Like Fanpage Bang Syaiha

Tangan Itu Tidak Akan Disentuh Api Neraka Selamanya

By Bang Syaiha | Monday, 29 May 2017 | Kategori: |


Tadi malam, sebelum tidur, saya membaca buku dan mendapati sebuah sejarah tentang nabi Muhammad SAW. Jadi, dari buku itu saya ketahui bahwa Rasulullah pernah mencium tangan seorang tukang batu yang ia temui di jalan menuju Madinah. Luar biasanya lagi, ternyata, sepanjang hidup Muhammad, beliau hanya menciup tangan orang lain sebanyak dua kali saja. Siapa saja mereka? Tangan putrinya, Fatimah, dan tangan si tukang batu yang ia temua di jalan ketika hendak pulang dari peperangan. 

Hari itu, Rasulullah dan sahabatnya hendak kembali ke Madinah dari perang Tabuk yang baru saja selesai. Secara kebetulan, di jalan ke Madinah, Rasulullah melihat seorang tukang batu yang tangannya hitam legam   terbakar sinar matahari, dan melepuh. Orang itu dihampiri Rasulullah, dan ditanyakan begini, "Ada apa dengan tanganmu?" 

“Wahai Rasulullah, saya bekerja membelah batu setiap harinya. Batu-batu itu kemudian saya jual ke pasar, uangnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar dan melepuh seperti ini.”

Mendengar jawaban demikian, sekonyong-konyong, Rasulullah meraih tangan itu dan menciumnya. Lalu bilang, "Ini adalah tangan, yang kelak tidak akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya." 

Allahu akbar!!

Apa yang bisa kita ambil dari kejadian super langka ini? Jarang-jarang kan, manusia yang paling agung, mencium tangan orang lain? Lalu ketika itu dilakukan, maka pasti ada hikmah yang besar di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk memberi pengajaran kepada umat Islam. Buat saya, buat anda, buat kita semua.

Nah, mari kita bahas apa hikmahnya... Mengapa Rasulullah sampai mencium tangan si tukang batu itu? Apa yang ingin diajarkannya? 

Pertama, bekerja demi menafkahi keluarga adalah ibadah yang pahalanya besar sekali asal dilakukan dengan ikhlas dan tidak curang. Berkeluarga itu butuh uang banyak loh. Kita harus mengusahakan agar dapur tetap ngebul, butuh uang buat sekolah anak-anak, buat beli rumah, buat jalan-jalan, buat berobat kalau sakit, dan masih banyak lagi. 

Uang tentu saja tidak mungkin datang sendiri. Harus diikhtiarkan, diusahakan dengan segenap tenaga dan upaya. Sehingga siapa saja yang melakukannya karena landasan iman dan takwa di dadanya, maka para pekerja yang demikian itu diganjar pahala. Rasul malah bilang, ada surga di depan sana. 

Kedua, dari peristiwa di atas, Rasulullah, mungkin, juga ingin mengajarkan bahwa umat Islam seharusnya bekerja keras. Kejar dunia untuk kepentingan akhirat. Jangan malas-malasan dan hanya berpangku tangan. Si tukang batu tadi adalah pekerja keras, buktinya tangannya hitam legam dan melepuh, bukti bahwa ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan tidak malas. 

Artinya apa? Kita umat Islam harus demikian. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Kejar karir yang baik. Kumpulkan harta dan kekayaan. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, setelah mendapatkannya, karir dan kekayaan itu, lalu jadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan ia sebagai sarana juga untuk senantiasa menebar manfaat kepada orang banyak. 

Hal demikian kan nggak mungkn bisa dilakukan oleh orang yang malas. Lah wong menghidupi dirinya saja kelabakan, bagaimana mungkin ia menjadi manfaat buat banyak orang toh

Dua hal ini adalah pelajaran penting yang bisa saya ambil dari kejadian yang sangat langka di atas. Semoga bermanfaat dan silakan tambahkan jika ada yang kurang. 

Demikian. 


EmoticonEmoticon