kaya atau miskinnya seseorang, dong? Tapi lebih kepada iman atau tidaknya ia. Kalau jadi kaya, jadilah orang kaya yang beriman. Kalau ditakdirkan miskin, maka tetaplah tersenyum, husnuzdon kepada Allah, bahwa itu adalah yang terbaik darinya. Tetap sabar dan syukur. 

Nah, pertanyaannya, jika anda diminta memilih, mau masuk surga sebagai (1) orang kaya yang beriman dan bertakwa, atau, (2) orang miskin yang beriman dan bertakwa, anda akan pilih mana?

Kalau saya sih, pengennya yang pertama, sudah kaya di dunia, Alhamdulillah masuk surga juga. 

1 komentar:

avatar

Intinya jdilah mnusia yg taat pada Allah. Mau kaya atau miskin ttp jd hamba-Nya yg senantiasa beribadah dg baik sesuai ap yg di perintahkn.

Sy juga mau yg pertama ya Allah. Biar bisa bntu sodara2 sy yg kekurangan. InsyaAllah. Aamiin


EmoticonEmoticon