Like Fanpage Bang Syaiha

Ketika BBM dan Listrik Naik, Kita Bisa Apa? Pasrah dan Terima Saja!

By Bang Syaiha | Wednesday, 3 May 2017 | Kategori:

Ketika BBM dan Listrik Naik, Kita Bisa Apa? Pasrah dan Terima Saja!
Makan Bersama Keluarga
"Nak," seorang ayah berkata kepada anaknya di meja makan. Mereka sedang menikmati santap malam, sang ayah berujar demikian setelah memandang ke arah istrinya, meminta persetujuan dan mendapatkan anggukan pelan. 

"Iya, Yah. Ada apa?" sang anak menjawab tanpa pernah berpikir macam-macam. Di benaknya, kedua orangtuanya adalah orang paling baik sedunia. Orang yang selalu ada pada urutan pertama pada hal apapun. Dan dia juga percaya, bahwa orangtuanya pasti sangat menyayangi dirinya, rela melakukan apapun untuk dia. 

"Begini, Nak..." si ayah membenarkan posisi duduknya, siap mengutarakan apa yang menjadi uneg-unegnya beberapa hari ini, "Ayah dan Ibu berencana akan membangun sebuah rumah untuk kita. Untuk keluarga kita agar tidak pindah kesana-kemari lagi." 

...ceritanya, mereka masih mengontrak rumah milik orang lain. 

Demi mendengar hal hebat demikian, sang anak berseru, "Wah bagus sekali itu, Yah, Bu!" 

"Ayah dan Ibu juga ingin rumah kita itu nanti ada kolam renangnya, ada taman yang hijau dan enak dipandang." ayahnya terus menjelaskan detail rumah yang ingin mereka bangun. "Kalau kamu mau, kamu juga akan punya kamar sendiri. Di dalamnya ada televisi, play station kesukaanmu, dan apapun yang kamu inginkan."

"Aku mau, Yah. Aku mau...." 

"InsyaAllah kita bisa mewujudkannya segera, Nak. Asal kamu mau membantu Ayah dan Ibu."

"Bagaimana caranya, Yah?" 

Sang Ayah, lagi-lagi membenarkan posisi duduknya dan hendak mengutarakan sesuatu yang barangkali tidak mengenakkan untuk buah hatinya, "Begini Nak, untuk membuat itu semua menjadi nyata, kita butuh uang."

Ya, benar! Tentu saja!

"Lalu, untuk bisa segera mengumpulkan uang, maka mulai sekarang, setiap apa yang kamu makan dan pakai dari kamu, kamu harus bayar ya. Nggak mahal, kok. Ayah dan Ibu juga pasti yakin kamu bisa membayarnya." 

Kali ini, sang anak tersedak mendengar ucapan yang baru saja keluar dari lisan ayahnya. Kok ke orangtua sendiri harus bayar?

"Untuk sepiring nasi dan lauk pauknya, kamu harus bayar sepuluh ribu. Untuk mandi dan mencuci selama sebulan, kamu harus bayar seratus ribu. Untuk listrik cukup bantu dua puluh ribu sebulan." 

"Kenapa aku harus bayar itu semua, Yah? Itu kan seharusnya tanggung jawab ayah dan ibu. Aku bisa bantu dengan menabung dan menyisihkan uang jajan saja. Sepertinya cukup." 

"Mengapa harus demikian, Nak? Agar rencana yang kita inginkan di atas segera terwujud, Sayang." 

Maka, sejak saat itu, kesepakatan itu berjalan. Sang Anak, punya kewajiban lain selain belajar di Sekolah. Ia juga harus mencari uang pontang-panting untuk 'membayar' kebutuhan sehari-hari kepada orangtuanya. 

***** 

Pembaca yang budiman... 

Cerita di atas, tentu saja hanya fiktif saja. Nggak nyata dan nggak ada. Toh, mana ada orangtua yang tega berlaku demikian kepada anaknya, bukan? Orangtua itu, semiskin-miskinnya dia, selalu terus berusaha membuat anaknya suka dan nyaman. Apapun dilakukan untuk mereka, anak-anaknya. Bahkan jikapun harus menjual ginjal sekalipun, orangtua pasti ringan saja melaksanakan. 

Dulu saya berpikir hal yang sama juga kepada pemerintah dan rakyatnya. Pemerintah itu seperti orangtua kita, seharusnya. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik untuk keberlangsungan hidup kita rakyat yang tinggal di bawah kekuasaannya. Mana mungkin mereka berlaku sewenang-wenang kepada rakyat yang seharusnya mereka sejahterakan. 

...itu pemikiran saya dulu. 

Yang semakin kesini, kok semakin berubah dan malah berbalik. 

Sekarang, misalnya... Pemerintah dan rakyat bukan lagi seperti hubungan orangtua dan anaknya, tapi malah lebih seperti pedagang dan pembeli. Pemerintah seperti penjual Bensin dan bahan bakar lainnya, juga penjual arus listrik. Sedangkan kita rakyat kecil dan rakyat besar, adalah pembeli setia dan loyal dan nggak bisa kemana-mana lagi.

BBM, listrik, dan gas dibutuhkan rakyat dan berapapun harganya, mau tidak mau, pasti dibeli. Hingga kemudian, pemerintah, karena butuh dana besar untuk pembangunan, menaikkan harga semua bahan itu. 

Ketika kita protes dan minta jangan dinaikkan. Pemerintah dengan tenang bilang, "Kita membutuhkan dana banyak untuk pembangunan banyak hal. Jadi, terpaksa BBM, Listrik, dan sebentar lagi gas juga akan dinaikkan harganya. Semua ini demi kemajuan negara kita, kok!" 

Orang-orang kaya, barangkali tidak masalah dengan kenaikan BBM dan Listrik yang hanya beberapa ratus perak atau beberapa ribu saja. Tapi bagi mereka yang sehari-harinya nggak tau mau kerja apa, kenaikan se-sen saja pasti mencekiknya. 

Tapi ya, mereka bisa apa? Saya dan kalian bisa apa? Kalau pemerintah sudah memutuskan naik, ya naik saja. Tingga nunggu, beberapa hari kemudian, semua kebutuhan juga pasti akan naik juga. 

Kita, sekali lagi, bisa apa? 

Diam saja lah... Tinggal kerja, kerja, dan kerja saja!

Demikian. 


EmoticonEmoticon